
“Kau sudah resmi bercerai dengan Haidar? Dan kau tidak mendapatkan apa-apa?!” seru Mamanya Sora dari ujung telepon. Wanita paruh baya itu terus memaki keluarga Coriander karena putrinya di campakkan tanpa mendapatkan harta sama sekali.
“Iya, Ma,” jawab Sora dengan lirih terdengar sedih.
“Mama akan ke Indonesia! Sekarang kau tinggal di mana?” tanyanya lagi.
“Aku berada di rumah temanku. Aku menumpang tinggal di sini,” jawab Sora.
“Apakah kau tidak punya tabungan sama sekali? Bukankah sebelum menikah dengan Haidar kau mendapatkan Job banyak?!” Mama Sora terdengar meradang.
“Hello, Mam!! Apakah Mama pikir aku ini adalah anak kost yang bisa hidup ngirit?! Tentu Mama tahu kehidupanku seperti apa!” jawab Sora dengan kesal.
“Oh, My God! Jadi kau tidak mempunyai tabungan sama sekali?!” geramnya, pasalnya ia tahu bagaimana kehidupan putrinya yang suka berfoya-foya.
“Iya!” Sora mendengus menjawabnya.
“Mama akan transfer sejumlah uang untukmu, kirimkan nomor rekeningmu!” ucap wanita paruh baya itu.
__ADS_1
“Iya, aku tunggu, transfer yang banyak ya!” jawab Sora sambil tersenyum senang, lalu memutus sambungan teleponnya setelah selesai menghubungi ibunya.
*
*
Sore hari, Nana sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia akan menuju rumah Yuki untuk menjemput putrinya. Sebenarnya dia merasa tidak enak hati karena terus meropotkan Yuki dan Fahri.
“Sebaiknya minggu depan, aku segera membeli mobil sendiri dan mencari pengasuh untuk Valen. Lagi pula tabunganku sudah cukup kalau hanya untuk membeli mobil yang harganya di bawah 200 juta,” gumam Nana seraya keluar dari ruang kerjanya. Ia tersenyum ramah pada pegawai yang menyapanya, mereka juga saat ini sedang bersiap untuk pulang.
“Jangan lupa semuanya di tutup rapat dan di kunci.” Nana memberikan intruksi kepada semua pegawai berjumlah 15 orang yang sedang menutup semua etalase yang berisi perhiasaan berlian, mulai dari kalung, anting, gelang dan masih banyak lagi.
Nana tidak langsung pulang. Ia harus memastikan semuanya tertutup rapi dan aman. Meski di luar sana ada beberapa satpam yang berjaga bergantian setiap harinya, tapi dia harus memastikan semuanya aman, karena Galeri Berlian saat ini sudah resmi menjadi tanggung jawabnya.
*
*
__ADS_1
Di sisi lain, Valen saat ini sedang berada di dapur bersama Yuki.
“Boleh aku membantu Oma?” tanya Valen sambil berdiri di atas kursi, melihat Yuki yang sedang memotong tempe yang akan di goreng untuk makan malam nanti.
“Boleh, Sayang. Tapi, jangan pegang pisau ya. Valen, masukkan tempe yang sudah di potong ini ke dalam air marinasi.” Yuki menunjuk wadah yang sudah berisi sedikit air dan bumbu tempe goreng.
“Siap Oma.” Gadis kecil itu tampak sangat semangat, seraya memasukkan satu persatu tempe yang sudah di potong ke dalam wadah.
Yuki menatap cucunya sambil tersenyum senang. Rumahnya yang biasa terasa sepi kini menjadi ramai dan hangat karena kehadiran Valen.
Tidak berselang lama Haidar bergabung di dapur. Ia langsung duduk di kursi yang terletak tidak jauh dari meja dapur. Haidar pun tampak senang saat melihat putrinya terlihat begitu antusias membantu Omanya.
“Ma, Valen dan Nana sering ke sini?” tanya Haidar kepada ibunya.
“Baru pertama kalinya. Mereka baru kembali dari Eropa satu bulan yang lalu. Tapi, Mama dan Papa sering ke apartemen mereka,” jawab Yuki tanpa menoleh, karena dia sedang sibuk dengan tempe yang ada di tangannya.
“Mama jahat sekali,” ucap Haidar, karena ibu dan ayahnya selama ini sudah menyembunyikan Nana dan putrinya.
__ADS_1
**
Jangan lupa like dan komentarnya bestie❤