
Haidar selesai berganti pakaian tidak lupa menyemprotkan parfum mahal ke seluruh badannya. Ia berdandan seperti pemuda yang akan bertemu dengan kekasihnya. Kini ia sudah terlihat tampan sambil mematut diri di depan cermin.
“Kau selalu terlihat tampan dan sempurna.” Haidar memuji dirinya sendiri sembari menyisir rambutnya dengan gaya yang sangat keren.
Kemudian, Haidar menatap seluruh kamar yang terlihat berantakan. Baju dan celana berserakan di atas tempat tidur dan lantai. Ia mendengus sebal, lalu segera membereskan kekacauan itu.
Di ruang makan. Valen berteriak histeris saat bundanya sudah datang.
“Bunda lama sekali?” Valen berkata dengan manja sambil memeluk ibunya yang kini tengah menggendongnya.
“Maaf. Bunda belakangan ini sangat sibuk.” Nana menjawab sambil mengecup pipi putrinya yang cantik.
“Tidak apa-apa. Bunda ‘kan sibuk karena cari uang untuk Valen.” jawab gadis kecil itu sambil tertawa kecil.
“Seharusnya kamu tidak usah membawa apa-apa saat ke sini.” Yuki mengambil dua kantung belanjaan yang berisi buah-buahan.
__ADS_1
“Ma, jangan berkata seperti itu. Eh, iya, di dalam sana ada buah manggis kesukaan Mama dan Papa,” jawab Nana, lalu mendudukkan diri di kursi otomatis Valen kini berada di pangkuannya.
“Terima kasih.” Yuki tersenyum, seraya membuka dua kantung belanjaan itu. Ternyata benar ada buah manggis, mungkin ada tiga killogram. Dan sisanya buah lainnya seperti jeruk dan apel.
Nana menatap putrinya yang ada di atas pangkuannya. “Valen hari ini nakal tidak sama Oma?”
“Tidak nakal, Bunda. Aku hari ini membantu Oma memasak di dapur,” jawab Valen sambil meletakkan kedua telapak tangannya di bawah dagu, membentuk huruf V. Gadis kecil itu terlihat sangat menggemaskan dan lucu. Nana menjadi gemas pada putrinya.
“Oh, ya? Bunda tidak yakin kalau Valen bisa membantu Oma.” Nana menggoda putrinya.
Yuki tertawa pelan saat melihat Valen yang cemberut. “Tadi dia membantu Mama menggoreng tempe. Kamu mau makan? Mama sudah masak sayur kesukaan kamu,” ucap Yuki pada Nana.
“Terima kasih, Ma. Tapi, makan nanti saja bersama dengan yang lainnya.” Nana tersenyum penuh haru, bersyukur kalau masih ada yang masih sayang dan peduli kepadanya, disaat dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi semenjak Bibinya meninggal dunia satu tahun yang lalu.
“Jangan sungkan kalau di sini. Anggap saja seperti rumahmu sendiri,” ucap Yuki, seraya mendongak menatap ke arah tangga, di mana Haidar menuruni tangga yang tidak jauh dari ruang makan.
__ADS_1
Nana dan Valen mengikuti arah pandangan Yuki. Semula Nana yang tersenyum haru, kini berubah tersenyum penuh kegetiran.
Yuki menyadari perubahan raut wajah Nana. Ia berdehem pelan, seraya berkata, “maafkan Mama ya. Mama tidak memberitahumu tentang kehadiran Haidar di sini,” ucap Yuki kepada Nana.
“Tidak apa-apa, Ma. Jangan pikirkan aku.” Nana berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal di dalam hatinya sedang menahan rasa perih yang luar biasa. Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, kalau dia tidak akan egois lagi demi putrinya.
“Ayah, ganti baju?” celetuk Valen kepada Haidar yang sudah bergabung di meja makan.
Pria itu tidak menjawab karena pandangannya terpaku pada Nana yang sedang duduk sambil memangku putrinya.
Nana memalingkan wajahnya, bahkan ia menyembunyikan wajahnya di belakang badan putrinya, seolah tidak ikhlas kalau wajahnya di tatap oleh Haidar.
***
Like ya Like jangan lupa💋💃
__ADS_1