
"Tapi, saya--" ucapan Nana terhenti ketika mendengar ucapan Haidar.
"Atau aku akan menelepon Bi Juli, dan memberi tahukan apa yang terjadi saat ini!" ucap Haidar terdengar mengancam.
"Maksud kamu apa?" Fahri bertanya kepada putranya karena ucapan Haidar terdengar ambigu.
Sedangkan Nana sudah mengerti jika ucapan Haidar adalah sebuah ancaman untuk dirinya. Nana merasa takut jika Haidar benar memberitahukan sebenarnya yang sudah terjadi kepada Bi Juli.
"Maksudku, aku akan memberitahukan Bi Juli jika Nana akan berhenti bekerja dari sini." Haidar segera memberikan penjelasan yang masuk akal.
"Nana, kami mohon jangan berhenti bekerja." Yuki memegang tangan Nana dengan erat, ia sangat menyayangkan jika Nana harus berhenti bekerja.
Nana menjadi gamang, keputusannya yang ingin berhenti bekerja sekaligus ingin memberitahukan sikap Haidar kepada majikannya menjadi goyang dan teurungkan.
"Iya, Bu," jawab Nana sambil mengangguk, mencoba bertahan di bekerja di sana meskipun kedepannya akan mendapatkan tekanan dari Haidar.
"Ah, syukulah. Terima kasih, Na." Yuki dan Fahri senang, begitu pula dengan Haidar yang tersenyum tipis.
__ADS_1
Pembicaraan di ruang tengah telah usai. Nana kembali ke kamarnya, begitu pula yang lainnya mulai memasuki kamar masing-masing.
Haidar berada di dalam kamarnya, ia berniat ingin ke kamar Nana saat tengah malam nanti jika semua orang sudah benar-benar terlelap. Tiba-tiba pintu kamarnya terketuk dari luar, Haidar yang sedang duduk di tepian tempat tidur menoleh dan beranjak, kemudian membuka pintu kamarnya itu.
"Hai, boleh aku masuk?" tanya Sora yang berdiri di balik pintu.
"Iya, tentu," jawab Haidar seraya membuka pintu kamarnya sedikit lebar, mempersilahkan Sora masuk ke dalam kamarnya, kemudian menutup pintunya lagi dengan rapat.
"Ada apa?" tanya Haidar menatap Sora yang kini duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Kamu sudah tahu belum kalau kedua orang tua kita ingin menjodohkan kita?" tanya Sora sambil menatap Haidar yang masih berdiri di dekat pintu.
"Jadi menurutmu bagaimana? Kamu mau menerima perjodohan itu?" tanya Sora kepada Haidar.
Haidar menjawab dengan menaikkan kedua bahunya, ia tidak mengerti.
Sora beranjak dari duduknya, menghampiri Haidar yang masih berdiri. "Aku harap kamu mau menerimanya. Karena aku menyukaimu," ucap Sora yang kini sudah berada di hadapan pria tampan dan menawan itu.
__ADS_1
"Sora--"
"Sttth, Haidar, aku sangat ... sangat menyukaimu, bukankah kamu sendiri yang bilang jika kamu belum memilik kekasih, jadi tidak ada salahnya 'kan kalau kamu menerima perjodohan ini," ucap Sora menempelkan jari telunjuknya di bibir tebal Haidar.
"Kamu pasti akan sangat menyukainya," bisik Sora seraya memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Haidar dengan penuh kelembutan.
Haidar memejamkan matanya, mendorong kedua bahu Sora agar ciuman itu terlepas. Akan tetapi Sora tidak ingin menyerah begitu saja, ia terus berusaha membuat Haidar terperangkap dalam pesonanya.
Yang namanya kucing jantan di beri ikan bandeng pasti tidak akan menolaknya, dan langsung mencaploknya sampai kenyang.
Malam hari itu Haidar dan Sora melakukannya.
Haidar merasa menjijikkan dan hina ketika sudah selesai melakukannya dengan Sora. Akan tetapi ia tidak di pungkiri dia suka dengan gerakaan Sora, mungkin karena Sora tidak suci lagi, membuat gadis itu lebih berpengalaman.
Haidar mengusap wajahnya dengan kasar, meskipun dalam hatinya merasa jijik, tapi pria itu tidak merasa menyesal.
Dasar pria berengsek!!
__ADS_1
***
Ngelus dada, jahat banget Haidarš