SECOND PALACE

SECOND PALACE
Merasa kehilangan


__ADS_3

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Tidak terasa sudah hampir 2 bulan sejak kejadian di Cafe waktu itu.


Semenjak saat itu, Haidar tidak pernah datang lagi ke apartemen Nana, Haidar hanya akan bertemu Valen saat berada di rumah Yuki dan Fahri. Itu pun Haidar juga tidak menyapa Nana, dan sikapnya terkesan dingin kepada Nana.


Entah kenapa Nana merasa kehilangan dan sedih karena Haidar sekarang cuek kepadanya. Seperti saat ini, Haidar diam saja saat berpapasan dengan Nana di anak tangga di rumah kedua orang tuanya.


Nana hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap Haidar yang seperti itu.


Lalu kenapa dia merasa sedih?


Bukankah ini yang diinginkannya?


Menginginkan Haidar menjauh darinya dan tidak menyapanya lagi?


Tapi, setelah semua keinginannya terwujud kenapa dia merasa sangat kehilangan sosok Haidar yang tengil, menyebalkan dan selalu mengganggu hidupnya?


Nana kini merasa sepi.


“Na, David datang, katanya mau berpamitan!” seru Yuki dari ruang tamu.

__ADS_1


“Iya, Ma!” jawab Nana lalu bergegas menuruni tangga menuju ruang tamu di mana David menunggu di sana.


Haidar yang sudah sampai di puncak tangga mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat mendengar seruan ibunya, di tambah lagi Nana terlihat sangat senang dengan kehadiran David.


Rasa emosi dan cemburu itu masih ada akan tetapi Haidar hanya bisa menahan perasaannya, karena ia sudah tidak berhak untuk mencintai Nana. Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar putrinya.


*


*


“Hati-hati, Mas.” Nana memeluk pria berbaju loreng itu dengan erat sebagai ucapan terima kasih dan permintaan maafnya.


“Semoga kamu bahagia, Na.” David menepuk punggung Nana sekilas, lalu melepaskan pelukan itu.


“Valen mana?” tanya David seraya mengendarkan pandangannya.


“Dia sedang tidur,” jawab Nana.


David mengangguk paham, lalu beralih berpamitan kepada Yuki dan Fahri bergantian.

__ADS_1


“Kau gagah sekali kalau memakai baju loreng hijau ini, tapi sayang masih jomblo. Aku berharap kalau pulang tugas nanti kamu membawa pulang jodohmu,” ucap Fahri seraya menepuk pundak David dengan penuh rasa bangga.


“Ya elah, aku tugas di hutan Om, mana mungkin ada gadis cantik di sana,” jawab David sambil tertawa pelan.


“Siapa tahu ada bidadari turun dari langit,” canda Yuki pada David.


“Amin,” jawab David hanya mengaminkan ucapan Yuki. Kemudian ia kembali berpamitan sebelum keluar dari rumah tersebut dan kembali bertugas di perbatasan Kalimantan.


Nana, Yuki, dan Fahri mengantarkan David sampai halaman rumah.


“Kenapa David dan Haidar sekarang terlihat seperti musuh? Biasanya David akan berpamitan kepada Haidar juga, tapi kenapa sekarang tidak?” tanya Yuki pada suaminya.


“Mungkin David lupa,” jawab Fahri.


Nana hanya diam saja mendengar pembicaraan itu, renggangnya hubungan David dan Haidar karena dirinya. Nana menjadi merasa bersalah kepada mereka berdua.


“Ah, mana mungkin lupa,” jawab Yuki seraya menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Nana masih ada di halaman rumah sembari menatap mobil yang di naiki David yang sudah keluar dari pintu gerang rumah mewah itu.


Nana menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu segera masuk ke dalam rumah, menuju kamar putrinya yang ada di lantai atas.

__ADS_1


***


Apakah terjadi kesalah pahaman di antara mereka? Simak terus kelanjutannya karena beberapa bab lagi akan TAMAT 😁


__ADS_2