SECOND PALACE

SECOND PALACE
Antara benci dan cinta


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, hubungan Haidar dan Nana tidak ada perkembangan, masih stuck di tempat karena Nana menutup pintu hatinya untuk Haidar yang selalu mencoba mendekatinya. Meski begitu, Yuki dan Fahri cukup senang karena pada akhirnya cucu kesayangan mereka mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.


“Mas David akan kembali ke Jakarta,” gumam Nana setelah membaca pesan dari David pada malam hari itu.


Haidar menoleh, kedua telinganya bergerak dan semakin menajam saat mendengar gumaman Nana. Ia mendekati Nana yang duduk di ruang keluarga rumah orang tuanya. Sekarang sudah menjadi sebuah keharusan untuk mereka bertiga jika weekend harus menginap di rumah utama.


"Kau bilang apa tadi?” tanya Haidar berdiri di dekat sofa yang di duduki Nana sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana, dan tatapan matanya kian menajam saat menatap Nana.


“Apa? Memangnya aku berkata apa?!” Nana balik bertanya dengan nada ketus, lalu ia beranjak dari duduknya, mood-nya selalu berantakan kalau melihat Haidar.


“Nana, aku sedang berbicara denganmu!” Haidar mencekal lengan wanita tersebut yang akan berjalan melewatinya.


“Bicara saja sama tembok!” jawab Nana seraya menyentakkan lengannya yang di cekal pria tersebut sampai terlepas. Kemudian ia segera berlalu dari hadapan Haidar, menuju kamarnya yang ada di lantai atas.

__ADS_1


CK!


Haidar berdecap kesal, kemudian ia mengikuti Nana dari belakang.


Waktu sudah malam hari, semua orang sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing termasuk Valen yang sudah tidur di kamar oma dan opanya. Jadi, tidak ada yang mendengar perdebatan Haidar dan Nana pada malam hari itu.


“Nana, aku belum selesai bicara!” Haidar menahan pintu kamar Nana yang akan di tutup dari dalam.


“Sebenarnya maumu apa sih!” Nana emosi, dan masih berusaha menutup pintu kamarnya itu, akan tetapi dia kalah tenaga, dan akhirnya Haidar berhasil masuk ke dalam kamarnya.


“Ha ha ha ha ...” Nana tertawa miris ketika mendengar jawaban Haidar. Tawa Nana langsung sirna seketika, lalu ia beralih menatap Haidar sangat tajam. “Kau tidak mempunyai hak untuk melarangku!” lanjut Nana seraya menunjuk Haidar dengan penuh emosi.


“Aku berhak atas dirimu, karena aku mencintaimu!” jawab Haidar tidak mau kalah.

__ADS_1


“Tapi, aku membencimu!” Nana memundurkan langkahnya saat Haidar semakin mendekatinya.


“Benci dan cinta beda tipis. Mungkin saja saat ini yang kau rasakan bukan benci melainkan cinta.” Haidar berkata sambil terus memajukan langkahnya mendekati Nana, sampai wanita itu semakin mundur dan terus mundur hingga tidak menyadari kalau sebentar lagi punggungnya akan membentur dinding kamar tersebut.


“Aku tidak akan pernah salah. Yang aku rasakan saat ini adalah benar-benar benci!” jawab Nana emosi, dan masih berusaha menghindari Haidar, hingga tidak terasa ia kini sudah terhimpit di dinding kamar bernuansa putih itu.


Haidar menyeringai tipis, kedua tangannya di letakkan disisi kiri dan kanan tubuh Nana, mengungkung wanita tersebut di dinding kamar itu.


“Haidar, minggir!” Nana yang awalnya emosi kini menjadi panik dan takut.


“Aku hanya ingin membuktikan apakah yang kau rasakan itu benar-benar benci atau benar-benar cinta?” Haidar berkata sembari menatap bibir Nana yang ranum dan semerah ceri. Bibir yang sudah sangat ia rindukan dan sudah menjadi candunya.


“Kau sungguh keterlalu ... emphhh!” Belum selesai bicara, bibir Nana sudah di bungkam dengan ciuman lembut Haidar.

__ADS_1


***


Duh, Haidar main nyosor aja🤣🙈


__ADS_2