
“Biar aku saja Bunda.” Valen mencegah ibunya yang akan berjalan untuk membuka pintu.
“Baiklah, Sayang, tapi harus hati-hati ya.” Nana mengurungkan niatnya lalu ia melanjutkan membuat sandwich untuk putrinya. Valen sangat suka dengan sandwich.
Nana tidak habis pikir kepada takdir yang sudah mempermainkannya. Dia yang mengandung putrinya selama 9 bulan 10 hari tapi kenapa wajah putrinya sangat mirip seperti Haidar, bukan hanya wajah saja, akan tetapi makanan kesukaan dan kebiasaan putrinya pun sama dengan pria yang sudah menyakitinya itu.
Sungguh tidak adil bukan?
*
*
Valen membuka pintu apartemen. Ia tersenyum tipis saat melihat sosok pria yang berdiri di balik pintu tersebut.
Tadinya ia hanya membuka pintu sedikit seperti celah, akan tetapi saat melihat Haidar, ia pun segera membuka pintu tersebut dengan lebar.
“Ayah.” Valen tersenyum senang.
“Hai. Tuan Putri.” Haidar melambaikan tangannya dan tersenyum cerah. Ia berjongkok lalu menggendong putrinya itu.
“Ayah bawa apa?” tanya Valen yang sudah berada di gendongan Haidar. Gadis kecil itu menatap goodie bag yang di tenteng di tangan kanan ayahnya.
__ADS_1
“Ayah bawa sarapan untukmu. Ini adalah sandwich spesial buatan ayah,” jawab Haidar sambil mencium pipi putrinya dengan gemas.
“Woah, sandwich? Aku suka sekali dengan sanwich, tapi Bunda juga sedang membuat sandwich di dapur.” Valen yang tadinya senang kini terlihat murung, karena jika dia memakan sandwich buatan ayahnya, maka bundanya akan bersedih,
“Bunda sedang di dapur? Apakah Ayah boleh masuk?” Haidar meminta persetujuan kepada putrinya.
“Tentu saja boleh. Ayo!” ajak Valen yang berada di gendongan Haidar.
Haidar tersenyum senang, lalu ia segera menutup pintu apartemen tersebut, dan berjalan menuju dapur sambil menggendong Valen.
*
*
“Hai,” sapa Haidar sambil tersenyum tipis.
“Hai!” jawab Nana dengan datar dan ketus, lalu segera kembali melanjutkan aktifitasnya lagi.
“Bunda, tadi Ayah juga membuat sandwich,” ucap Valen sambil menunjuk goodie bag yang masih di tenteng ayahnya.
“Oh, benarkah?” Nana menoleh sesaat dan kembali fokus dengan kegiatannya, ia menata sandwich ke dalam kotak bekal putrinya, dan sisanya akan di makan oleh Valen.
__ADS_1
“Iya, Bunda,” jawab Valen seraya turun dari gendongan ayahnya.
Valen mengambil goodie bag yang di pegang oleh ayahnya dan membawanya ke meja makan.
Haidar masih berdiri di tempat sambil menatap Nana yang berada di dapur.
“Kau tidak menawariku kopi?” tanya Haidar hanya untuk sekedar basa-basi, untuk memecah suasana yang sangat kaku dan dingin.
“Di sini tidak ada kopi!” ketus Nana tanpa menoleh, lalu ia berjalan menuju meja makan sambil membawa sepotong sandwich dan segelas susu putih untuk putrinya.
“Apakah Valen juga menyukai sandwich seperti aku?” tanya Haidar mengikuti Nana dari belakang.
“Seperti yang kau lihat!” jawab Nana datar.
Haidar tersenyum penuh arti, lalu ia mendudukkan dirinya di samping putrinya.
“Bunda, apakah aku boleh memakan sandwich dari Ayah juga?” tanya Valen menatap ibunya dengan penuh harap.
“Tentu saja boleh sayang,” jawab Nana seraya mengusap pucuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Sini, biar Ayah suapi,” ucap Haidar pada putrinya.
__ADS_1
Sandwich yang sedang di makan oleh Valen mempunyai kenangan yang begitu bermakna untuk kedua orang tuanya.
Nana memalingkan wajahnya, lalu segera beranjak dari sana menuju kamarnya. Rasanya sangat sakit jika mengingat kenangan 5 tahun yang lalu. Di mana saat ia pertama kali bekerja di rumah keluarga Coriander, ia menjadi pelayan khusus untuk Haidar. Masakan yang pertama kali ia buat untuk Haidar adalah sandwich. Dan dari sandwich itu mereka menjadi dekat dan akhirnya mereka terlibat one night stand.