SECOND PALACE

SECOND PALACE
Mual dan Pusing


__ADS_3

Nana menatap Haidar ketika pria tersebut memberikan tiket pesawat dan paspor kepadanya. Padahal saat ini mereka bertiga sudah berada di Bandara.


"Kita akan liburan keluar negeri," ucap Haidar dengan datar.


"Hah?! Kenapa kau tidak mengatakan sebelumnya?!" protes Nana. Pasalnya, Haidar sebelumnya mengatakan kalau mereka bertiga akan liburan keluar kota.


"Karena yang terpenting adalah kebahagiaan Valen, bukan yang lain!" jawab Haidar dengan ketus lalu menggendong putrinya dengan salah satu tangannya, dan tangan satunya lagi menyeret koper menuju area chek-in.


Nana terdiam sesaat, entah kenapa hatinya merasa tercubit saat mendengar jawaban Haidar.


"Bunda, Ayo!"


Nana tersadar dari lamunannya, saat mendengar seruan putrinya.


"Iya!" jawab Nana segera berlari menuju tempat chek-in Bandara mengikuti Haidar dan putrinya.


"Kau ini lama sekali!" omel Haidar pada Nana yang sudah berdiri di belakangnya.


"Maaf," jawab Nana.


*

__ADS_1


*


Nana, Haidar dan Valen sudah berada di dalam pesawat. Nana sejak tadi megangi kepalanya yang terasa pusing saat baru memasuki kabin pesawat.


"Kau kenapa?" tanya Haidar pada Nana yang memijit kepala.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing dan perutku mual," jawab Nana sambil meringis kemudian membekap mulutnya saat rasa mual itu kembali mendera.


"Bunda sakit?" Valen terlihat cemas.


"Bunda tidak apa-apa, Sayang," jawab Nana berusaha untuk tetap tersenyum agar tidak membuat putrinya cemas.


"Kau sepertinya terlihat tidak baik-baik saja. Perjalanan menuju Paris sangat panjang dan membutuhkan waktu belasan jam. Sepertinya kita harus membatalkan liburan kita," ucap Haidar ikut cemas.


"Kau yakin?" tanya Haidar lagi.


Nana menjawab dengan anggukkan kepala dan tersenyum tipis.


"Pegang tanganku, Bunda," ucap Valen lalu menggenggam erat tangan ibunya.


"Terima kasih, Sayang." Nana mencium punggung tangan putrinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Iya, saat ayah tidak ada bersama kita. Valen dan Bunda 'kan saling menguatkan," jawab Valen sambil tersenyum.


Haidar tersenyum kecut ketika mendengar jawaban putrinya. Dirinya merasa menjadi pria yang paling jahat di dunia.


"Kalau begitu, Valen dan Bunda mulai sekarang harus menggandeng tangan Ayah." Haidar mengulurkan kedua tangannya pada Valen dan Nana.


"Katanya, Ayah tidak mau bersama Bunda lagi? Jadi, kenapa harus bergandengan tangan?" jawab Valen dengan telak. Gadis kecil itu mempunyai kecerdasan yang luar biasa.


"Emh, karena Ayah ingin melindungi kalian," jawab Haidar menjadi gugup karena putrinya itu.


"Ayah bisa melindungiku, tapi tidak bisa melindungi Bunda. Karena ayah tidak mau bersama Bunda lagi. Kata Opa seorang pelindung harus selalu ada di samping orang yang ingin di lindungi," jawab Valen dengan suara cadelnya, sambil menatap ayahnya yang sedang mengusap tengkuk sambil tersenyum canggung.


"Ya ampun! Kamu kelewat cerdas sayang," ucap Nana seraya mengusap pucuk kepala putrinya. "Tapi, Ayah bisa melindungi Bunda tanpa harus berada di sisi Bunda," lanjut Nana seraya menggenggam salah satu tangan Haidar yang masih terulur.


"Bagaimana caranya?" tanya Valen penasaran.


"Caranya, Ayah akan selalu memantau Bunda dari jauh," jawab Haidar.


"Ah, aku tidak mengerti!" Valen menggelangkan kepalanya beberapa kali setelah memikirkan perkataan ayahnya.


"Nanti, kamu juga akan mengerti," ucap Haidar sambil mencubit gemas pipi putrinya.

__ADS_1


"Ayah, sakit!" rajuk Valen pada Haidar.


Kemudian Haidar dan Nana tertawa bersama saat melihat wajah Valen yang terlihat cemberut lucu.


__ADS_2