
Beberapa hari kemudian.
Haidar datang ke rumah orang tuanya. Malam ini dia akan berencana menginap di sana, sekaligus menghindari Sora.
Beberapa hari yang lalu, pria tampan itu sudah melayangkan gugatan cerai kepada Sora, akan tetapi Sora menolak untuk menandatangani surat perceraian mereka.
"Tumben ke sini?!" Yuki bertanya dengan nada mencibir putranya.
"Aku kangen dengan Mama dan Papa," jawab Haidar.
"Kangen dengan kedua orang tuamu jika sedang bertengkar dengan istrimu yang playing victim itu!" balas Yuki dengan telak.
Haidar mendesah kasar saat melihat ibunya masih membenci dirinya karena menikahi Sora.
"Ma, aku sudah melayangkan gugutan cerai untuk Sora," ucap Haidar lirih.
Yuki diam tidak menjawab. Dia sudah masa bodo dengan putranya itu. Kemudian ia berjalan menuju dapur untuk membantu Opi memasak makan malam.
"Mbak, buatkan sup iga sapi. Nanti antarkan kepadanya," ucap Yuki kepada Opi yang sedang sibuk menggoreng ayam.
"Iya, Bu," jawab Opi senang.
"Kepadanya itu siapa, Ma?" tanya Haidar yang sejak tadi mengikuti ibunya dan mendengar pembicaraan mereka di dapur.
Yuki terkejut, kemudian ia segera mencari alasan yang tepat. "Kepadanya itu kepada papa mu. Papa 'kan suka sup iga," jawab Yuki.
"Oh ..." Haidar menganggukkan kepala, tanpa rasa curiga. Karena Fahri memang sangat suka sup iga.
Yuki bernafas lega, lalu melanjutkan aktivitasnya, membantu Opi memasak.
Haidar mendudukkan diri di ruang makan yang jaraknya tidak jauh dari dapur dan tidak bersekat, ia mengendarkan pandangannya di setiap sudut ruangan itu. Di ruangan tersebut banyak menyimpan kenangan bersama Nana.
"Nana," gumam Haidar.
Rasa bersalah selalu menghimpit dadanya, saat mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Fahri menuruni anak tangga sambil video call dengan cucunya.
"Opa dan Oma, kapan ke sini lagi? Valen sangat merindukan kalian." Suara cadel dan polos itu terdengar sangat menggemaskan.
"Mungkin hari minggu, Sayang," jawab Fahri, sembari memandangi wajah cucunya yang terlihat menggemaskan. Fahri berjalan menuju ruang makan, tanpa memperhatikan jika Haidar ada di sana.
"Tapi, Valen sangat rindu. Ingin bermain dengan kalian! Karena Bunda sibuk kerja terus ..." Adu Valen kepada opanya dengan manja.
Haidar mengerutkan kening saat mendengarkan suara anak kecil dari ponsel ayahnya. Dia masih diam-diam mendengarkannya, sambil memainkan ponselnya.
"Sayang! Siapa yang mengajarmi mengadu seperti itu? Bunda kerja juga untuk Valen." Suara Nana terdengar begitu jelas di indra pendengaran Haidar.
Jantung Haidar berdetak sangat cepat, kemudian ia menatap ayahnya yang duduk tidak jauh darinya.
"Papa, jangan dengarkan ucapan bocil ini," ucap Nana sambil merebut poselnya yang di pegang putrinya.
"Kenapa kau kasar kepadanya? Seharusnya kau fokus dengan Valen, bukannya malah terus bekerja seperti itu!" omel Fahri.
"Maaf, lain kali tidak akan lagi," jawab Nana.
"Valen, ucapkan dada dulu." Nana berseru kepada putrinya.
"No!" Valen menyahut sambil menggeleng pelan, gadis itu kecil itu merajuk.
"Dia marah," jawab Nana. "Kalau begitu, aku tutup dulu video call-nya," lanjut Nana, Fahri menjawab dengan anggukan kepala.
Fahri menatap ponselnya yang sudah gelap, bertanda jika panggilan video call itu telah berakhir.
"Papa, Valen itu siapa?!" suara Haidar mengejutkan Fahri yang sedang memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.
Fahri awalnya terkejut, lalu ia berusaha untuk tetap bersikap cuek. "Bukan urusanmu!" jawab Fahri.
"Papa tidak sedang berselingkuh 'kan?!" tuduh Haidar sambil menatap ayahnya dengan tajam. Dia tidak akan memaafkan ayahnya jika terbukti menduakan ibunya.
"Bicara apa kau ini! Kau mau mati!!!" umpat Fahri menatap tajam putranya.
__ADS_1
"Papa bukan pria bresngsek sepertimu, Haidar! Di dalam hatiku hanya ada satu nama yaitu Yuki--ibumu--sampai akhir hayatku nanti!" jawab Fahri dengab tegas.
"Oh, ya? Lalu wanita tadi itu siapa?!" tanya Haidar lagi semakin menyudutkan.
"Wanita tadi? Apa maksud kalian?!" Yuki menyahut sambil meletakkan sepiring ayam goreng ke atas meja makan.
"Papa berselingkuh, Ma." Haidar yang menjawab.
"Benarkah itui?!" Yuki menatap Fahri dengan tajam.
"Iya, coba saja cek ponselnya!" Haidar berkata dengan nada kesal.
Yuki menghampiri Fahri lalu merogoh ponsel suaminya yang ada di dalam kantong celana. Kemudian ia memeriksa ponsel suaminya dengan teliti. Tidak ada yang spesial, hanya ada riwayat panggilan video call dari Nana.
"Kau ingin memfitnah, Papamu, Haidar!" Yuki mengembalikan ponsel yang dia pegang kepada pemiliknya.
Hah?!
Haidar tidak mengerti dengan semua ini. Bagaimana bisa ibunya tidak menemukan apa pun di ponsel ayahnya.
"Pasti Papa sudah menghapus riwayat panggilan itu!" batin Haidar geram.
"Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Sora, makanya otakmu ikut gila!" umpat Yuki seraya mendudukkan dirinya di di kursi yang letaknya di sebelah kursi suaminya.
Haidar diam, tapi dia akan menyelidiki semua itu.
Opi sudah selesai menyiapkan makan malam di meja makan.
"Mama harap kamu besok bisa datang ke galeri berlian. Karena Mama akan memperkenalkan pemimpin baru ke media!" ucap Yuki pada putranya.
"Siapa pemimpin baru itu?!" tanya Haidar.
"Nanti juga tahu!" jawab Yuki tersenyum misteri.
***
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya ❤