SECOND PALACE

SECOND PALACE
Kenapa ayah baru datang?


__ADS_3

Haidar tersenyum senang. Dia sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk putrinya yang berupa coklat, dan boneka beruang yang lucu. Ia meletakkan semua hadiah tersebut di jok belakang. Lalu ia segera memacu kendaraannya ke sekolah Valen.


Valen menunggu ibunya di pos satpam. Dia sendirian di sana di temani oleh salah satu satpam yang sudah dia kenal.


“Pak, bisa hubungi bunda tidak? Kok, bunda belum jemput juga,” tanya Valen kepada Satpam yang berdiri di dekat pintu pos.


“Bapak tidak punya nomor bundanya Valen. Coba Bapak tanya ke ibu guru dulu ya.” Satpam menjawab akan tetapi Valen segera menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Tidak usah, Pak. Mungkin sebentar lagi bunda akan datang,” jawab Valen.


Satpam tersebut mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Valen, tanpa banyak tanya lagi ia segera memasuki ruang guru dan untuk meminta nomor telepon ibunya Valen. Setelah mendapatkan nomor telepon Nana, satpam tersebut kembali lagi pos dan segera menghubungi ibunya Valen.


“Oh, kata bundanya Valen. Oma dan Opa yang menjemput,” ucap Satpam kepada Valen yang masih duduk di kursinya.


Valen tersenyum lebar lalu mengangguk pelan.


Tidak berselang lama ada mobil Civic mewah memasuki area sekolah tersebut. Ya, mobil tersebut adalah milik Haidar. Pria tersebut segera keluar dari mobil dan menghampiri satpam yang berdiri di pos.


“Selamat siang, Pak. Saya ingin menjemput putri saya,” ucap Haidar kepada satpam tersebut.


“Putri bapak namanya siapa?” tanyanya.


“Valen,” jawab Haidar.


“Maaf, anak yang bernama Valen yang menjemput adalah Oma dan Opanya. Baru saja saya menghubungi bundanya.” Satpam tersebut tidak mudah percaya begitu saja, karena sekarang banyak penculikan anak yang berpenampilan rapi. Bisa saja ‘kan kalau pria tampan di hadapannya ini adalah seorang penculik.

__ADS_1


“Sebentar, aku bisa tunjukkan pesan yang di kirimkan oleh Mama alias Omanya Valen.” Haidar segera mengambil ponselnya dan menunjukkan pesan singkat yang di kirimkan oleh Yuki.


Satpam menganggukkan kepalanya setelah membaca bukti pesan tersebut, lalu ia segera manggil Valen yang berada di dalam pos.


“Jadi hubungan Anda dan Valen apa?” tanya Satpam ketika Valen sudah berjalan keluar dari pos satpam.


“Pak, apakah Anda tidak melihat kalau wajahku dan Valen sangat mirip?” Haidar bertanya dengan nada kesal, karena sejak tadi di introgasi.


Satpam tersebut kemudian menatap wajah Haidar dan Valen bergantian. Lalu ia baru tersadar kalau wajah keduanya memang sangat mirip.


“Apakah bapak ini ayahnya Valen?” tanya Satpam.


“Iya, Pak. Saya baru pulang dari luar negeri dan ingin memberikan kejutan kepada putri saya. Karena kami sudah lama tidak berjumpa.” Haidar memberikan alasan yang masuk akal, agar dia bisa membawa Valen pergi dari sana.


Valen terdiam sembari menatap Haidar yang sedang berbicara kepada satpam.


Valen menundukkan kepala sambil mengangguk pelan. Dia merasa senang tapi juga merasa sedih. Senang karena bisa bertemu lagi dengan ayahnya, dan sedih karena mengingat ibunya yang selalu menangis karena mengingat ayahnya itu.


Akhirnya satpam mengizinkan Haidar membawa Valen pulang. Tapi, sebelumnya satpam tersebut meminta identitas Haidar lalu memotretnya dengan ponselnya sebagai bukti sekaligus untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan.


Haidar dan Valen saat ini sudah berada di dalam mobil. Rasa canggung kini menyerbu perasaan Haidar. Di tambah lagi sejak tadi Valen diam dan terkesan dingin kepadanya.


“Hai, apa kabar,” ucap Haidar sambil tersenyum kaku.


“Baik,” jawab Valen datar, seraya melirik ayahnya yang duduk di balik stir mobil.

__ADS_1


“Emh ... namamu bagus.” Haidar bersuara lagi, berusaha untuk memecahkan suasana yang terasa canggung dan dingin.


“Terima kasih, aku lahir di hari kasih sayang.” Valen menjawab tanpa menoleh.


“Oh, begitu ya. Emh ... aku mempunyai hadiah untukmu.” Haidar menoleh ke belakang lalu mengambil hadiah yang sudah ia siapkan dan memberikannya kepada Valen.


Valen terdiam sejenak menatap hadiah yang disodorkan kepadanya, lalu beralih menatap wajah ayahnya dengan dalam.


“Kamu tidak suka ya?” Haidar bertanya dengan nada pelan. Wajar saja kalau putrinya tidak mau menerima hadiah darinya.


“Kata Bunda tidak baik kalau menolak pemberian orang,” jawab Valen lalu menerima coklat dan boneka beruang itu.


Haidar tersenyum senang saat melihat putrinya memeluk boneka beruang tersebut, meski raut wajah Valen tetap terlihat dingin kepadanya.


“Hari ini Bunda sibuk. Valen mau ikut ayah?” tanya Haidar pada Valen.


Rasanya sangat canggung sekali saat menyebut dirinya dengan kata ‘ayah’.


“Ayah?” Valen menatap Haidar dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan.


Haidar terdiam, dalam benaknya berpikir. Apakah dirinya pantas di sebut sebagai seorang ayah? Mengingat selama ini dirinya begitu kejam kepada Nana dan putrinya?


“Ayah kenapa baru datang?” tanya Valen lagi.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya untuk Valen❤


__ADS_2