
“Bunda, kapan ayah akan menemuiku?” tanya gadis kecil dengan suara cadelnya. Gadis kecil berusia 4 tahun itu berada di dekapan ibunya. Setiap malam dia selalu menanyakan tentang keberadaan ayahnya.
“Ayah sedang sibuk bekerja, mencari uang untuk Valen,” jawab sang ibu yang tak lain adalah Nana.
Bibir gadis kecil itu mengerucut sebal, mungkin karena dia sudah bosan mendengar jawaban ibunya yang sama setiap dia menanyakan ayahnya.
Valentina nama yang bagus bukan?
Gadis kecil itu lahir di Eropa dan bertepatan dengan hari Valentine. Hari yang penuh kasih sayang.
Sayangnya gadis kecil itu tidak seindah namanya yang penuh dengan makna, karena dia tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Tapi, Nana berusaha keras untuk menjadi ibu dan ayah yang baik untuk putri semata wayangnya.
“Hei, kenapa wajahmu jelek sekali, Sayang?” tanya Nana sambil memandang wajah putrinya yang selalu mengingatkannya kepada pria yang sudah menyakiti hatinya. Ya, wajah Valentina adalah fotocopy-an Haidar.
“Sekarang tidur, sudah malam. Besok pagi opa dan oma akan mengajakmu ke kebun binatang.” Nana berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tahu jika saat ini putrinya sangat sedih.
Mendengar perkataan ibunya, kedua mata Valen langsung berbinar terang, dan bibirnya tersenyum ceria. Seketika itu langsung melupakan pertanyaannya tentang ayahnya.
“Benar Bunda? Aku jadi tidak sabar!” Valen berkata dengan gaya cadelnya, dan itu sangat menggemaskan di mata Nana.
“Iya, maka dari itu Valen sekarang tidur, biar besok tidak kesiangan,” jawab Nana sambil menoel hidung mancung putrinya.
__ADS_1
“Siap, Bunda!” serunya penuh semangat lalu memeluk Nana dengan erat agar dia bisa tidur lelap.
Dalam diam, Nana meneteskan air matanya. Kenyataan dan kepahitan masih terus saja bergulir menerpa kehidupannya.
*
*
Pagi harinya di salah satu unit Apartemen mewah yang ada di pusat kota. Nana sudah selesai mendandani putri kecilnya.
“Bunda, apakah di kebun binatang ada pinguin?” tanya Valen.
“Mungkin ada,” jawab Nana sembari menurunkan putrinya yang duduk di meja rias. Rambut ikal berwarna hitam legam dan berkilau itu di kuncir dua oleh Nana. Putrinya itu terlihat sangat cantik, imut dan menggemaskan, membuat Nana menjadi gemas dan tidak tahan untuk menciumi wajah putrinya.
“Ah, maafkan Bunda, sayang. Bunda susah berhenti kalau sudah menciumimu.” Nana terkekeh saat melihat wajah Valen cemberut kesal.
TING TONG
Suara bel apartemen membuat Valen melupakan kekesalannya. “Bunda, itu pasti opa dan oma!” Valen langsung berlari keluar kamar dan menuju pintu apartemen. Nana mengikuti putrinya dari belakang sambil tersenyum tipis, melihat Valen yang begitu semangat membuat hati Nana ikut bahagia.
“Selamat pagi, Tuan Putri!” seru Yuki dan Fahri ketika Valen yang membuka pintu tersebut. Tidak lupa mereka membawa hadiah kecil saat mengunjungi cucu mereka.
__ADS_1
“Opa! Oma!” seru Valen lalu memeluk kedua kaki oma dan opanya bersamaan. Fahri menunduk lalu menggendong cucunya.
“Kau semakin berat, Tuan Putri,” ucap Fahri sambil tertawa pelan.
“Dia sangat bersemangat sekali saat tahu kalau kalian akan membawanya ke kebun binatang,” ucap Nana kepada pasangan suami istri paruh baya itu.
“Kau sudah memberitahunya? Padahal kami ingin memberikan kejutan kepadanya,” jawab Yuki seraya memberikan boneka minion kepada cucunya.
“Terima kasih. Oma.” Valen menerima boneka itu dengan senang hati, lalu segera memeluknya erat seolah takut jika ada yang merebutnya.
“Maaf, tidak ada cara lain untuk menenangkannya,” jawab Nana penuh sesal.
“Dia menanyakan tentang ayahnya lagi?” tebak Yuki.
Nana menganggukkan kepalanya, lalu mempersilahkan Yuki dan Fahri masuk ke dalam apartemennya.
“Bisakah kau jangan bersikap seperti ini, Na? Bukankah kau adalah menantu kami. Jadi panggil kami dengan semestinya.” Yuki melayangkan protes kepada Nana yang selalu bersikap formal.
“Tapi, aku tidak--”
***
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya bestie, like, komentar dan vote❤