
Nana langsung mengendurkan pundaknya yang sejak tadi menegang. Gadis cantik itu menelan ludahnya dengan kasar seraya menepuk dadanya yang terasa sangat sakit bagai di hantam batu besar.
"Kau harus kuat, Na. Dia bukan jodohmu!" ucapnya menyemangati diri sendiri, meski terasa tidak mampu akan tetapi dia harus kuat.
*
*
*
Kedua orang tua Sora sudah kembali ke Jepang satu minggu yang lalu.
Rumah itu terlihat sangat sepi, karena Yuki dan Fahri sedang tugas di luar kota. Hanya ada dua asisten rumah tangga yang menginap di riumah itu, yaitu Nana dan Opi, sedangkan dua asisten rumah tangga lainnya pulang.
Haidar pergi mengantarkan Sora ke lokasi pemotretan, karena tunangannya itu adalah seorang model.
"Na, kelihatan lelah sekali, Na? Cuciannya banyak?" tanya Opi pada Nana saat melihat gadis itu duduk di tengah anak tangga.
"Setrikaannya yang banyak, Mbak. Mana punya Mbak Sora semua, harus extra hati-hati mengerjakannya," jawab Nana sambil memijat tangan kanannya yang terasa pegal.
__ADS_1
"Sabar Na," ucap Opi seraya mendudukkan dirinya di samping Nana.
"Belakangan ini kamu kelihatan pucat, Na?" tanya Opi sembari memandang Nana dari samping.
"Iya, Mbak. Perutku hampir dua minggu ini terasa penuh, dan mual. Sepertinya karena sering telat makan jadinya magh," jawab Nana seraya menghembuskan nafas panjang.
"Sudah minum obat?" tanya Opi, tapi Nana menggeleng sebagai jawaban.
"Kamu suka begitu, tidak pernah peduli sama diri sendiri," protes Opi, gemas dengan Nana.
Nana menanggapi ucapan Opi dengan tawa pelan. "Mbak, aku mau berhenti kerja saja," entah sudah ke berapa kali dia menyampaikan keinginannya itu pada Opi.
"Aku akan mencobanya, Mbak," jawab Nana. "Lagi pula sayang juga gajinya kalau tidak satu bulan full, setidaknya aku berhenti dari sini punya bekal," lanjutnya.
"Nah, itu kamu tahu," jawab Opi.
"Sudah sore, ayo bantu aku masak di dapur," ajak Opi dan di angguki oleh Nana.
*
__ADS_1
*
*
Haidar sudah pulang setelah selesai mengantarkan Sora ke lokasi pemotretan. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan saat masuk ke dalam rumah, lalu terus melangkahkan kakinya menuju dapur saat mendengar suara Nana tertawa.
"Mbak, Mas David itu lucu, asalkan sedang chat pasti ada saja gombalannya," curhat Nana pada Opi.
"Kalau berdasarkan pernerawanganku, dia suka sama kamu, Na," jawab Opi sambil mengulek bumbu dapur.
"Nggak mungkin, Mbak. Aku ini siapa dan dia siapa," sahut Nana, memotongi bawang merah yang akan di jadikan bawang goreng.
"Eh! Siapa tahu, Na. Lagi pula zaman sekarang banyak kok asisten rumah tangga seperti kita ini menikah dengan majikannya," jawab Opi menatap Nana sekilas.
"Nggak ada Mbak. Yang aku tahu jika hal itu terjadi si asisten rumah tangga hanya di jadikan perlarian saja, setelah bosan di lepehin, macam tebu, saat manis terus di hisap tapi jika sudah sepet di buang di tempat sampah!" ucap Nana, menceritakan kisah hidupnya sendiri.
Tanpa mereka sadari, Haidar mendengar ucapan Nana yang begitu menusuk di hatinya. Merasa tersindir dengan ucapan Nana, Haidar langsung pergi dari sana seraya mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Ha ha ha, kamu benar Na. Mending menikah dengan orang biasa saja yang penting kecukupan, seperti aku," jawab Opi sambil tertawa pelan.
__ADS_1