SECOND PALACE

SECOND PALACE
Berusaha berdamai


__ADS_3

“Bunda, katanya akan memindahkan aku ke sekolah baru?” tanya Valen kepada ibunya yang sedang sibuk mendesain cincin berlian di meja kerja. Sedangkan gadis kecil itu saat ini bermain sendiri di lantai dekat meja kerja ibunya.


Nana meletakkan pensil yang ia pegang di atas meja, lalu menoleh dan sedikit menundukkan kepala, menatap putrinya yang juga tengah menatapnya.


“Bunda sedang mencari sekolah yang bagus untuk Valen, sabar ya.” Nana tersenyum menatap Valen.


Valen mengangguk sambil tersenyum tipis, meski dalam hatinya ingin berkata kalau dirinya masih di ejek oleh beberapa guru dan teman-temannya karena tidak memiliki ayah. Ia tidak berani mengatakannya, gadis kecil dan menggemaskan itu takut kalau ibunya kembali bersedih dan menangis lagi.


“Valen kenapa diam?” tanya Nana.


“Tidak apa-apa, Bunda. Valen sudah mengantuk.” Gadis kecil itu segera beranjak dari duduknya sambil membawa boneka berbie kesayangannya.


“Bunda temani ya.” Nana segera beranjak juga akan tetapi putrinya mencegahnya.


“Tidak perlu, Bunda. Valen ‘kan sudah besar.” Valen tersenyum lebar pada ibunya, gadis kecil itu terlihat sangat menggemaskan sekali.


“Kalau begitu peluk dan cium Bunda dulu.” Nana berjongkok, kedua lututnya ia jadikan tumpuan, menjajarkan tinggi badannya dengan putrinya.

__ADS_1


Valen tersenyum lalu memeluk ibunya dengan erata. “Good night, Bunda.” Valen mengurai pelukannya lalu mencium kedua pipi ibunya dengan penuh kelembutan.


“Have nice a dream, Sayang.” Nana melakukan hal yang sama yaitu mencium kedua pipi putrinya dengan sangat gemas.


Valen tersenyum lalu segera menuju kamarnya. Nana yang tadinya tersenyum bahagia kini wajahnya kembali terlihat sedih.


Dia tahu kalau putrinya saat ini sedang merasa sedih dan sangat merindukan ayahnya, terlebih lagi Valen sudah bertemu dengan Haidar.


Nana menepuk dadanya sendiri beberapa kali. Rasa sedih, perih dan sesak itu kembali muncur di permukaan hatinya. Tapi, kali ini dia tidak boleh egois, karena Valen juga membutuhkan figur seorang ayah. Dia harus menahan rasa sakit hatinya, demi kabahagian putrinya, semoga saja hatiku kuat dan bisa untuk menjalaninya.


*


*


“Kenapa ayah jahat?” Valen berbicara pada foto itu.


“Bunda setiap saat akan menangis karena mengingat ayah. Valen ikut sedih melihat Bunda menangis, apakah Ayah tidak merindukan kami?” Valen langsung menutup laci itu dengan cepat, dan naik ke atas tempat tidur seraya memejamkan kedua matanya dengan erat ketika mendengar handle pintu kamarnya di putar dari luar.

__ADS_1


KLEK!


Nana memasuki kamar putrinya sambil membawa botol air, karena setiap malam putrinya itu akan kehausan, jadi akan menyiapkannya dari sekarang.


“Cepat sekali sudah tidur.” Nana mendekati putrinya yang sudah terpejam, seraya meletakkan botol air di atas nakas, kemudian ia mendudukkan diri di tepian tempat tidur sambil menatap wajah putrinya yang terlihat polos, lucu dan menggemaskan.


“Maafkan, Bunda karena sudah membuatmu menderita. Bunda yang egois, karena sudah memisahkanmu dari ayahmu. Bunda juga tahu kalau Valen sangat merindukan ayah ‘kan? Bunda mengesampingkan rasa sakit dan ego ini hanya untukmu Sayang,” ucap Nana tapi hanya terucap di dalam hati.


Tanpa terasa air matanya kembali meleleh membasahi pipinya. Nana segera menghapus air matanya lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.


“Mimpi indah, Sayang,” bisik Nana, lalu mematikan lampu di kamar putrinya dan menyalakan lampu tidur saja, membuat kamar yang bernuansa pink itu menjadi remang. Nana segera keluar dari kamar tersebut, berniat melanjutkan perkerjaannya, namun niatnya itu teurungkan saat mendengar suara bel apartemennya berbunyi.


“Siapa yang datang malam-malam?” pikir Nana, kejadian datangnya Haidar beberapa hari yang lalu membuat perasaannya menjadi sangat takut.


****


Kiss 💋💋

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, like, komentar, vote dan hadiahnya❤


__ADS_2