
"Lepas! Lepaskan aku!" seru Haidar ketika kedua tangannya di tarik oleh security keluar dari unit apartemen Nana.
"Tolong kerja samanya, Pak! Anda sudah membuat penghuni apartemen tersebut tidak nyaman dan jangan membuat keributan di sini!" Salah satu Security berkata dengan tegas kepada Haidar.
"Kalian ini tahu apa hah!!!" bentak Haidar, memberontak sampai dia lolos dari pegangan dua security tersebut, kemudian ia berlari menuju unit apartemen Nana.
Nana yang melihat Haidar berlari ke arahnya pun segera menutup pintu apartemennya, menguncinya dari dalam.
"Nana! Buka pintunya!" seru Haidar sambil menggedor pintu tersebut berulang kali.
Keributan yang di buat Haidar membuat para penghuni apartemen lainnya merasa terganggu.
Dua security langsung membekuk Haidar dan menyeret Haidar dari sana.
"Lepas!" teriak Haidar berusaha memberontak akan tetapi kini tidak bisa.
"Sepertinya Anda harus di bawa ke kantor polisi karena sudah membuat kekacauan di sini!!"
__ADS_1
*
*
Nana bersandar di pintu sambil mendongakkan sedikit kepalanya. Ia terisak sedih di sana, air matanya sejak tadi tidak mau berhenti mengalir.
Valen mengintip dari pintu kamarnya. Gadis kecil yang tidak berdosa itu menatap ibunya yang terlihat tidak baik-baik saja. Ia memberanikan diri untuk mengayunkan kedua kakinya ke arah Nana.
"Bunda ..." Suara cadel, polos dan menggemaskan itu membuat Nana seketika itu langsung berhenti menangis. Ia segera menghapus air matanya dengan cepat seraya menatap putrinya yang berada di hadapannya.
"Bunda menangis? Apakah pria tadi menyakiti Bunda?" tanya Valen seraya memiringkan sedikit kepalanya ke kiri, menatap polos ibunya, lalu tangan kanan yang mungil itu menyeka sisa air mata yang berada di sudut mata ibunya.
Nana menggelang pelan, hatinya terasa seperti ditusuk ribuan jarum dan di hantam batu besar. Sangat sakit, perih dan sesak. Kedua manik hitamnya semakin sendu, dan air mata mulai menggenang kembali, ia yakin jika sekali kedip air matanya itu akan turun lagi membahasi pipinya. Nana berusaha untuk menahannya, kemudian ia memeluk putrinya dengan erat dan hangat. Dalam hatinya, ia terus meminta maaf kepada putrinya.
"Maafkan, Bunda. Maafkan Bunda. Bunda terpaksa memisahkanmu dengan ayah kandungmu, karena dia sudah mempunyai keluarga sendiri.
"Bunda baik-baik saja. Kedua mata Bunda kelilipan debu." Nana berkata seraya mengurai pelukannya.
__ADS_1
Yang namanya anak kecil mengangguk saja dan percaya dengan penjelasan orang dewasa. "Bunda belum bersih-bersih ya? Makanya debu di sini banyak." Suara cadel Valen membuat Nana sedikit terhibur, dia tersenyum tipis sembari mencubit gemas pipi putranya.
"Iya, Sayang. Bunda lupa belum bersih-bersih." Nana tersenyum sambil berdiri lalu mengusap pucuk kepala putrinya dengan penuh kelembutan.
"Nah, kan! Ayo, Valen bantu bersih-bersih." Valen dengan penuh semangat saat mengatakannya.
"Memangnya bisa?"
"Bisa dong. Aku akan membersihkan kamarku lebih dulu. Bunda jangan ikuti aku." Valen tertawa lalu berlari menuju kamarnya. Sampai di dalam kamarnya, langkah kakinya tertuju pada figura foto Haidar yang tergeletak di atas sofa. Ia mengambilnya, kemudian menyimpan foto yang terbingkai dengan figura tidak terlalu besar itu ke dalam laci nakas di sebelah tempat tidurnya.
"Maaf, aku tidak ingin melihat Bunda menangis lagi karena melihat wajah ayah." Gadis kecil itu berbicara kepada foto tersebut, sebelum menutup laci.
***
Sedih banget, kasihan Valen😭😭😭
Jangan lupa dukungannya ya besti🥺❤
__ADS_1