SECOND PALACE

SECOND PALACE
Ayah jahat!


__ADS_3

“Mama jahat sekali,” ucap Haidar, karena ibu dan ayahnya selama ini sudah menyembunyikan Nana dan putrinya.


Valen menoleh pada Haidar, gadis kecil itu sepertinya tidak suka dengan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh ayahnya.


“Kenapa Ayah mengatakan kalau Oma jahat?” tanya Valen dengan nada ketus.


“Emh ...” Haidar menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum meringis, dia bingung harus menjelaskannya.


“Bukankah yang jahat itu Ayah? Karena Ayah selama ini bekerja sampai tidak mengingat Valen dan Bunda.”


Perkataan Valen berhasil menikam dada Haidar sampai ke bagian yang paling dalam, terasa sangat sakit dan perih. Tapi, yang dirasakannya saat ini tidak ada bandingannya dengan kenyataan pahit yang di rasakan Nana dan Putrinya selama ini.


Yuki segera meletakkan pisaunya di atas telenan, kemudian ia menggendong cucunya itu dengan penuh kelembutan.


“Ayah tidak sejahat itu kok. Ayah, selama ini bekerja untuk masa depan Valen. Katanya Valen ingin menjadi dokter, dan sekolah kedokteran itu sangat mahaaaaallll sekali.” Yuki segera menenangkan cucunya, kalau tidak segera di tenangkan maka anak itu akan mengingat ucapannya sampai dewasa nanti, tidak hanya itu saja Valen juga akan selalu mengingat dengan perbuatan Haidar yang meninggalkan dirinya dan bundanya demi pekerjaan.

__ADS_1


Haidar tertunduk, dia bukan ayah yang baik, jadi masih pantaskah dirinya menjadi seorang ayah untuk putrinya?


“Oh, jadi begitu ya? Jadi sekolah kedokteran itu sangat mahal?” tanya Valen dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.


“Iya, Sayang, sekarang minta maaf kepada ayah ya.” Yuki membujuk cucunya yang ada di dalam gendongannya.


Valen beralih menatap Haidar yang tertunduk di dekat meja dapur.


“Aku tidak mau minta maaf sama ayah. Kalau pun Ayah tidak salah, tapi ayah sudah membuat bunda menangis setiap malam. Ayah harus meminta maaf lebih dulu kepada Bunda,” jawab Valen lalu memaling dan memeluk leher omanya.


“Valen adalah anak yang sangat cerdas. Dia dewasa karena keadaan. Kamu harus lebih sabar kalau ingin mendapatkan perhatiannya,” ucap Yuki pada putranya.


“Iya, Ma.” Haidar bersuara serak dengan kedua mata yang memerah menahan tangis.


“Valen, lanjut masak lagi yuk! Bunda sebentar lagi datang loh,” ucap Yuki.

__ADS_1


Mendengar kata bundanya yang akan datang. Valen segera mengurai pelukannya, dan tersenyum ceria lagi.


“Ayo, Oma. Apakah Oma hanya masak tempe goreng?” suara cadel Valen terdengar sangat menggemaskan, membuat siapa pun yang mendengarnya akan tersenyum.


“Oma hari ini masak sayur asam dan sambal terasi kesukaan Bunda,” jawab Yuki seraya meletakkan cucunya di atas kursi.


“Yeaii!” seru Valen sangat senang lalu melanjutkan aktifitasnya, memasukkan tempe ke dalam wadahnya. Hati Haidar rasanya tidak karuan. Rasanya ia ingin memeluk putrinya yang tumbuh cantik dan menggemaskan, akan tetapi ia sadar diri, jika Valen saat ini masih menjaga jarak dengannya, butuh waktu untuk membuat putrinya dekat dengannya.


Haidar segera beranjak dari dapur menuju kamarnya. Semangatnya kini berkobar, ia harus terlihat tampan di depan Nana. Sampai di kamarnya, ia segera membuka lemari kamar dan mengambil semua pakaian terbaiknya, dan mencobanya satu persatu.


*


*


Nana menggunakan taksi online menuju rumah Yuki. Tapi, di perjalanan ia meminta sopir taksi untuk berhenti di supermarket. Ia ingin membeli buah tangan untuk Yuki dan Fahri.

__ADS_1


__ADS_2