
"Na, kamu baik-baik saja?" tanya Yuki duduk di lantai, karena tempat tidur yang di gunakan Nana berupa busa inoac yang di letakkan di lantai. Yuki menatap Nana yang berselimutan tebal.
"Bu, Pak." Nana ingin bangun dari tidurnya tapi di cegah oleh Yuki.
"Tiduran saja tidak usah di paksakan," ucap Yuki pada Nana.
"Saya baik-baik saja kok," jawab Nana sok kuat padahal badannya terasa lemas dan rasa mual masih bergejolak di perutnya.
"Ke dokter ya. Sepertinya sakitmu parah," ucap Yuki.
"Tidak perlu, Bu, besok juga sembuh," tolak Nana.
"Kamu yakin, Na?" Fahri menyahuti.
"Iya, Pak. Ini sudah agak mendingan kok setelah di pijat Mbak Opi," jawab Nana sambil tersenyum tipis, membuktikan jika dirinya hanya meriang biasa.
"Bandel kamu, Na. Nanti kalau besok belum ada perubahan segera kasih tahu kami ya," ucap Yuki seraya beranjak dari duduknya.
"Iya, Bu, Pak, terima kasih atas perhatiannya," jawab Nana.
Yuki dan Fahri sudah keluar dari kamarnya, lalu Nana kembali merebahkan diri setelah menutup pintu kamarnya. Dia bernafas lega, lalu ingin memejamkan kedua matanya akan tetapi ponselnya bergetar pendek bertanda jika ada pesan masuk.
__ADS_1
Nana segera meraih ponselnya yang ada di bawah bantalnya, membuka ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari Haidar dan David bersamaan.
"Kamu baik-baik saja, Na? Aku mengkhawatirkanmu." pesan Haidar.
Ck!
Nana berdecak kesal, dia tidak membalas pesan tersebut akan tetapi langsung memblokir nomor WA pria yang sudah menggoreskan luka di hatinya.
Kemudian Nana beralih membuka pesan dari David. "Na, aku punya berita bagus untukmu. Kamu mau kejar paket B dan C? meneruskan pendidikanmu?" pesan David.
Nana berpikir sejenak, kemudian ia membalas pesan David. "Apakah bisa, Mas?" balas Nana.
"Tentu saja bisa. Kamu adalah gadis yang cerdas, Na. Kamu harus menjadi wanita yang berpendidikan, agar kamu bisa tidak di pandang sebelah mata. Dan tidak mungkin seumur hidupmu bekerja menjadi pembantu," balas David.
"Aku mau, Mas. Tapi, mahal tidak?"
"Masalah biaya tidak perlu kamu pikirkan. Kamu hanya perlu menyiapkan berkas-berkasmu saja," balas David.
"Berkas apa?" tanya Nana.
David membalas pesan Nana, dan menjelaskan berkas apa saja yang perlu di siapnya. Nana pun paham dan sangat berterima kasih kepada David.
__ADS_1
"Semangat, Na. Di dunia ini pria tidak hanya dia saja." David memberikan semangat untuk Nana. Agar gadis itu tidak terpuruk dalam kesedihan. Hanya dirinyalah yang menjadi tempat mengadu gadis berparas cantik itu.
"Terima kasih, Mas." Nana membalas pesan David.
Chat selama 10 menit itu berakhir. Nana tersenyum tipis, semoga jalan yang di tempuhnya ini menjadi awal yang baru di kehidupannya.
*
*
*
Haidar mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan gelisah. Dia tidak sabar menunggu balasan Nana.
LKarena profil WA Nana tidak menggunakan foto, membuat Haidar tidak sadar jika nomornya sudah di blokir.
"Kenapa dia lama sekali membalasnya!" Haidar menjadi kesal, padahal pesannya sudah centang biru bertanda jika sudah di baca. Rasanya dia ingin berlari menuju kamar Nana, akan tetapi dia merasa tidak enak karena di ruang keluarga itu ada Sora dan calon mertuanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Sora saat melihat tunangannya gelisah.
"Nggak apa-apa," jawab Haidar sambil tersenyum tipis, lalu segera menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya.
__ADS_1
Haidar geregetan pada dirinya sendiri karena lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.