SECOND PALACE

SECOND PALACE
Dia fotocopy-ku


__ADS_3

“Ayah kenapa baru datang?” tanya Valen lagi.


Pertanyaan Valen berhasil membuat Haidar semakin membisu karena rasa bersalah dan penyesalannya semakin menyelimuti hatinya.


“Maaf.” Hanya itu yang bisa di katakan Haidar. Meski dia tahu kalau kata maaf itu tidak cukup untuk menebus semua kesalahannya selama ini. Kedua mata pria itu berkaca-kaca dan bibirnya bergetar saat melihat putrinya yang duduk di sebelahnya sambil meremas boneka beruang yang ada di pelukan. Ia tahu kalau Valen saat ini sedang menahan amarah dan kekecewaan yang begitu mendalam.


Suasana hening mengiringi perjalanan Haidar dan Valen menuju rumah orang tuanya.


“Aku tidak benci sama Ayah.” Suara cadel Valen memecah keheningan di dalam mobil tersebut. Haidar langsung menoleh dan menatap putrinya sesaat karena saat ini dia sedang fokus menyetir mobil. Dia terkejut mendengar ucapan putrinya itu.


“Ayah pantas untuk di benci.” Hati Haidar bergetar tidak karuan dan ada perasaan menghangat yang menyelimuti hatinya ketika bibirnya mengucapkan kata ‘ayah. Dia mulai saat ini akan membiasakan diri untuk menyebut ‘ayah’ di depan putrinya.


“Tidak ... kata Bunda, ayah selama ini tidak datang kepada kami karena sibuk mencari uang.”


Hati Haidar yang tadinya menghangat kini menjadi terasa tertusuk ribuan belati ketika mendengar ucapan putrinya. Dia semakin merasa bersalah pada Nana. Wanita itu sungguh hebat, mampu menutupi kebusukannya selama ini dari putri mereka.

__ADS_1


“Yang di katakan Bunda benar. Ayah selama ini sangat sibuk dengan perkerjaan hingga lupa waktu.” Haidar berkata sembari menekan dadanya yang terasa nyeri.


“Jadi karena itu Bunda setiap malam menangis kalau mengingat ayah?” Manik mata berwarna abu itu membulat sempurna, terlihat poos dan sangat menggemaskan saat menatap Haidar.


Satu fakta lagi yang baru Haidar ketahui tentang Nana. Sebuah luka yang dia torehkan di hati Nana ternyata masih begitu membekas di hati wanita itu sampai saat ini.


“Nana maafkan aku. Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku dan akan membuat kalian bahagia,” batin Haidar, tanpa terasa air matanya menetes dan membahasi pipinya.


Haidar mengusap pucuk kepala putrinya dengan lembut, seraya berkata, “apakah Bunda selalu bersedih setiap malam?”


“Jadi, untuk sementara waktu apakah Valen mau berjanji untuk menyembunyikan pertemuan kita ini? Ayah hanya tidak ingin kalau Bunda sedih dan menangis lagi.” Haidar berkata lembut kepada putrinya.


Valen mengangguk lagi, karena dia pun tidak ingin melihat bundanya menangis karena mengingat ayahnya.


“Terima kasih, Sayang.”

__ADS_1


“Aku melakukannya bukan untuk ayah, tapi aku melakukannya karena tidak ingin membuat Bunda menangis,” jawab Valen dengan datar.


Haidar tersenyum meringis mendengar jawaban putrinya. Ternyata bukan hanya wajahnya yang menurun pada putrinya akan tetapi sikapnya yang menyebalkan pun menurun pada gadis kecil itu.


“Dia benar-benar fotocopy-ku.” Haidar bergumam sambil terkekeh pelan. Sebenarnya ada rasa bangga di dalam dada karena benih premiumnya bisa membentuk gadis yang sangat cantik dan menggemaskan seperti Valen.


Suasana di dalam mobil yang tadinya terasa canggung kini mulai sedikit mencair. Valen sudah mau berbicara dengannya meski masih terkesan dingin dan datar. Tapi, tidak apa-apa, semuanya ‘kan butuh proses.


Mobil yang di kendarai Haidar kini sudah terparkir rapi di halaman rumah mewah kedua orang tua Haidar.


Valen segera keluar dari mobil dan berlari kepada Oma dan Opanya yang menyambutnya di teras rumah.


****.


Like, komentar, vote dan kasih hadiah❤💃

__ADS_1


__ADS_2