SECOND PALACE

SECOND PALACE
Dinginnya Nana


__ADS_3

Mohon maaf, baru update, dikarenakan kemarin Emmak lagi pulang kampung.


Yuk cekidot!


*


*


Nana dan Valen bersiap untuk pulang ke apartemen pada malam harinya, setelah selesai makan malam bersama.


“Terima kasih buah manggisnya, Na. Sudah lama tidak makan buah itu,” ucap Fahri pada Nana.


“Besok akan aku bawakan lagi, Pa. Bulan ini ‘kan lagi musim buah manggis,” jawab Nana sambil tersenyum lalu menggandeng tangan kanan putrinya.


“Tidak perlu repot-repot, kalian berdua bisa datang dan main ke rumah ini saja kami sudah senang, iya ‘kan sayang?” Fahri meminta persetujuan istrinya.


“Iya, Pa,” jawab Yuki seraya mengangguk.


“Aku akan mengantar kalian.” Haidar menawarkan diri untuk mengantarkan Nana dan putrinya pulang.


“Tidak perlu.” Nana menjawab dengan datar, akan tetapi ucapannya itu bantah oleh putrinya.

__ADS_1


“Bunda, aku ingin di antar oleh Ayah,” rengek Valen pada ibunya.


Mendengar rengekkan putrinya tentu saja membuat hati Haidar berbunga-bunga. Pria tersebut langsung berjongkok di depan putrinya, “Ayah akan mengantarkan Valen, jangan bersedih ya,” ucap Haidar pada putrinya. Ia memanfaatkan keadaan agar Nana mau di antarkan oleh dirinya.


Valen mengangguk dan tersenyum manis.


Haidar langsung menggendong dan membawa putrinya menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.


Nana hanya mendengus sebal melihat semua itu.


“Na, aku harap kamu mau berbaik hati untuk memberikan kesempatan kepada Haidar,” ucap Yuki pada Nana penuh harap.


Nana hanya tersenyum tipis menanggapinya, lalu segera berpamitan mengikuti Haidar dan putrinya.


*


*


“Sayang, kamu saja yang duduk di samping Ayah,” jawab Nana berusaha untuk sabar.


“Hem ... baiklah.” Valen segera membuka pintu depan, lalu mendudukkan diri di jok depan, di samping Haidar yang sudah siap di balik kemudi. Begitu juga Nana duduk di jok belakang.

__ADS_1


Haidar hanya tersenyum kecut melihat Nana yang seolah tidak ingin berdekatan dengannya. Lalu ia menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan perlahan.


“Nyetir saja yang benar! Jangan jelalatan!!!” celetuk Nana pada Haidar yang memperhatikannya lewat kaca spion bagian tengah.


Haidar segera mengalihkan pandangannya pada jalan raya, ia menjadi salah tingkah karena ketahuan memperhatikan Nana diam-diam.


Valen menoleh sesaat pada ayahnya lalu fokus kembali ke boneka beruang yang ada di pelukannya. Ia sangat menyukai boneka pemberian Haidar.


Perjalanan mereka pada malam hari itu sangat macet, di tambah lagi suasana di dalam mobil terasa hening. Nana fokus menekuri layar ponselnya, ia berbalas pesan dengan David. Sedangkan Valen terlelap di jok depan sambil memeluk boneka beruang.


“Nana, bisakah kau pindah ke depan? Valen idur,” pinta Haidar sambil menoleh ke belakang sesaat.


Nana menghentikan gerakan jempol tangannya pun langsung menatap Haidar. “Tidak bisa! Akan memindahkan Valen ke belakang!” jawab Nana dengan nada dingin, ia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Haidar menghela nafas kasar, ia pun menganggukkan kepalanya, menyetujui Nana yang akan memindah Valen ke jok belakang. Ia segera menepikan mobilnya di jalan yang agak lebar agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.


Nana segera keluar dari mobil, lalu membuka pintu mobil depan untuk memindahkan putrinya ke jok belakang.


“Hati-hati,” ucap Haidar mengingatkan Nana yang akan mengangkat Valen.


“Aku tahu, jadi tidak perlu mengajariku!” jawab Nana dengan ketus, ia mengangkat badan kecil putrinya dan merebahkan di jok belakang.

__ADS_1


“Tunggu apa lagi?! Cepat jalankan mobilnya!” Nana berseru pada Haidar ketika ia sudah duduk di jok belakang sambil memangku kepala Valen.


“Iya,” jawab Haidar segera menyalakan mesin mobilnya kembali.


__ADS_2