
Malam hari di Kota Paris. Haidar mengajak Valen ke Menara Eiffel tanpa Nana, karena wanita tersebut tidak mau di ikut dengan alasan sedang tidak enak badan.
Nana saat ini sedang berada di dalam kamar hotel sendirian, dan tergolek lemas di atas ranjang besar yang terbungkus dengan sprei berwarna putih sambil memainkan ponsel. Nana menggulir layar ponselnya dengan asal, hingga akhirnya dia terpaku pada layar ponselnya saat melihat kalender di sana. Dia langsung mendudukkan dirinya dengan cepat karena baru teringat sesuatu.
“Sudah tanggal sekian tapi kenapa aku belum datang bulan juga ya?” gumam Nana, sambil mengusap tengkuknya dengan cemas sembari mengingat kejadian 2 bulan yang lalu saat Haidar menyentuhnya kembali. Seingatnya Haidar saat itu mengeluarkannya di luar, makanya dia tidak pernah terpikir kalau dia akan hamil lagi dengan pria yang sama.
“Jangan-jangan aku ...” Nana segera beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju intercom yang ada di atas nakas untuk memanggil pelayan hotel. Dia ingin memesan sesuatu.
Tidak berselang lama, pelayan hotel datang sembari membawa sesuatu yang diinginkan oleh Nana.
“Terima kasih,” ucap Nana menggunakan bahasa inggris seraya menerima benda pipih yang diberikah oleh pelayan hotel tersebut. Tidak lupa Nana memberikan tips kepada pelayan tersebut, kemudian ia menutup kamar hotel dengan rapat saat pelayan hotel tersebut pamit undur diri.
Nana berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan tes urine. Ya, dia memesan alat tes kehamilan kepada layanan hotel.
*
*
__ADS_1
“Kamu senang?” tanya Haidar kepada putrinya.
“Sangat senang sekali, Ayah. Tapi sayang sekali, Bunda tidak ikut dengan kita,” jawab Valen sambil mengerucut lucu.
Saat ini ayah dan anak itu sedang di dalam taksi yang akan mengantarkan mereka ke hotel tempat mereka menginap saat berada di Paris.
“Bunda ‘kan sedang sakit, jadi biarkan istirahat dulu, setelah Bunda sembuh nanti kita keliling Kota Paris bersama,” jawab Haidar memberikan pengertian kepada putrinya agar tidak merasa sedih lagi.
Valen menganggukkan kepalanya, bertanda jika dia mengerti dengan penjelasan ayahnya.
“Anak pintar,” ucap Haidar sambil mengelus pucuk kepala putrinya dengan penuh kelembutan. “Nanti sampai hotel Valen bisa melihat foto kita saat di Eiffel, dan memilih foto terbaik untuk tugas sekolah.” Lanjut Haidar seraya tersenyum tipis, menatap putrinya yang juga sedang tersenyum kepadanya.
Lima belas menit kemudian, Haidar dan Valen sudah sampai di kamar hotel. Valen berlari kepada ibunya yang masih tergolek lemas di atas ranjang.
“Bunda!” Valen naik ke atas tempat tidur sambil memeluk ibunya dengan erat.
“Anak Bunda sudah kembali, dan sepertinya kamu terlihat sangat senang sekali,” ucap Nana sambil menangkup wajah putrinya, kemudian mengecupi seluruh wajah Valen dengan gemas, hingga membuat gadis kecil itu tertawa geli.
__ADS_1
“Tentu saja aku sangat senang, Bunda. Tapi, aku juga merasa sedih karena Bunda tidak ikut kami ke Menara Eiffel,” jawab Valen lalu merebahkan diri di samping ibunya kemudian memeluk Nana dengan sangat erat.
Haidar tersenyum tipis saat melihat interaksi ibu dan anak itu. Ia melepaskan jaketnya lalu menyampirkannya ke stand hanger yang ada di sudut kamar tersebut.
“Maaf, sudah mengacaukan liburanmu,” ucap Nana dengan nada sesal pada putrinya.
“Tidak sama sekali, Bunda,” jawab Valen dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Haidar mendudukkan dirinya di sofa sambil menatap Nana yang masih terlihat lemas. “Kau membutuhkan dokter, Na,” ucap Haidar pada wanita cantik yang terbaring di atas ranjang itu.
Nana menoleh pada Haidar yang juga tengah menatapnya. Pria tersebut tidak pernah berubah, selalu terlihat sangat tampan dan menawan, bahkan ketampanan Haidar semakin bertambah seiring bertambahnya usianya.
“Aku tidak membutuhkan dokter apa pun. Aku sehat, dan sedikit lemas memang,” jawab Nana sembari menipiskan bibirnya saat Haidar menatapnya dengan kesal.
“Aku tidak menyangka kalau kau adalah wanita yang keras kepala!” kesal Haidar.
***
__ADS_1
Jangan lupa like-nya❤