SECOND PALACE

SECOND PALACE
Menemui Nana


__ADS_3

“Belajar dengan rajin, setelah lulus paket C, kau harus melanjutkan pendidikanmu di luar negeri untuk menjadi seorang desainer perhiasan!” ucap Yuki pada seseorang yang ada di ujung telepon.


“Baik, aku mengerti,” jawab seseorang di seberang sana, yang tidak lain adalah Nana.


“Apakah cucuku membuatmu susah hari ini?” tanya Yuki lagi.


“Hem, seperti biasa membuatku mual di pagi hari,” jawab Nana.


“Aku dan suamiku akan ke sana besok pagi. Sudah malam, istirahatlah,” ucap Yuki lalu segera menutup panggilan teleponnya itu.


Yuki meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian ia menghembuskan nafas kasar seraya menangkup wajahnya.


“Sayang.” Fahri yang sejak tadi duduk di samping istrinya pun segera memeluk wanita yang paling di cintainya itu.


“Apakah tindakanku ini sudah benar?” tanya Yuki kepada Fahri.


“Kau sudah tepat dan benar. Jangan di pikirkan lagi, Nana perlahan-lahan sudah melupakan rasa traumanya.” Fahri berkata lembut pada istrinya.


“Heum, kau benar. Kasihan sekali gadis itu. Aku merasa bersalah kepada Nana dan Bi Juli. Ini semua karena anak kurang ajar itu!” emosi Yuki belakangan ini juga tidak stabil karena terlalu memikirkan tingkah laku putranya yang sangat menjijikkan.


“Haidar akan mendapatkan karmanya nanti. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, semoga dia segera menyadari kesalahannya,” ucap Fahri. Sebenarnya Fahri juga emosi pada putranya, dan rasanya dia ingin mengajar Haidar akan tetapi Yuki selalu menahannya.

__ADS_1


Menurut Yuki, menyembunyikan Nana dari Haidar adalah hukuman yang tepat untuk putranya itu. Terbukti jika belakangan ini Haidar mulai emosi tidak jelas dan mencari keberadaan Nana secara diam-diam.


“Ayo tidur,” ajak Fahri. Yuki menjawab dengan anggukan kepala, lalu merebahkan diri di atas tempay tidur.


*


*


*


Pagi harinya.


Yuki dan Fahri sudah bersiap pergi ke tempat Nana.


“Papa akan mengantarkan Mama ke tempat arisan. Hari ini kau tidak boleh keluar rumah, begitu pula dengan Sora! Kalian harus mengerjakan tugas kalian!” tegas Yuki pada putranya.


“Iya,” jawab Haidar kesal. Karena semenjak kepergian Nana, dia dan Sora mendapatkan tugas sendiri untuk membersihkan kamar dan mencuci baju mereka sendiri.


“Kalau begitu Mama dan Papa pergi dulu!” Yuki segera menggandeng tangan suaminya, keluar dari rumahnya itu.


“Mereka sering pergi setiap weekend,” gumam Haidar, tapi dia tidak menaruh curiga sama sekali.

__ADS_1


Fahri mengendarai mobilnya menuju apartemennya, yang saat ini di tempati oleh Nana. Tapi, sebelum itu mereka sudah berbelanja untuk kebutuhan Nana.


“Apakah dia menginginkan sesuatu?” tanya Fahri kepada istrinya.


“Tadi malam dia tidak mengatakan apa-apa,” jawab Yuki.


“Dia mungkin masih sungkan kepada kita, nanti tanyakan lagi,” ucap Fahri dan di angguki oleh istrinya.


*


*


Nana sedang mengerjakan tugas sekolahnya di ruang makan sambil mengemil kue kering. Dia menoleh ke arah pintu saat mendengar bel berbunyi.


"Mereka sudah datang," gumam Nana sembari beranjak dari sana menuju pintu apartemen tersebut.


"Bu, Pak," sapa Nana saat melihat pasangan suami istri yang berdiri di balik pintu. Kemudian ia segera mempersilahkan mereka masuk.


"Maaf, sedikit berantakan," ucap Nana sembari menata bantal sofa di ruang tamu.


"Tidak apa-apa, Na." Yuki berkata sambil meletakkan kantung belanjaannya di atas meja. Begitu pula dengan Fahri melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Kalian tidak perlu repot-repot seperti ini. Kalian sudah sangat baik kepadaku." Nana berkata dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


__ADS_2