SECOND PALACE

SECOND PALACE
Anak kurang ajar!


__ADS_3

Yuki berjalan tergesa memasuki kantor polisi yang tidak jauh dari apartemen Nana. Dadanya di penuhi dengan amarah ketika mendapatkan kabar dari kantor polisi bahwa putranya itu sudah membuat kekacauan di salah satu unit apartemen X.


Yuki menatap putranya yang duduk di depan petugas untuk dimintai keterangan. Ia melepaskan sandal yang ia gunakan, lalu memukulkan sandalnya itu ke kepala putranya berulang kali dengan perasaan kesal dan marah bercampur menjadi satu.


Haidar dan para polisi yang berada di sana terkejut dengan aksi Yuki.


Sontak Haidar langsung melindungi kepalanya dengan kedua tangannya agar tidak terluka karena kebrutalan ibunya.


"Mom! Ampun!" seru Haidar sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Anak kurang ajar!!!" maki Yuki yang kini sudah menghentikan aksinya. Nafasnya naik turun tidak beraturan, dan wajahnya memerah karena sangat marah.


"Bu, sabar Bu!" Beberapa polisi menenagkan Yuki. "Jangan main hakim sendiri!"


"Apa? Siapa yang main hakim sendiri?! Ini adalah bentuk rasa kecewa seorang ibu kepada putranya yang kurang ajar ini!!!" ucap Yuki membalas perkataan beberapa polisi itu tanpa rasa takut sama sekali.


"Ya, tapi 'kan--"

__ADS_1


"Coba kalian berada di posisiku saat ini! Jangan banyak omong!" balas Yuki dengan penuh emosi, lalu pandangannya beralih menatap putranya yang menundukkan kepalanya. Tidak puas memukul putranya, Yuki langsung menarik dan mutar telinga Haidar dengan penuh emosi. Membuat semua polisi di sana terkejut lalu terdiam, karena the power of emak-emak tidak ada tandingannya.


"Arghhh! Ampun, Ma!" seru Haidar seraya memiringkan kepalanya, mengikuti jeweran telinganya.


Yuki menggertakkan giginya, lalu melepaskan telinga Haidar yang berwarna merah. Puas rasanya memberikan pelajaran kepada putranya yang kurang ajar itu.


Haidar menggosok telinganya yang terasa perih, panas dan sakit.


Yuki beranjak dari duduknya, seraya berkata, "penjarakan saja anak kurang ajar ini! Agar dia tahu arti hidup!" ucap Yuki, setelah mengatakan hal yang mengejutkan Haidar, ia langsung keluat dari kantor polisi itu dengan perasaan kesal dan marah.


"Sepertinya kesalahanmu bukan hanya membuat kekacauan di apartemen. Sampai-sampai membuat ibunya marah seperti itu. Jangan jadi anak yang membangkang, kamu tidak tahu perjuangan seorang ibu melahirkanmu ke dunia ini. Jangan sakiti dan kecewakan hati ibumu." Salah satu polisi mendekati Haidar lalu membuka borgol di kedua tangan Haidar.


Haidar termenung, ucapan pria berseragam coklat itu merasuk ke dalam pikirannya. Dia bukan hanya menyakiti hati ibunya, tapi dia juga sudah menghancurkan perasaan wanita yang sudah melahirkan putrinya. Perasaan bersalahnya, menyeruak masuk ke dalam dadanya, hingga membuat dadanya semakin terasa sesak dan perih.


*


*

__ADS_1


"Maafkan, Mama. Ini salahku karena sudah memberikan alamatmu kepadanya," ucap Yuki pada Nana melalui sambungan telepon.


Yuki tahu jika Nana saat ini sangat kecewa kepadanya, terdengar jelas kalau Nana di seberang sana menghela nafas panjang.


"Aku hanya belum siap kalau dia menghetahui kehadiran Valen. Terlebih lagi, dia sudah mempunyai keluarga sendiri," jawab Nana dengan lirih.


"Na, percayalah. Haidar akan bercarai dengan Sora," ucap Yuki meyakinkan.


"Apakah karena aku, dia bercerai dengan istrinya? Ma, aku tidak ingin dianggap merusak rumah tangga orang." Nana terdengar kecewa di seberang sana.


"Ini murni keputusan Haidar, Na. Dia sebenarnya tidak mencintai Sora." Yuki berusaha menjelaskan.


"Apa pun alasannya, sebuah perceraian adalah hal yang paling di benci Tuhan," jawab Nana.


***


Vote ya Vote! Keluarin Vote-nya dan jangan lupa subscribe agar tidak ketinggalan update novel ini. ❤

__ADS_1


__ADS_2