SECOND PALACE

SECOND PALACE
Tuduhan Haidar


__ADS_3

Di rumah sakit. Haidar sedang menatap serius pada dokter yang sedang memeriksa Nana.


“Dia sakit apa, Dok?” tanya Haidar pada dokter tersebut.


“Lambungnya kosong, apakah sepanjang hari istri Anda selalu mual dan muntah?” tanya Dokter sebelum menjawab pertanyaan Haidar.


Haidar menatap Nana yang terkulai lemas di atas ranjang, wajah cantik wanita tersebut tampak pucat dan tidak bersinar seperti biasanya.


“Sebenarnya dia bukan istriku, dia hanya temanku, Dok,” jawab Haidar membuat Nana langsung menoleh kepadanya.


Haidar mengabaikan tatapan Nana yang menajam, pandangannya beralih menatapn dokter yang ada di dekatnya.


“Dia sudah tiga hari ini mual dan muntah, bahkan makanan apa saja tidak bisa dia telan,” lanjut Haidar memberikan penjelasan.


“Ada lagi keluhannya?” tanya Dokter kepada Haidar dan Nana.


“Kepalaku juga pusing dan badanku lemas. Aku tidak apa-apa dokter, hanya masuk angin biasa. Dan bisakah aku pulang sekarang juga? Karena putriku pasti sendirian di rumah,” jawab Nana sekaligus memohon kepada dokter.

__ADS_1


Haidar menghela nafas dengan kasar sambil menatap sebal kepada Nana.


“Sekali saja peduli dengan dirimu sendiri!” kesal Haidar.


“Aku tidak bisa! Karena aku tidak bisa mengabaikan putriku begitu saja!” jawab Nana dengan lirih namun terdengar sangat kesal.


“Terserah kau saja!” Haidar sudah menyerah menasehati Nana.


“Dokter biarkan saja dia pulang!” ucap Haidar kepada dokter yang juga terlihat kesal karena baru kali ini mendapatkan pasien yang keras kepala seperti Nana.


“Tapi, pasien harus mendapatkan perawatan intensif karena bila kondisinya seperti ini terus akan mengakibatkan dehidrasi,” jelas dokter.


“Dokter, aku mohon izinkan aku pulang,” pinta Nana.


“Saya akan mengizinkan Anda pulang tapi setelah Anda melakukan serangkaian tes kesehatan, bagaimana?” jawab Dokter tersebut karena dia tidak akan membiarkan pasiennya yang sedang dalam keadaan sakit parah keluar dari rumah sakit begitu saja.


Nana terdiam, terlihat jelas jika wanita tersebut mempertimbangkan permintaan dokter tersebut. Tapi, tidak berselang lama, dia mengangguk sebagai jawaban, membuat dokter tersebut tersenyum senang.

__ADS_1


Dokter langsung memerintahkan perawat yang sejak tadi menemaninya untuk melakukan beberapa tes kesehatan kepada Nana.


Nana menautkan kedua tangannya bergantian, sambil menghela nafas berulang kali saat perawat akan mengambil sample darahnya.


“Kenapa kau terlihat sangat gugup?” tanya Haidar seraya menatap Nana yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur pasien.


“A-aku hanya takut jarum,” jawab Nana beralasan.


“Takut jarum? Benarkah, tapi saat perawat memasang infus di tanganmu, kau terlihat tenang?” Haidar mulai mencurigai sikap Nana yang menurutnya sangat aneh.


“Em ... mungkin tadi aku sedang sangat lemas, jadinya aku diam saja saat di infus,” kilah Nana lagi.


Haidar tentu saja menepis segala alasan yang di berikan oleh wanita tersebut.


“Sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?! Apakah kau sakit karena David marah kepadamu? Karena kau berlibur denganku tanpa izin darinya?!” Haidar melontarkan tuduhan kepada Nana dengan sangat tajam.


Nana menahan air matanya saat mendapatkan tuduhan itu dari Haidar.

__ADS_1


“Ini semua tidak ada hubungannya dengan Mas David! Karena aku dan Mas David tidak mempunyai hubungan apa-apa!” jawab Nana dengan nada tinggi sambil meringis sakit saat perawat menusukkan jarum ke jari telunjuknya untuk mengambil sample darahnya.


“Kau tidak perlu berbohong kepadaku! Karena aku sudah mengikhlaskanmu untuk David!” Setelah mengatakan hal itu, Haidar segera keluar dari ruang rawat Nana untuk menenangkan dirinya.


__ADS_2