
Galeri Berlian terlihat ramai pada siang hari itu, para awak media memenuhi lobby bersiap dengan kamera yang mereka bawa untuk meliput calon pemimpin baru di galeri berlian yang sangat ternama itu.
Di sisi lain. Haidar sedang berada di ruangannya sambil memutar pena yang ada di tangan kanannya sambil menyadarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Tidak berselang lama, pintu ruangannya di ketuk dari luar. Steven—asisten sekaligus omnya—masuk ke dalam ruangan tersebut setelah mendengar sahutan dari Haidar.
“Hei, anak muda! Kau tidak ingin pergi ke Galeri?” tanya Steven.
“Aku malas!” jawab Haidar.
“Why? Bukankah ibumu hari ini akan memperkenalkan pemimpi baru ke publik?” tanya Steven dengan heran.
Haidar menegakkan punggungnya kemudian melipat kedua tangannya di atas meja, kepalanya sedikit mendongak menatap Steven yang berdiri di depan mejanya.
“Aku sedikit heran dengan Mama. Seharusnya beliau memilih anggota keluarganya sebagai pemimpin Galeri berlian selanjutnya, tapi kenapa ini malah memilih orang lain yang tidak kami kenal.” Haidar menyuarakan segala pemikirannya yang dia pendam.
Steven terkekeh mendengar ucapan Haidar.
“Apakah kau berharap jika istrimu yang menjadi pemimpin baru di Galeri itu? Tidak akan mungkin Haidar!” jawab Steven dengan sinis. Seluruh keluarga Coriander sudah tahu bagaimana sikap dan sifat Sora, jadi menurut Steven, pilihan Yuki sudah tepat, memilih pemimpin baru yang bisa di percaya dan bertanggung jawab.
“Jadi, Om sudah tahu siapa pemimpin baru itu?” tanya Haidar penasaran, mengabaikan kalimat terakhir Steven, karena dia pun tidak ingin Sora menjadi pemimpin Galery Berlian milik ibunya.
“Aku hanya sedikit tahu kalau pemimpin baru itu adalah seorang wanita dan lulusan Jewelry Design terbaik dari universitas Eropa,” jawab Steven.
Rasa penasaran semakin menggelayuti pikiran Haidar. Dia beranjak dari duduknya dengan tergesa. “Ayo kita ke galeri sekarang!” Haidar berkata sambil menyambar jasnya yang tersampir di sandaran kursi.
Steven mengangguk sambil tersenyum tipis.
*
*
Sora meremas remot televisi yang ada di tangan kanannya. Dia kesal dan marah saat melihat acara live, di mana Yuki memperkenalkan seorang wanita sebagai pemimpin baru Galeri berlian.
“Seharusnya aku yang berada di posisi itu!!” geram Sora, lalu ia memperhatikan seorang wanita cantik yang sedang berbicara di depan kamera. Rasanya dia tidak asing dengan wajah itu? Pikir Sora.
__ADS_1
“Aku ucapkan terima kasih kepada Ibu Yuki yang sudah memberikan kepercayaan kepadaku. Aku akan berusaha menjadi pemimpin yang baik dan menghasilkan desain perhiasan dan berlian yang terbaik untuk Galeri Berlian,” ucap Nana kepada awak media sambil tersenyum dan sangat ramah.
Sora mematikan televisi itu dengan cepat, giginya bergemelutuk kemudian ia berteriak histeris.
Sepertinya wanita itu sudah benar-benar gila!
*
*
Haidar mengendarai mobilnya menuju Galeri Berlian. Jalanan macet pada siang hari itu, membuat Haidar berdecak kesal.
“Apakah tidak ada jalan alternatif, Om?” tanya Haidar kepada Steven yang duduk di kursi penumpang, di sebelahnya.
“Tidak ada Haidar. Ini hanyalah lampu merah biasa,” jawab Steven, sambil menatap ke depan, jalanan memang sangat padat pada siang hari itu terlihat dari volume kendaraan di sana yang mengular. Suara klakson bersahut-sahutan membuat gendang telinga sakit saat mendengarnya karena para pengguna jalan sudah lelah menunggu, lampu merah di depan sana sangat lama, tidak kunjung berubah warna hijau.
“Kita bisa telat!” kesal Haidar, lalu menekan klakson berulang kali.
“Sabar!” Steven mengingatkan.
*
*
Seluruh keluarga Coriander masih berada di sana, kecuali Haidar dan Steven yang masih terjebak macet di jalan.
“Meski dia adalah single mom, tapi semangatnya sungguh luar biasa,” ucap Reza kepada menantunya.
“Ya, berarti aku tidak salah pilih ‘kan, Pa?” tanya Yuki sambil terkekeh.
“Siapa pun pilihanmu pasti selalu menjadi yang terbaik. Papa suka dengan semangat Nana,” jawab Reza.
“Terima kasih, Pa.” Yuki tersenyum senang mendengar respon positif dari keluarganya mengenai Nana.
__ADS_1
“Haidar mana?” tanya Reza.
“Jangan pedulikan anak itu!” sahut Fahri kepada ayahnya.
Reza hanya menghela nafas kasar saat mendengar jawaban Fahri. Dia tahu jika anak dan menantunya itu sangat kecewa dengan Haidar. Kenapa sisi brengseknya itu menurun kepada cucunya sih?! Terkadang Reza merutuki dirinya sendiri.
Nana sedang berada di depan lobby Galeri Berlian. Dia tersenyum tipis saat melihat sosok pria yang datang menghampirinya sambil membawa sebuket bunga. Pria tersebut memakai seragam loreng hijau, terlihat gagah dan sangat tampan, meski memiliki kulit sawo matang.
“Aku langsung datang ke sini saat mendengar kabar dari Aunty Yuki.” David memberikan sebuket bunga cantik kepada Nana. Lima tahun tidak berjumpa, membuat David semakin terpaku pada penampilan Nana yang banyak berubah, menjadi sangat cantik dan dewasa.
“Terima kasih, Mas.” Nana langsung memeluk buket bunga itu, tidak lupa menghirup aromanya dengan dalam. Kemudian ia menatap David sambil tersenyum tipis.
Kedua orang itu terlihat sangat canggung, mungkin karena sudah lama tidak bertemu.
Mobil Civic berwarna hitam mengkilat memasuki area Galeri tersebut. Haidar dan Steven keluar dari mobil tersebut bersamaan.
“Bukankah itu David?” Steven menunjuk keponakannya yang sedang berbicara dengan seorang gadis cantik. “Apakah itu kekasihnya?” tanya Steven lagi.
Haidar diam tidak menjawab, karena dia saat ini sedang mengamati gadis yang terlihat familiar di matanya.
Gadis tersebut tersenyum lebar sambil memeluk buket bunga, dan seketika itu jantung Haidar berdetak tidak karuan seraya menjerit di dalam hati.
“Nana!”
***
Visual Nana
Visual Haidar
__ADS_1
Jangan.lupa dukungannya, like, komentar dan Vote ❤
Maaf, belum bisa update setiap hari di real life sangat padat🤧