
Setelah menempuh perjalanan belasan jam, akhirnya Nana, Haidar dan Valen sudah sampai Paris pada pagi hari waktu setempat. Dan mereka saat ini sudah berada di Hotel tempat mereka menginap selama liburan 1 minggu di sana.
Mereka berada di dalam satu kamar hotel atas keinginan Valen yang ingin tidur di temani kedua orang tuanya.
"Aduh!" Nana mengaduh sambil merebahkan diri di atas ranjang hotel yang empuk, lebar dan mewah itu. Kepalanya masih berdenyut nyeri dan perutnya terasa mual seperti mabuk perjalanan.
"Bunda, masih sakit?" Valen bertanya sembari menempelkan punggung tangannya di kening ibunya. Terlihat jelas jika gadis kecil itu sangat khawatir dengan keadaan ibunya.
"Na, lebih baik ke dokter saja," ucap Haidar memberikan saran.
"Aku hanya butuh istirahat saja, kenapa kalian sangat cemas?" jawab Nana sembari menatap Valen dan Haidar bergantian.
"Karena kau terlihat sakit dan pucat!" Haidar menghela nafas panjang seraya mendudukkan diri di tepian ranjang lalu menatap putrinya yang terlihat cemas dengan keadaan Nana.
"Maaf, karena sudah membuat kalian cemas, tapi aku baik-baik saja, percayalah," jawab Nana sambil tersenyum meyakinkan.
Haidar menggeleng pelan mendengar jawaban Nana yang selalu sama.
__ADS_1
"Kau istirahat saja, aku akan memesankan bubur untukmu," ucap Haidar seraya melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di atas koper yang berada di dekat ranjang.
Kemudian ia memesan bubur melalui intercom hotel tersebut.
Tidak berselang lama bubur yang di pesan Nana datang di antar oleh petugas hotel. Haidar berterima kasih dan tidak lupa memberikan tips kepada petugas hotel tersebut.
"Ini buburnya sudah ada, makanlah," ucap Haidar kepada Nana.
Nana mendudukkan dirinya seraya menatap bubur tersebut, dan entah kenapa perutnya terasa sangat mual saat mencium aroma bubur itu.
"Hoek!" Nana segera membekap mulut dan hidungnya dengan telapak tangannya, sembari turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.
Haidar meletakkan semangkuk bubur yang ada di tangannya di atas ranjang kemudian ia pun mengikuti Nana ke kamar mandi.
"Ah, kenapa kalian ke sini? Menjauhlah karena ini sangat menjijikkan," ucap Nana setelah selesai memuntahkan isi perutnya.
Valen menghentikan langkahnya dan tidak jadi mendekati ibunya, tapi tidak dengan Haidar yang mendekati Nana dan memijat tengkuk wanita tersebut saat Nana mulai muntah lagi.
__ADS_1
"Sudah baikan?" tanya Haidar kepada Nana yang kini membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari wastafel.
"Sudah, dan terima kasih," jawab Nana dengan suara sengaunya. Wajahnya memerah begitu pula dengan kedua matanya, karena rasa mual dan muntah itu menyisakan rasa yang tidak enak di perut, tenggorokan dan kepalanya.
"Ya, sudah sepatutnya aku membantumu karena kau adalah ibu dari anakku," jawab Haidar menipiskan bibirnya seraya menatap Nana dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Nana menundukkan kepalanya lalu mengangguk pelan seraya menghela nafasnya dengan dalam.
Haidar segera keluar dari kamar mandi lebih dulu saat Nana sudah tidak mual lagi. Baru setelah itu Valen dan Nana mengikuti dari belakang.
"Apakah David tahu kalau kau berlibur denganku?" tanya Haidar pada Nana yang sedang membongkar koper, mencari sesuatu.
Nana menghentikan aktifitasnya seraya mengerutkan alisnya saat mendapat pertanyaan yang tidak masuk akal dari Haidar.
"Kenapa Mas David harus tahu?" tanya Nana menatap Haidar yang duduk di sofa kamar hotel itu.
"Ya, aku pikir dia akan marah jika mengetahui kau pergi bersamaku." Haidar tersenyum kecut saat menjawab pertanyaan Nana.
__ADS_1
"Kau ini lucu sekali. Mas David bukan tipe pria pemarah seperti itu," jawab Nana sambil geleng-geleng kepala.
"Oh ..." Haidar membulatkan mulutnya sebagai jawaban. Dalam hati tidak terima dengan jawaban Nana, tapi dia bisa apa? Karena dia bukan siapa-siapanya Nana.