
Haidar mematung ketika membaca hasil laporan kesehatan Nana. Dia terpaku seraya menelan ludahnya dengan kasar, dalam hati dia terus memaki dirinya sendiri.
“Suster, apakah hasil tes kesehatan ini akurat?” tanya Haidar kepada perawat yang berdiri tidak jauh darinya.
Saat ini Haidar berada di luar ruang rawat Nana. Niat hatinya ingin menenangkan hatinya untuk sementara akan tetapi Haidar tidak kunjung kembali ke dalam ruang rawat itu sampai perawat datang dan memberikan hasil tes kesehatan Nana, yang berupa tes HCG.
Tes HCG adalah tes kehamilan menggunakan sampel darah. Biasanya tes HCG lebih akurat di bandingkan dengan tes urine.
“Sangat akurat Pak,” jawab perawat tersebut sangat yakin. “Kami sudah melakukan beberapa tes kesehatan Ibu Nana akan tetapi tidak menemukan masalah apa pun, maka dari itu kami berinisiatif untuk tes HCG dan hasilnya sangat mencengangkan, seperti yang tertera pada hasil tes darah yang saat ini Anda pegang,” jelas Perawat tersebut kepada Haidar.
Haidar mengangguk pelan bertanda jika dia mengerti, kemudian berterima kasih kepada parawat tersebut lalu ia segera masuk ke dalam ruang rawat Nana.
Di dalam ruang rawat Nana. Haidar menatap Nana yang terpejam, entah wanita itu tidur atau pura-pura tidur, Haidar tidak tahu. Pria tampan tersebut mendekati tempat tidur pasien yang di tempati oleh Nana. Kemudian, ia mendudukkan diri di kursi yang sudah di sediakan di dekat tempat tidur pasien seraya menggenggam tangan Nana dengan sangat erat, lalu ia menciumi punggung tangan itu berulang kali.
Nana yang sedang terlelap merasa terngganggu dengan tindakan Haidar. Wanita cantik itu sudah membuka kedua matanya, seraya menatap Haidar yang masih menciumi punggung tangannya.
“Haidar ...” ucap Nana dengan lirih seraya menarik tangannya yang di genggam oleh pria itu.
“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?” tanya Haidar dengan suara yang serak seperti menahan tangis, kepalanya tertunduk seolah tidak mau memperlihatkan kesedihannya kepada Nana.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya Nana sambil mengerutkan keningnya, kemudian ia mendudukkan dirinya di atas tempat tidur itu dengan susah payah, dan kedua matanya masih tertuju pada Haidar yang kini sudah menatapnya dengan tatapan yang menyedihkan.
“Ini!” Haidar menyerahkan hasil tes darah itu kepada Nana.
Nana menerima selembar kertas yang di berikan oleh Haidar, kemudian ia membacanya dengan teliti setiap tulisan yang tertera di kertas tersebut.
“Jadi kamu sudah tahu?” jawab Nana sok tegar seraya melipat selembar kertas tersebut lalu meletakkannya di atas pangkuannya.
“Kau sengaja menyembunyikannya dariku?!” Haidar terlihat marah saat melihat reaksi Nana yang tidak sesuai dengan yang ia bayangkan sebelumnya. Wanita itu terlihat tenang, namun sangat datar dan dingin.
“Aku yang terlalu bodoh karena telah melakukan kesalahan yang sama,” jawab Nana menahan rasa sesak di dalam dada.
“Aku hanya takut jika kau tidak mengakui jika anak ini adalah anakmu,” jawab Nana sambil menghela nafas kasar.
“Na! Aku masih mengingat kejadian dua bulan yang lalu, saat kita melakukannya lagi, aku sadar dan aku memang sengaja menanamkan benihku ke dalam rahimmu,” ucap Haidar sambil menatap Nana yang terlihat sangat terkejut dengan penjelasannya.
“Apa kau bilang?!” Nana menjadi geram kepada pria yang sudah berulang kali menyakiti hatinya itu.
“Maafkan aku. Aku sengaja melakukannya karena aku tidak ingin kehilanganmu lagi.” Haidar menjawab sambil meraih kedua tangan Nana dengan penuh kelembutan. “Aku melakukan semua itu agar kita bersatu menjadi keluarga yang bahagia, kamu mau ‘kan, Na?” Haidar menatap Nana penuh harap.
__ADS_1
“Haidar, apakah kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku?!” geram Nana seraya menarik kedua tangannya yang berada di genggaman Haidar.
“Aku tahu! Dan aku sadar, maka dari itu berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, berikan aku kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak-anak kita nanti,” jawab Haidar dengan tegas, lugas dan penuh keyakinan.
“Kamu sudah tidak bisa menolakku lagi, Na. Karena sudah dua kali kamu mengandung benihku,” lanjut Haidar menyeringai licik.
“Ih! Dasar keparat! Aku sangat membencimu Haidar!!!” Nana mengambil bantal lalu memukulkannya ke badan Haidar berulang kali untuk melampiaskan kekesalannya.
“Tapi, kau masih sangat mencintaiku ‘kan, Na?” Haidar terkekeh pelan seraya menangkap bantal yang masih di pukulkan kepadanya, lalu ia mendekap bantal tersebut seraya menatap Nana penuh cinta.
Nana menggeleng seraya berdecih sebal sebagai jawaban atas pertanyaan Haidar.
“Ayolah, di dalam perutmu sudah ada junior. Kita akan menikah besok.” Ucapan Haidar membuat Nana semakin jengkel kepada pria tersebut.
“Tidak ada penolakan! Besok kau akan resmi menjadi istriku sekaligus ibu dari anak-anakku!” jawab Haidar tidak mau di bantah.
“Ini namanya pemaksaan!” kesal Nana.
“Jadi, apakah kau ingin hamil tanpa suami lagi? Dan lebih parahnya yang menghamilimu adalah pria yang sama,” ucap Haidar tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Nana langsung terdiam memikirkan perkataan Haidar yang ada benarnya. Jadi, apakah dia akan menurunkan egonya demi masa depannya dan juga masa depan anak-anaknya?