
Haidar menatap tajam pada kepala sekolah dan guru kelas putrinya. Sedangkan Nana duduk di samping Haidar yang terlihat sangat marah.
"Aku akan menutup sekolah ini!" Haidar berkata dingin dan datar, tatapan tajamnya tidak lepas dari dua orang yang berdiri tertunduk di hadapannya.
"Ini adalah sekolah yang saya bangun sendiri, Pak, Anda tidak berhak untuk menutupnya!" Kepala sekolah tersebut mengangkat kepala, menatap Haidar dengan tatapan tidak suka.
Haidar tersenyum setan sembari melepaskan jam tangan mewahnya, lalu meletakkannya di atas meja dengan kasar. "Bahkan bangunan sekolah ini tak lebih mahal dari harga jam tanganku!" desis Haidar dengan perasaan yang sudah di selimuti amarah.
"Aku rasa jam tanganku itu lebih dari cukup untuk ganti rugi sekolah ini!" lanjut Haidar penuh emosi.
Kepala sekolah tersebut membulatkan kedua matanya dengan lebar. Dia tidak menyangka kalau orang yang ada di hadapannya ini ternyata bukan orang sembarangan. Ia menatap jam tangan Rolex keluaran terbaru yang harganya mencapai 200 juta rupiah.
Tatapan Haidar beralih pada guru wanita yang sejak tadi tertunduk sambil menangis sesegukan.
"Hapus air mata Anda yang palsu itu!" desis Haidar.
"Pak, Maafkan saya. Tolong jangan tutup sekolah ini ..." mohon guru tersebut sembari menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Sikap Anda tidak bisa di berikan toleransi lagi, karena Anda sudah keterlaluan, memanggil putriku dengan sebutan ANAK HARAM di depan para murid Anda!" jawab Haidar yang tidak akan memberikan ampun kepada siapa pun yang sudah menyakiti orang yang di sayanginya.
__ADS_1
"Apakah sifat dan sikap Anda mencerminkan seorang guru?!" kali ini Nana yang bersuara dengan dingin.
"Pak, Bu, maafkan saya." Mohon guru itu lagi sambil berderai air mata.
"Pak Kepala sekolah, bagaimana ini?" tanyanya kepada kepala sekolah yang sedang mengelus jam tangan mewah milik Haidar.
"Bagaimana apanya?! Ini semua gara-gara kau!" omel kepala sekolah tersebut.
"Aku akan mengerahkan anak buahku untuk segera menutup sekolah ini! Keputusan Haidar sudah bulat dan tidak bisa di bantah.
"Pak, saya mohon jangan! Nanti saya makan apa?" seru guru tersebut dengan sambil terus memohon kepada Haidar dan Nana.
Nana dan Haidar segera beranjak dari ruangan tersebut menuju kelas Valen.
Hari ini Haidar akan mengurus pemindahan putrinya ke sekolah yang paling bagus di Kota tersebut.
*
*
__ADS_1
"Ayah, teman-temanku sudah baik semua, dan aku tidak ingin pindah," ucap Valen kepada Haidar. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, menuju perjalanan pulang ke apartemen.
"Kamu harus tetap pindah Sayang." Nana yang menjawab sembari mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Oh, baiklah." Valen menurut dan tidak membantah kalau ibunya yang berbicara.
"Aku akan mengurus KK dan Akte untuk Valen," ucap Haidar pada Nana.
"Memangnya bisa?" tanya Nana.
"Tentu saja bisa. Asalkan kau menikah denganku," jawab Haidar sambil mengulas senyum tipis.
"Cih! Jangan terlalu berkhayal!" jawab Nana kesal.
"Apa salahnya berkhayal, siapa tahu 'kan khayalanku itu menjadi kenyataan," jawab Haidar tanpa menoleh karena saat ini dia sedang fokus menyetir mobil.
Nana berdecih sebal menanggapi perkataan Haidar.
***
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya, akhir bulan nanti akan tamat ya. 😄