
Nana duduk di Cafe berhadapan dengan David pada siang hari itu. Wanita menemui David karena atas permintaan pria itu sendiri yang ingin bertemu dengannya.
Lagu akustik terdengar di setiap sudut Cafe tersebut, membuat para pengunjung menjadi merasa rileks dan betah di dalam Cafe itu.
Nana menyedot es timunnya sambil menatap David yang ada di hadapannya.
“Jadi, Mas David mengajakku bertemu ingin membicarakan apa?’ tanya Nana karena sejak tadi David diam saja.
“Ehm, sebelum aku berbicara pada intinya, aku ingin kau tahu tentang perasaanku,” ucap David seraya menatap Nana dengan dalam dan penuh sayang.
Nana menundukkan kepalanya seraya menyesap es timunnya lagi. Dia menjadi salah tingkah karena di tatap seperti oleh David, kemudian ia memberanikan diri untuk bersuara dan menatap David yang masih menatapnya.
“Mas, aku tahu tentang perasaan Mas David, tapi ...” ucapan Nana terpotong karena David menyelanya.
“Aku tahu kalau kamu masih mencintai Haidar, tapi aku mohon pertimbangkan lagi,” ucap David, terkesan memohon kepada Nana.
__ADS_1
“Mas, tidak semudah itu. Mas David adalah seorang abdi negara, apa kata orang nanti kalau Mas David menyukai seorang wanita yang sudah mempunyai anak tapi tidak memiliki suami.” Kali ini Nana berkata tegas kepada David yang sudah sering mengatakan cinta kepadanya, akan tetapi Nana merasa bimbang karena ia tidak pantas untuk pria sebaik David.
Ya, Nana sebenarnya juga menyukai David, tapi dia cukup tahu diri. David berhak mendapatkan wanita yang lebih baik darinya.
“Aku tidak akan memedulikan omongan orang lain. Yang terpenting adalah kamu, aku dan Valen,” jawab David dengan tegas.
“Tapi, aku tidak bisa, maaf,” jawab Nana seraya beranjak dari duduknya seraya mengambil tasnya.
“Mas David berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku,” lanjutnya lalu segera pergi dari hadapan David. Akan tetapi langkahnya terhenti saat akan keluar dari Cafe tersebut. Ia melihat Haidar berdiri depan Cafe sambil menatapnya dengan tajam. Dan tatapan itu semakin menajam saat melihat David berdiri di belakang Nana.
Nana menghela nafas kasar seraya memalingkan wajahnya, malas berhadapan dengan Haidar. Tidak berselang lama ia terkejut saat merasakan tangan kirinya di gandeng oleh tangan kekar, Nana menoleh ke kiri, ternyata yang menggandengnya adalah David.
“Jadi ini keputusanmu?” Haidar berkata dengan sangat dingin. “Oke, aku sudah paham dan mengerti!” setelah mengatakan hal itu, Haidar pergi dari sana membawa sebuah rasa kecewa yang luar biasa. Mungkin ini sudah saatnya, ia melepaskan Nana untuk pria yang lebih darinya. Tapi, tidak untuk melepaskan Valen—putrinya.
Nana menatap nanar punggung kokoh yang sudah menjauh dari pandangannya. Lalu tatapan matanya beralih menatap David yang ada di sampingnya.
__ADS_1
*
*
Haidar datang ke Cafe itu setelah berhasil meretas ponsel Nana, ia membaca semua pesan di ponsel Nana termasuk pesan David yang mengajak Nana bertemu di sebuah Cafe. Sekarang semuanya sudah jelas, dan tidak ada yang perlu di perjuangkan lagi. Haidar menyerah dan dirinya memang tidak pantas untuk Nana.
Nana adalah wanita yang sangat baik, sedangkan dirinya hanyalah seorang bajingan yang bisanya hanya menyakiti wanita yang di cintainya saja.
Haidar memukul setir mobilnya berulang kali, sebagai pelampiasan rasa kecewa dan sakit hatinya.
Ternyata seperti ini rasanya bila melihat orang di cintai memilih pria lain. Apakah seperti ini juga yang di rasakan Nana dulu saat dia lebih memilih Sora—mantan istrinya.
Kini dia mengerti kenapa Nana sulit untuk menerimanya kembali.
***
__ADS_1
Poor Haidar, tapi kok malah senang ya 🤣🤣
Jangan lupa like dan dukungannya ❤