SECOND PALACE

SECOND PALACE
Dia anakku 'kan?


__ADS_3

Sebuah senyuman cerah terus menghiasi wajah tampan Haidar, sejak pria tersebut mendapatkan alamat Nana. Haidar sudah berada di depan unit apartemen yang di tinggali oleh Nana.


Jantung Haidar berdebar tidak karuan. Senyuman yang sejak tadi menghiasi wajahnya kini mengendur, kala perasaan gugup dan rasa berasalah menggelayuti hatinya. Tangan kanannya terangkat untuk memencet bel yang ada di dekat pintu unit apartemen tersebut, akan tetapi dia mengurungkan niatnya.


"Jika tidak sekarang kapan lagi? Sudah cukup kau selama ini menjadi seorang pengecut!" Haidar memaki dirinya sendiri, lalu ia mengangkat salah satu tangannya lagi untuk memencet bel tersebut.


*


*


Nana sedang menengkan putrinya yang merajuk kepadanya.


"Maafkan Bunda, Sayang. Bunda berjanji kalau akan pergi akan mengajak Valen," ucap Nana sambil mengusap pucuk kepala putrinya dengan penuh kelembutan. "Bukankah tadi ada Mbak Opi yang menemanimu bermain?" Nana tersenyum tipis sambil menatap putrinya yang duduk di sampingnya.


"Tapi, aku ingin seperti anak yang lainnya, Bunda," lirih Valen sambil menundukkan kepalanya.


"Apakah karena Valen tidak punya ayah, jadi Bunda malu mengajakku? Iya Bunda?" Pertanyaan Valen membuat hari Nana teriris, sakit dan perih.


Kedua mata Nana berkaca-kaca, dia langsung membawa putrinya masuk ke dalam pelukan hangatnya, mendekapnya tubuh kecil itu sangat erat.


"Siapa yang berkata seperti itu? Katakan kepada Bunda!" Nana berkata dengan perasaan yang hancur.


"Kata ibu guru, aku tidak punya ayah," jawab Valen dengan suara cadelnya.


Ya, Valen sudah masuk sekolah PAUD dua minggu yang lalu, sekolahnya pun tidak jauh dari apartemen yang mereka tinggali.


Nana menghela nafas kasar, pasalnya Valen daftar sekolah tanpa kartu keluarga dan akte kelahiran. Nana membayar mahal agar putrinya bisa masuk sekolah. Ini semua karena kesalahan di masa lalunya, putrinya menjadi menderita dan mendapatkan bullying verbal, ini sungguh menyakitkan dan bisa merusak mental si anak.


"Bunda akan memindahkanmu ke sekolah yang lebih bagus." Hanya itu yang bisa di katakan oleh Nana kepada putrinya.


Valen menganggukkan kepalanya pelan lalu membalas pelukan ibunya dengan erat. "Tapi, Valen punya ayah 'kan Bunda?" tanya Valen lagi.


"Tentu saja punya, bukankah foto ayah ada di kamar Valen," jawab Nana tersenyum lalu mengurai pelukan tersebut, menatap putrinya yang sudah tidak sedih lagi.


Valen mengangguk lalu turun dari pangkuan ibunya. "Aku akan mengambil foto ayah!" Valen berkata sambil berlari menuju kamarnya.


Nana tersenyum tipis, kemudian ia langsung terdiam, tanpa tersadar air matanya menetes di pipinya.

__ADS_1


"Maafkan Bunda," lirih Nana seraya menghela nafas panjang agar dadanya terasa longgar, akan tetapi tidak bisa, dadanya masih terasa sesak bagai di himpit batu besar.


Ting Tong!


Suara bel apartemen berbunyi nyaring, membuat Nana segera menghapus air matanya lalu beranjak dari duduknya menuju pintu apartemennya.


"Siapa yang datang?" gumam Nana lalu membuka pintu tersebut. Kedua matanya melotot sempurna saat melihat seseorang yang sangat di hindarinya. Dengan cepat, ia langsung menutup pintu itu kembali akan tetapi pria yang ada di balik pintu itu mempunyai tenaga yang sangat besar untuk menahan pintu tersebut agar tidak tertutup.


Perasaan Haidar saat ini semakin berkecamuk ketika melihat wajah cantik Nana yang selama ini sangat di rindukannya.


"Nana ... please!"


"Pergi dari sini!!" teriak Nana sambil mendorong pintu tersebut dengan sekuat tenaga agar pria tersebut tidak bisa masuk ke dalam apartemennya.


