
“Kau tetap menantu kami. Karena hanya kau yang berhak melahirkan cucu kami dan penerus keluarga kami.” Yuki berkata lembut kepada Nana, meski dia tahu jika Haidar dan Nana tidak akan pernah bersatu, tapi Yuki berharap suatu saat nanti ada keajaiban, Nana mau membuka hati dan memaafkan kesalahan putranya.
Nana tersenyum kecut mendengarnya, bagaimana bisa seorang wanita pembawa aib di keluarga ternama itu di anggap sebagai menantu tanpa ikatan tali pernikahan dengan putra mereka? Nana tidak tahu harus bersyukur atau sedih.
*
*
“Bye ... Bunda.” Valen melayangkan kiss bye pada Nana saat dirinya di gendong keluar dari Apartemen.
“Kau tidak ingin ikut?” tanya Yuki kepada Nana.
“Tidak, Bu. Aku harus menyelesaikan desain kalung yang di pesan oleh klien, dan harus selesai minggu ini,” jawab Nana, sekaligus menolak ajakan Yuki.
“Aku sudah bilang, panggil Mama bukan Ibu!” Yuki berkata tegas kepada Nana.
__ADS_1
“Iya ... Mama,” jawab Nana dengan canggung.
“Sebenarnya aku ingin membicarakan masalah ini sejak pertama kali kau kembali dari Eropa satu bulan yang lalu. Aku ingin kau mengambil alih Galery Berlian yang aku miliki,” ucap Yuki kepada Nana
Nana terkejut saat mendengarkan ucapan Yuki yang memintanya untuk mengambil Galery berlian yang ternama di Indonesia dan manca negera itu.
“Ma, aku tidak bisa. Karena itu ...” belum selesai bicara, Yuki sudah memotong ucapan Nana.
“Aku tidak mau mendengar penolakan darimu. Minggu depan aku akan memperkenalkanmu kepada media, kau akan mengambil alih Galery berlian!” Yuki berkata tegas, lalu segera keluar dari apartemen tersebut karena suami dan cucunya pasti sudah menunggunya.
“Aku yakin setelah Haidar melihatmu dia akan kelimpungan dan semakin merasa bersalah kepadamu, Na,” batin Yuki. Ini adalah rencananya sejak dulu, mengubah Nana si gadis polos dan lugu menjadi seorang gadis yang kuat dan berkualitas. Dan anggap semua yang sudah di lakukan kepada Nana adalah penebus rasa bersalahnya karena perbuatan putranya yang berengsek itu.
“Kenapa Mama Yuki begitu yakin kepadaku?” gumam Nana. Dia merasa bukan siapa-siapa dan merasa bukan bagian keluarga Coriander. Kebaikan Yuki sudah sangat berlebih kepadanya. Dari mulai memberikannya tempat tinggal, membiayai hidupnya, menyekolahkannya sampai ke jenjang S1 di Eropa dan sekarang Yuki ingin dirinya menjadi seorang penerus untuk Galeri berlian?
Tidak ingin memikirkan yang macam-macam. Nana segera beranjak dari duduknya, menuju ruang kerjanya untuk mendesain kalung berlian pesanan klien-nya.
__ADS_1
*
*
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucap Sora kepada Haidar yang baru duduk di ruang makan.
"Hentikan sandiwaramu Sora!" Haidar meradang dan muak saat melihat wajah sok suci wanita itu.
"Apa salahku? Aku hanya bersikap sewajarnya saja sebagai seorang istri," jawab Sonya dengan tenang.
"Pura-pura depresi! Apakah itu juga sikap yang wajar sebagai seorang istri?!" bentak Haidar dengan penuh amarah.
"Aku depresi karena kehilangan janinku, tapi kau dengan teganya tidak memedulikan aku!!" ucap Sora dengan pelan tapi penuh penekanan.
"Oh, benarkah?! Kalau begitu, kita buktikan ke rumah sakit, apakah benar jika kau pernah mengalami keguguran!" tantang Haidar.
__ADS_1
Wajah Sora langsung pucat pasi. Dia menggeleng pelan dan tidak berselang lama, dia kembali berteriak histeris.
"Teruskan saja sandiwaramu yang menjijikkan itu!" bentak Haidar seraya beranjak dari ruang makan. Nafsu makannya langsung hilang seketika saat melihat drama pagi hari itu.