SECOND PALACE

SECOND PALACE
Tekdung la la la


__ADS_3

Liburan yang sudah di rencanakan selama satu minggu nyatanya harus berakhir dengan cepat di hari ketiga.


Haidar memutuskan untuk menyudahi liburan tersebut karena tidak tega dan kasihan kepada Nana yang masih sakit dan terus muntah sepanjang hari.


Wanita itu membutuhkan perawatan intensif akan tetapi Nana selalu menolak jika akan di bawa ke rumah sakit.


Haidar semakin pusing dengan tingkah Nana yang sangat menyebalkan! Dia sangat mencemaskan keadaan Nana, tapi Nana sendiri tidak peduli dengan kesehatan diri sendiri.


*


*


Pada pagi hari itu, Haidar, Nana dan Valen sudah mengudara menuju Indonesia. Dan mereka bertiga sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada saat malam hari, tepatnya lewat tengah malam.


Haidar menyuruh sopir keluarganya untuk menjemput Valen, sedangkan Haidar langsung membawa Nana menuju rumah sakit terdekat, karena kondisi Nana semakin memburuk.


Yuki dan Fahri sangat cemas saat menyambut kedatangan Valen seorang diri yang di antar oleh sopir. Tapi, setelah mendengar penjelasan dari sopirnya, mereka malah bertambah sangat cemas dengan kondisi Nana.

__ADS_1


“Den Haidar berpesan kalau Bapak dan Ibu tidak perlu cemas,” ucap sopir sebelum pamit undur diri.


“Valen, sebenarnya Bunda kenapa?” tanya Fahri sambil menggendong cucunya masuk ke dalam rumah.


“Bunda sakit, dan muntah sepanjang hari, bahkan tidak mau makan sama sekali, hingga badan Bunda jadi lemas,” jawab Valen jujur dengan segala kepolosannya.


Yuki dan Fahri saling pandang setelah mendengar penjelasan Valen.


“Jangan-jangan ...” ucapan Yuki terputus karena suaminya memotongnya.


“Tapi, aku yakin kalau Nana saat ini sedang tekdung lagi karena dua bulan yang lalu Haidar dan Nana pernah tidur satu kamar!” jelas Yuki, karena dia masih mengingat dengan jelas kejadian 2 bulan yang lalu, di mana Nana keluar dari kamar dengan kondisi yang merah seperti bekas cup*ngan.


Fahri menatap istrinya dengan serius, seolah tidak percaya dengan kata-kata istrinya. “Mama yakin?” tanya Fahri masih meragukan penjelasan istrinya.


“Seratus persen sangat yakin, Pa!” jawab Yuki dengan sangat serius.


Fahri terdiam sesaat, lalu ia berkata pada istrinya, “kita buktikan besok.” Lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang ada di lantai atas, karena dia kasihan kepada Valen yang terlihat menguap beberapa kali, bertanda kalau cucunya itu sangat mengantuk.

__ADS_1


Yuki mengikuti suaminya menapaki anak tangga. Dia sebenarnya sudah sangat tidak sabar ingin bertemu Nana, akan tetapi dia harus mengikuti perintah suaminya.


Sampai di dalam kamar, Yuki segera mengganti pakaian cucunya.


“Oma, apakah Bunda akan baik-baik saja?” tanya Valen sambil menguap.


“Bunda akan baik-baik saja, Sayang,” jawab Yuki sambil tersenyum tipis kepada cucunya yang sudah terlihat sangat mengantuk. Yuki menatap jam dinding yang ada di kamarnya, waktu sudah menunjukkan jam 1 malam. Dia segera naik ke atas tempat tidur, lalu merebahkan diri di samping Valen.


“Ayo kita tidur, biar besok pagi bisa menjenguk Bunda,” ajak Yuki pada cucunya.


“Iya, Oma,” jawab Valen sambil memiringkan badannya seraya memeluk Yuki dengan erat.


Fahri ikut bergabung di atas tempat tidur itu, ia merebahkan diri di samping istrinya, jadi posisi Yuki berada di tengah.


***


Like pokoknya like, biar makin semangat ngetiknya di tengah kesibukan Real life😁🙏

__ADS_1


__ADS_2