
Senyum ceria sejak tadi menghiasi bibir gadis kecil yang bernama Valentina. Untuk pertama kalinya, ia merasakan di antarkan sekolah oleh kedua orang tuanya.
"Ayah, dan Bunda nanti juga akan menjemput aku 'kan?" tanya Valen yang duduk di pangkuan Nana. Mereka berdua saat ini berada di dalam mobil Haidar yang sudah melaju menuju sekolahan putri kecil mereka.
"Ehm ... Bunda tidak bisa janji ya," jawab Nana kepada putrinya.
"Yahhh, Bunda." Valen sangat kecewa mendengar jawaban ibunya.
"Bisakah kamu menyempatkan waktumu untuk menjemput Valen?" tanya Haidar dengan nada kesal pada Nana.
Nana melirik sinis pada Haidar.
"Yang sok punya waktu! Padahal baru bertemu dengan putrinya beberapa hari yang lalu!" jawab Nana penuh dengan sindiran, dan membuat Haidar langsung bungkam tapi hanya beberapa saat.
"Oke, aku salah karena selama ini tidak ada di samping kalian. Tapi, aku harap kamu bisa membagi waktumu untuk Valen." Haidar menyahut dengan nada pelan, karena ia tidak ingin membuat suasana hati Nana semakin memburuk.
"Kamu tidak tahu rasanya menjadi orang tua tunggal!" jawaban Nana terdengar sangat dingin dan ketus, tanpa menatap Haidar.
"Maka dari itu kita harus bersama, agar kau tidak merasa kesusahan lagi," ucap Haidar.
SRING!
Nana melirik Haidar dengan tajam, setajam silet.
"Dalam mimpimu!!" balas Nana dengan tajam.
__ADS_1
Haidar terkekeh geli sembari menyetir mobil. "Oke, maka dari itu aku akan terus tertidur, agar mimpiku itu bisa menjadi kenyataan," ucap Haidar.
Nana hanya mendengus kesal menanggapinya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
*
*
Tidak berselang lama mereka sampai di depan sekolah Valen.
Mereka bertiga turun dari mobil bersamaan.
Seperti biasa, di depan sekolahan tersebut ada banyak orang tua yang mengantarkan putra-putri mereka ke sekolah.
"Aku ingin bertemu dengan kepala sekolah," ucap Haidar kepada Nana.
"Sebagai seorang ayah, aku tentu tidak terima kalau putriku di katai anak haram oleh murid lain atau pun guru yang ada di sini!" jawab Haidar mengeraskan rahangnya.
Nana terdiam tidak menyahuti perkataan Haidar. Pasalnya, dia pun merasa sakit hati dengan hal itu. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Valen, masuk ke dalam kelas ya. Ayah dan Bunda ada urusan sebentar dengan kepala sekolah," ucap Haidar dengan lembut kepada putrinya yang berdiri di tengah-tengah mereka.
"Tapi, Valen ingin mengenalkan Ayah kepada teman-teman semua," jawab Valen dengan nada cedal dan menggemaskan.
"Oh, begitu ya. Ya sudah ... kalau begitu, ayo!" ajak Haidar sambil tersenyum lalu beralih menatap Nana, kemudian ia mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut.
__ADS_1
"Apa?!" ketus Nana sembari melihat tangan kanan Haidar yang terulur kepadanya.
"Demi kebahagiaan Valen," jawab Haidar seraya menggoyangkan tangannya agar Nana mau menggapainya.
Dengan berat hati, Nana menerima uluran tangan Haidar. Dan tentu saja, pria tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung menggenggam erat tangan lembut dan mulus itu.
Haidar menggandeng tangan Valen dan Nana di sisi kiri dan kanan. Sekilas mereka bertiga terlihat seperti keluarga yang harmonis dan bahagia.
Valen membawa kedua orang tuanya ke dalam kelasnya dan memperkenalkan orang tuanya kepada teman-temannya.
"Oh, jadi Valen bukan anak haram ya?" pertanyaan polos meluncur dari salah satu pria kecil bermata sipit dan berbadan gembul.
"Adek kecil tahu dari mana kata-kata anak haram itu?" tanya Haidar dengan nada lembut.
"Dari Ibu guru, karena Ibu guru sering memanggil Valen seperti itu," jawabnya polos.
Nana dan Haidar menghela nafas kasar saat mendengarkan penjelasan pria kecil itu.
"Dengarkan semuanya anak-anak, di dunia ini tidak ada yang namanya anak haram. Dan kata-kata anak haram itu tidak sopan bila di ucapkan. Jadi, jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi ya karena akan melukai hati Valen." Nana menjelaskannya dengan pelan dan hati-hati kepada teman-teman sekelas Valen.
"Begitu ya? Jadi selama ini kami melukai hati Valen?" tanya anak yang lainnya.
"Hati Valen tidak terluka, tapi hanya merasa sedih," jawab Valen dengan suara cedalnya yang lucu.
"Maafkan kami ya." Teman-teman Valen yang berjumlah 15 anak langsung memeluk Valen bersamaan.
__ADS_1
Haidar dan Nana saling pandang, kemudian mereka melemper senyuman. Namun, beberapa saat kemudian, Nana memalingkan wajahnya dan kembali memasang wajah jutek.