SECOND PALACE

SECOND PALACE
Dia menderita karenamu!


__ADS_3

Sebuah memori 5 tahun yang lalu menari-nari di kepala Haidar, bagaikan sebuah kaset CD yang rusak. Rasa penyesalan, rasa bersalah, dan rasa rindu begitu membuncah di dalam dada saat melihat gadis yang selama ini selalu hadir di dalam mimpinya berada di hadapannya.


"Ini mimpi 'kan?" Haidar membantin di dalam hati. "Jika hanya mimpi tolong jangan bangunkan aku, aku masih merindukannya."


PLAK!


Steven menepuk pundak Haidar, ketika pria itu diam seperti patung.


Haidar tersadar dari segala pemikirannya yang sedang berkecamuk. Ia menoleh kepada Steven sambil berdecak sebal.


"Om!" Haidar berkata kesal.


"Kenapa kamu melamun?" tanya Steven, pasalnya sejak tadi ia berbicara dengan Haidar, tapi pemuda itu malah terlihat diam sambil menatap ke arah gadis yang sedang berbicara dengan David.


"Kamu kenal dengan gadis itu?" tanya Steven lagi.


"Om, masuk saja ke dalam galeri, aku ada urusan sebentar," jawab Haidar kepada Om nya itu.


Steven mengangguk, lalu ia segera masuk ke dalam galeri tersebut.


Haidar menghela nafas panjang, dan dia melakukannya berulang kali, seolah dia sedang mengumpulkan keberanian untuk menemui Nana. Sungguh tidak tahu malu jika dia berani menemui Nana lagi, setelah semua yang sudah dia lakukan kepada gadis tersebut.


Setelah keberaniannya terkumpul. Dia melangkahkan kakinya ke arah Nana dan David.


"Kau sungguh gadis yang kuat!" suara David memuji Nana, dan hal itu membuat Haidar tidak suka.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas. Oh ... Iya ... kenapa Mas David tidak masuk ke dalam?" tanya Nana.


David menggeleng sebagai jawaban, "aku tidak bisa berlama-lama, karena aku sebentar lagi akan berangkat bertugas ke Pulau perbatasan," ucap David.


"Oh, jadi ..." ucapan Nana terhenti saat mendengar deheman seorang pria yang berdiri tidak jauh dari David.


DEG!


Jantung Nana berdetak tidak karuan saat melihat pria yang sudah menanamkan luka di hatinya berada di hadapannya. Tidak hanya jantung Nana yang berdetak tidak karuan, Haidar pun melakukan hal yang sama.


Nana berusaha untuk mengendalikan emosinya, dan berusaha untuk bersikap biasa saja. Sejauh ini dia sudah berusaha untuk melupakan Haidar, meskipun sangat sulit.


David menoleh lalu mendengus kesal saat melihat saudaranya itu. "Kau? Sejak kapan berdiri di sini?!" tanya David.


"Nana, masuklah ke dalam!" ucap David kepada Nana, karena ia tahu jika saat ini gadis itu pasti tidak nyaman dengan kehadiran Haidar.


Haidar menatap punggung Nana dengan nanar. Kenapa hatinya berdenyut sakit saat gadis itu mengabaikannya. Rasanya seperti di tusuk ribuan jarum.


"Jadi selama ini kau tahu keberadaan Nana?" Haidar bertanya dengan nada dingin kepada David.


"Apakah itu penting untukmu?" tanya David sambil tertawa sinis.


"Dav! Kau sungguh keterlaluan! Selama ini kau tahu sendiri jika aku sudah setengah mati mencari keberadaannya!" Haidar meradang, menatap tajam David. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga buku-buku tangannya memutih, dan urat tangannya pun terlihat. Pria itu benar-benar marah karena selama ini dia merasa di tipu oleh David--saudaranya sendiri.


"Kau berbicara seolah kau saja yang tersakiti!" desis David menatap tajam Haidar.

__ADS_1


"Hiduplah dengan layak dengan pilihanmu, Haidar!" lanjut David dengan datar.


"Kau tidak berhak mengatur kehidupanku!" balas Haidar dengan singit.


"Oh, ya? Jadi kau boleh mempermainkan perasaan Nana? Tidak tahukah jika selama ini dia sudah sangat menderita karenamu!" David membalas perkataan Haidar dengan telak.


"Aku salah ..." lirih Haidar dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Satu hal yang harus kau tahu! Sejak lima tahun yang lalu, aku selalu ingin melakukan hal ini kepadamu!" David mengepalkan tangan kanannya, lalu melayangkan tinju ke wajah tampan Haidar dengan sangat kuat.


BUGH!!!


"Mati kau! Ini adalah balasan sakit hati dan penderitaan Nana selama ini!!!" geram David. Dengan satu pukulan saja sudah membuat Haidar terkapar dia atas lantai halaman galeri itu.


Haidar berusaha berdiri, telinganya terasa berdengung dan rahangnya terasa sangat sakit, dia mencium bau besi dan sudah di pastikan saat ini hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Shiit!" umpat Haidar saat menyeka hidungnya, benar dugaannya jika hidungnya mengeluarkan darah segar.


"Ayo berdiri! Lawan aku!" sentak David penuh emosi.


Haidar tentu saja tidak bisa melawan David, karena dia bukan tandingan pria itu karena dengan satu kali pukulan lagi mendarat di wajahnya, sudah di pastikan dia akan pingsan di tempat.


"Pengecut!" umpat David lalu segera beranjak dari sana meninggalkan Haidar yang masih tersungkur di atas lantai.


***

__ADS_1


Gemes ya baca part ini, wk wk wk wk, jangan ikut emosi nanti puasanya batal. 🤣🤣🙈


Jangan lupa like, komentar dan kasih vote❤


__ADS_2