SECOND PALACE

SECOND PALACE
Tidak bisa berada di satu ruangan dengannya!


__ADS_3

Nana menatap ke arah halaman galeri, dia terkejut saat melihat David memukul Haidar, rasanya dia menjerit akan tetapi dia tersadar dengan posisinya saat ini.


"Nana, kau di sini rupanya," ucap Yuki.


"Iya, tadi Mas David menemuiku," " jawab Nana sambil tersenyum tipis dan memperlihatkan rangkaian bunga yang di pelukannya. Dia tidak menceritakan kedatangan Haidar kepada Yuki.


"Bukankah dia akan berangkat tugas?" ucap Yuki.


"Iya, dia menyempatkan waktu ke sini," jawab Nana.


Yuki tersenyum lalu mengangguk mengerti.


"Ayo, sini, keluargaku ingin mengenalmu lebih jauh," ucap Yuki lalu menggandeng tangan Nana.


"Ma, apakah ini tidak berlebihan?" tanya Nana. Dia merasa tidak enak hati karena Yuki dan Fahri sudah sangat baik kepadanya.


"Tidak sama sekali! Jangan sungkan begitu, karena kau sudah bagian dari keluarga kami," jawab Yuki tidak mau di bantah. Dia terus menggandeng Nana menuju keluarganya yang berkumpul di tengah ruang galeri tersebut.


*

__ADS_1


*


Haidar berusaha untuk bangkit, kepalanya terasa berat dan pandangannya menggelap. Pukulan David benar-benar membuatnya tidak berdaya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya berulang kali, agar dia tidak kehilangan kesadarannya.


Haidar berjalan terseok memasuki galeri ibunya. Dia tidak memedulikan kondisinya saat ini, yang terpenting dia bisa bertemu dan bicara dengan Nana.


Suasana mewah dan elegan menyambut Haidar saat memasuki Galeri Berlian. Kedua matanya mengedar ke seluruh Galeri yang terlihat luas itu. Dan pandangannya terhenti saat melihat seluruh keluarganya berkumpul di ruang tengah galeri tersebut.


"Dasar gulung!" seru Via--keponakannya.


Haidar berdecak sebal saat mendengar suara cempreng gadis yang seumuran dengannya itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Dinda kepada cucunya.


"Tidak apa-apa Oma. Ini hanya kecelakaan kecil," jawab Haidar sambil tersenyum. Dia senang karena Oma nya masih perhatian dengannya di saat semua keluarganya mengabaikannya, termasuk ke dua orang tuanya.


Yuki dan Fahri kompak menatap Nana yang terlihat menundukkan kepalanya.


"Sepertinya aku harus segera pergi, Valen pasti mencariku," ucap Nana masih menundukkan kepala, dia ingin segera beranjak dari sana akan tetapi tangannya di cegah oleh Yuki.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" tanya Yuki, sambil menggandeng Nana menuju sudut ruangan tersebut, menjauh dari keluarganya.


"Menurut Mama bagaimana?" Nana malah balik bertanya.


Mendengar ucapan Nana, membuat Yuki merasa bersalah kepada wanita itu.


"Maaf, Ma. Aku tidak bisa berada di satu ruangan dengan pria itu," ucap Nana dengan suara yang bergetar. Sungguh dia tidak sanggup karena hatinya seperti di tusuk ribuan belati saat melihat kehadiran pria yang sudah menorehkan luka di dadanya. Tapi, Nana juga tidak bisa menampik jika pria itu sudah memberikan kebahagiaan kepadanya. Kebahagiaan itu adalah Valentina--putrinya.


"Baiklah kalau begitu, sopir akan mengantarkanmu," ucap Yuki. Dia tidak ingin memaksa Nana.


"Ma, aku bisa pulang sendiri dengan taksi."


"Baiklah, aku rasa kau perlu waktu sendiri. Jadi, pulanglah dengan hati-hati dan titip salam untuk Valen," ucap Yuki kepada Nana.


Nana tersenyyum dan mengangguk, lalu memeluk Yuki dengan erat, tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada wanita paruh baya itu.


Haidar menatap heran kepada ibunya dan Nana karena mereka terlihat sangat dekat. Bukankah terakhir kali Yuki mengusir Nana dan mengatakan jika Nana adalah wanita penggoda? Lalu kenapa mereka saat ini terlihat sangat dekat? pikir Haidar.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya bestie-bestikušŸ’ƒā¤


__ADS_2