SECOND PALACE

SECOND PALACE
Tugas dari sekolah


__ADS_3

Nana memasuki kamar putrinya yang tidak tertutup rapat. Dia mematung di ambang pintu ketika melihat pemandangan yang membuat dadanya berdesir. Di atas tempat tidur sana, Haidar sedang mengepang rambut panjang putrinya, meski pria tersebut terlihat kesusahan akan tetapi dia tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk putrinya.


“Valen, bisakah kamu diam? Ayah sedikit kesusahan,” ucap Haidar pada putrinya yang menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sembari memainkan boneka beruang.


“Ayah payah! Tidak seperti Bunda!” celetuk Valen sembari mengerucut sebal.


“Iya, Ayah memang tidak sehebat Bunda, tapi Ayah akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu,” jawab Haidar sambil terus berusaha untuk mengepang rambut putrinya itu.


“Kalau Ayah ingin menjadi yang terbaik untukku, maka Ayah harus bersama kami, tinggal satu rumah, tidur bersama dan makan bersama setiap hari.” Ucapan polos Valen membuat hati Haidar dan Nana bagaikan tercubit.


“Ayah dan Bunda tidak mungkin bersama, Valen,” jawab Haidar sambil menghela nafas panjang, dia berusaha berlapang dada.


“Kenapa? Apakah Ayah dan Bunda tidak saling mencintai?” tanya Valen lagi. Gadis kecil itu sangat cerdas dan sangat penasaran dengan kehidupan orang tuanya yang tidak pernah tinggal satu rumah. “Atau mungkin Ayah sudah tidak sayang Bunda dan Valen?” lanjut gadis kecil itu sambil cemberut.


“Bukan seperti itu. Ayah dan Bunda saling menyayangi dan juga sayang dengan Valen, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa kami jelaskan kepadamu tentang alasan kami tidak tinggal bersama.” Haidar menjelaskan kepada putrinya, dan semoga putrinya itu mengerti.


Haidar tersenyum tipis ketika selesai mengepang rambut putrinya, meski tidak serapi kepangan Nana, namun ia sangat bangga dengan hasil karyanya.

__ADS_1


Valen ikut tersenyum sembari memegang rambutnya yang sudah selesai di kepang oleh ayahnya. Dia cukup menghargai usaha Haidar dengan mengucapkan terima kasih.



Cantik sekali Valentina❤❤


Valen membalikkan badannya, yang tadinya membelakangi Haidar kini menjadi duduk berhadapan dengan ayahnya itu. “Apakah menjadi dewasa itu rumit?” tanya Valen dengan suara cadelnya.


“Iya, sangat rumit,” sahut Nana dari ambang pintu.


“Bunda, sejak kapan berada di situ?!” seru Valen pada ibunya yang berjalan kearahnya.


“Ayah ada pekerjaan sebentar. Valen sama Bunda ya.” Haidar segera beranjak dari duduknya. Ia sebenarnya sedang menghindari Nana.


Nana menghela nafas panjang, sembari menatap Haidar yang akan keluar dari kamar Valen. Nana tahu kalau saat ini Haidar sedang berusaha untuk menghindarinya.


“Ayah tunggu dulu! Aku ingin berbicara dengan Ayah dan Bunda, ini tentang PR sekolah,” ucap Valen pada Haidar yang sudah di ambang pintu bersiap keluar dari kamarnya.

__ADS_1


“Ada apa, Valen?” tanya Nana dan Haidar bersamaan.


“Aku mendapatkan tugas dari sekolah baru.” Valen menjawab sambil turun dari tempat tidur, mengambil tas sekolahnya yang tergeletak di atas sofa yang ada di sudut kamar tersebut.


Kemudian mengambil sebuah album foto dari tasnya, dan memperlihatkannya kepada kedua orang tuanya.


“Tugas apa ini?” tanya Nana seraya mengambil album kosong yang di berikan oleh putrinya.


“Ibu guru menyuruh para murid untuk mengambil foto keluarga, dengan tema piknik. Bunda, Ayah, bolehkan kalau kita bertiga pergi piknik dan mengambil foto bersama untuk mengisi album foto itu?” tanya Valen penuh harap, kedua mata itu membulat lucu seperti mata anak kucing, terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


“Ah ... itu ...” Nana melirik Haidar yang juga tengah meliriknya.


“Ya, kita semua akan pergi piknik. Bukan hanya piknik, kita akan berlibur keluar kota,” jawab Haidar pada putrinya.


Valen tersenyum senang, kemudian gadis kecil itu bersorak riang gembira seraya memeluk kedua orang tuanya bergantian.


****

__ADS_1


Valen kayaknya penyatu kedua orang tuanya. Jangan lupa dukungannya❤


__ADS_2