SECOND PALACE

SECOND PALACE
Tetap rapuh


__ADS_3

Nana mendengus sebal ketika Haidar mengikuti dirinya sampai di depan apartemennya.


"Untuk apa kau mengikuti aku?" Nana memandang Haidar penuh kebencian seraya membenarkan posisi tidur Valen yang berada di gendongannya.


"Aku hanya ingin memastikan kalau kau dan putri kit ... emh ... putriku baik-baik saja," jawab Haidar yang hampir saja keceplosan mengatakan 'putri kita',


Nana tersenyum miring seraya menekan kode pintu apartemennya dengan tangan kanannya, sementara itu tangan kirinya menopang badan Valen yang ada di gendongannya.


"Selama hampir 5 tahun tanpa figur seorag ayah, buktinya dia baik-baik saja!" ucap Nana dengan telak, dan berhasil membuat Haidar mati kutu.


Pria tersebut menghela nafas panjang penuh kesabaran seraya menipiskan bibirnya.


"Aku tahu kesalahanku selama ini, jadi aku mohon berikan aku kesempatan." Haidar berkata dengan lirih, sendu, dan penuh harap, semoga Nana merasa kasihan kepadanya.


Nana mendengus seraya membuka pintu apartemennya dengan cepat, lalu masuk ke dalam sana, dan segera menutup pintu apartemennya lagi tanpa memedulikan Haidar.


BRAK!


Pintu apartemen Nana tertutup dengan rapat. Haidar hanya bisa membisu seraya menatap pintu yang sudah tertutup rapat.


"Oke, hari ini gagal lagi, tapi aku tidak boleh menyerah!" Haidar menyemangati diri sendiri di dalam hati. Kemudian, ia masuk ke dalam apartemennya yang letaknya bersebelahan dengan apartemen Nana.


*

__ADS_1


*


*


Nana meletakkan putrinya di atas tempat tidur dengan perlahan dan hati-hati. Ia mengecup kening Valen dengan penuh kasih sayang, kemudian memandang wajah putrinya yang mirip sekali dengan Haidar.


"Sekarang Valen sudah bertemu dengan Ayah. Jadi, Bunda harap, putri kecil Bunda ini tidak sedih lagi. Bahagia selalu ya, Nak," gumam Nana, tidak terasa air matanya membasahi pipinya. Lalu ia segera beranjak dari kamar putrinya menuju kamarnya sendiri untuk menumpahkan tangisnya.


Mau belajar kuat, tapi nyatanya hatinya masih begitu rapuh saat melihat sosok pria yang selama ini sudah menorehkan luka yang begitu dalam di permukaan hatinya.


*


*


Sementara itu. Haidar saat ini sedang menikmati rokoknya di ruang keluarga sembari menatap layar ponselnya yang memperlihatkan Nana dan Valen sedang berpelukan. Ia mengambil foto tersebut secara diam-diam saat berada di rumah orang tuanya beberapa saat yang lalu.


Ia duduk termenung di sana, tanpa memedulikan detikan jam yang terus berjalan dan semakin malam.


*


*


"Bunda!" seru Valen pada pagi hari.

__ADS_1


"Iya, sayang!" jawab Nana berseru juga dari arah dapur dan menatap pintu kamar putrinya yang sudah terbuka dengan lebar.


"Wah! Gadis kecil Bunda sudah mandi dan memakai seragam sekolah sendiri?" Nana senang melihat putri kecilnya sudah bisa mandiri.


Valen tersenyum lebar dan penuh semangat, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat lesu cenderung malas kalau akan berangkat ke sekolah.


Hem ... Ada apa ini?


"Bunda, hari ini apakah boleh kalau Bunda dan Ayah mengantarkan aku ke sekolah?" tanya Valen dengan penuh harap.


Nana yang sedang membuat sandwich di dapur pun menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap putrinya yang berjalan ke arahnya.


"Kalau Bunda mau, tapi sepertinya Ayahmu tidak bisa. Dia pasti sedang sibuk," jawab Nana beralasan.


"Bunda, please ..." mohon Valen seraya menyatukan kedua tangan di depan dada. Kedua matanya membulat lucu, membuat siapa pun akan gemas melihatnya.


"Ah, baiklah. Bunda akan menghubungi Ayahmu," jawab Nana pada akhirnya, tidak tega kalau melihat putrinya menangis atau bersedih.


Tapi, bagaimana memberitahukan kepada Haidar? Sedangkan dia sendiri tidak mempunyai kontak telepon pria tersebut, pikir Nana.


Saat sedang larut dalam pemikirannya, bel apartemen berbunyi berulang kali.


***

__ADS_1


Maaf baru Update, emak lagi kurang enak badan beberapa hari ini. Dan sampai saat ini masih tepar di atas tempat tidur. Ini saja ngetik pakai Hp sambil tiduran🥺


Emak juga mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin untuk pembaca setia atau pun pembaca baru.🙏❤


__ADS_2