"Nana, aku mohon beri aku kesempatan untuk bicara." Haidar memohon kepada wanita yang sangat di cintainya itu.


"Tidak ada hal yang perlu di bicarakan lagi! Pergi dari sini! Atau aku akan memanggil keamanan untuk menyeretmu!!" seru Nana seraya meneteskan air matanya dengan sangat deras. Luka hatinya yang sudah mulai mengering mulai basah lagi. Dadanya terasa nyeri dan sangat sakit bagai di tusuk dengan ribuan jarum.


"Lakukan saja! Aku tidak takut!!" Haidar dari luar mendorong pintu itu sekuat tenaga, dan akhirnya pintu tersebut terbuka dengan pakas, hingga membuat Nana yang berada di belakang pintu terpental dan tersungkur di atas lantai.


"Nana, maafkan ak--" ucapan Haidar terhenti saat mendengar suara anak kecil.


Nana memejamkan kedua matanya dengan erat. Haidar tidak boleh tahu tentang Valen. Ia segera beranjak dari lantai, menghampiri putrinya lalu merebut figura yang di pegang oleh Valen. Kemudian Nana langsung menggendong putrinya dan mendekapnya dengan erat, seolah takut jika Valen di rebut oleh Haidar.


"Nana, siapa dia?" tanya Haidar, tatapannya terpaku pada gadis kecil yang ada di gendongan Nana.


"Lebih baik kamu segera pergi dari sini!" sentak Nana, mengabaikan pertanyaan Haidar.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku!" Haidar berjalan mendekati Nana, akan tetapi wanita yang di dekati itu semakin memundurkan langkahnya.


Kenapa? Gadis kecil itu sangat persis dengannya?


Jangan-jangan ...? Semoga yang ada di dalam pikirannya itu benar, kalau gadis kecil itu adalah darah dagingnya? Tapi, bagaimana bisa, bukankah dulu dia menyuruh Nana untuk meminum pil KB?


"Bunda, bukankah itu Ayah? Sama yang ada di dalam foto itu?" celetuk Valen dengan kepolosannya.


DEG!

__ADS_1


Dada Haidar bergemuruh saat mendengar ucapan gadis kecil itu.


'Ayah?' bukankah itu adalah panggilan yang sangat hangat dan membahagiakan untuk setiap seorang ayah? Akan tetapi tidak untuk Haidar, dadanya kini seperti di hantam batu besar, terasa sesak, perih, dan sangat sakit. Rasa itu bercampur menjadi satu, hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas.


Benarkah gadis kecil itu adalah anaknya? Jika iya, maka dia adalah orang yang paling kejam dia dunia ini.


"Sayang, masuk ke kamar dulu dan jangan keluar sebelum Bunda menyuruhmu keluar." Nana menurunkan putrinya lalu memberikan figura foto itu kepada Valen.


"Tapi, Bunda--"


"Setelah ini kita beli es krim rasa vanila. Valen mau 'kan?" ucap Nana seraya sedikit menunduk, menatap putrinya dengan penuh permohonan.


"Iya Bunda." Valen segera berlari ke kamarnya.


Nana menghela nafas kasar seraya menegakkan badannya lagi setelah putrinya sudah tidak terlihat. Ia menatap Haidar sangat dingin.


"Jangan sampai kesabaranku habis! Segeralah keluar dari sini!" Nana berkata dengan datar dan dingin, sorot matanya memancarkan kebencian yang sangat besar.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab pertanyaanku!" tegas Haidar.


"Oke!" Nana segera menyambar telepon rumahnya yang tidak jauh dari sana, ia menghubungi pihak keamanan untuk mengusir Haidar.


"Nana, aku datang ke sini untuk meminta maaf kepadamu. Maafkan aku atas ..."


"Sudah aku maafkan, dan sekarang segera keluar dari sini, jangan pernah menggangguku lagi!" jawab Nana dengan tegas dan sok kuat, padahal saat ini dia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam hatinya.


"Aku tidak akan pernah pergi dari sini! Meskipun kau terus mengusirku, aku akan tetap berdiri di sini! Sampai kau menjelaskan gadis kecil itu kepadaku!" jawab Haidar dengan tegas.


"Dia anakku 'kan?" tanya Haidar dengan lirih.


Nana menelan ludahnya dengan kasar, lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya tercekat.


"Bu-bukan!" Nana mencengkram ujung dress-nya saat mengakatan hal itu.


***


Besti, jangan lupa berikan like, komentar, dan hadiah.

__ADS_1


Yuk! Keluarkan Vote-nya sudah hari senin nih!! 😘


__ADS_2