
Jam 7 pagi. Valen sudah bangun lebih dulu. Ia menuju kamar ibunya, akan tetapi kamar tersebut terkunci dari dalam membuatnya harus menggedor pintu tersebut berulang kali.
“Bunda ... Bunda ...” seru Valen sambil menggedor pintu kamar tersebut.
Sementara itu di dalam kamar, Nana dan Haidar masih tertidur pulas sambil berpelukan.
“Bunda ... bangun!”
Haidar membuka kedua matanya, ia terkejut saat mendengar suara teriakan putrinya dari luar kamar di sertai dengan gedoran pintu. “Nana, bangun.” Haidar membangunkan Nana dengan lembut.
“Heum.” Nana hanya bergumam tidak jelas sembari menggeliat pelan.
“Sayang, bangun. Valen ada di depan kamar,” ucap Haidar lagi sembari meremas gunung kembar Nana bergantian.
“Ck! Tanganmu awas!” Nana kesal lalu menepis tangan Haidar dengan kasar.
“Bunda ... huah ...” Valen terdengar sudah menangis histeris. Nana segera mendudukkan diri, begitu pula dengan Haidar. Kedua orang itu segera memungut pakaiannya masing-masing dan segera memakainya.
Nana sebenarnya merutuki dirinya sendiri, karena tadi malam ia begitu terbuai dengan rayuan Haidar dan berakhir di atas ranjang dengan pria tersebut.
“Ada apa?” tanya Haidar ketika melihat Nana terdiam.
“Tidak apa-apa!” jawab Nana sembari mengenakan dress-nya.
__ADS_1
“Aku pikir kamu menyesali semuanya,” ucap Haidar lalu mendekati Nana dan memeluk wanita itu dari belakang seraya membisikkan kata cinta tepat di dekat telinga Nana. “Aku mencintaimu.”
“Iya, aku tahu!” jawab Nana segera melepaskan kedua tangan Haidar yang melingkar di pinggangnya, lalu dengan langkah yang tertatih ia berjalan ke arah pintu, dan membukanya.
“Sial!” Nana mengumpat di dalam hati karena sela pahanya masih terasa sangat sakit karena ulah Haidar. “Tadi malam, dia mengeluarkannya di dalam atau di luar ya?” Nana bertanya-tanya di dalam hati. Sumpah demi apa pun, Nana ingin menggetok kepalanya dengan batu-bata sampai berdarah. Ia kesal karena mudah terbuai dengan bujuk rayu Haidar.
Lalu di sini yang brengsek Haidar atau dirinya yang murahan? Karena menyerahkan tubuhnya pada pria tersebut dengan begitu mudahnya.
“Bunda!!!” teriak Valen diiringi dengan tangisan saat pintu kamar ibunya terbuka dengan lebar.
“Maaf, Sayang. Bunda tadi masih tidur,” jawab Nana merasa bersalah lalu menggendong putrinya.
Tidak berselang lama Yuki datang ke kamarnya, karena cemas pada cucunya yang berteriak keras.
“Tadi, aku masih tidur, Ma, jadi tidak dengar kalau Valen mengetuk pintu,” jawab Nana beralasan.
“Tidak biasanya kamu mengunci kamarmu.” Yuki menelisik penampilan Nana yang masih terlihat berantakan, dan tanpa sengaja ia melihat ada tanda merah di leher wanita tersebut.
“Siapa yang melakukannya? Apakah Haidar?” batin Yuki bertanya-tanya.
“I-iya, tadi malam aku tidak sengaja menguncinya, Ma,” jawab Nana gugup.
“Oh, begitu. Valen, ikut Oma dulu ya. Bunda mau mandi dulu,” ucap Yuki lalu mengambil alih Valen dari gendongan Nana.
__ADS_1
“Terima kasih, Ma. Maaf, sudah merepotkan,” ucap Nana tidak enak hati.
“Ish! Valen ini ‘kan cucuku. Sana kamu bersih-bersih dulu, Mama tunggu di meja makan untuk sarapan bersama,” jawab Yuki lalu segera berlalu dari sana.
Huh!
Nana bernafas lega setelah Yuki semakin menjauh dari pandangannya. Ia segera menutup pintu kamarnya, kemudian menatap Haidar yang bersembunyi di balik pintu.
“Kembali ke kamarmu!” ucap Nana dengan nada ketus.
“Aku tidak mau!” jawab Haidar, seraya memeluk Nana dengan erat.
“Lepaskan aku! Tadi malam hanyalah kesalahan, jadi jangan berharap lebih!” Nana menegaskan kepada Haidar.
Perkataan Nana yang baru saja terlontar sangat menyakiti hati Haidar.
“Sekarang pergi dari kamarku! Dan jangan pernah mendekatiku lagi!” Nana melepaskan pelukan Haidar dengan kasar kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa memedulikan Haidar yang mematung di tempat.
“Aku kira perjuanganku akan berbuah manis, ternyata aku masih harus berjuang lebih keras lagi untuk menakhlukan hati Nana yang sudah beku,” gumam Haidar, lalu keluar dari kamar tersebut, menuju kamarnya yang ada di lantai bawah.
***
Jangan lupa like dan dukungannya❤
__ADS_1