
Tidak hadirnya Sora di pengadilan membuat proses perceraian berjalan cepat. Haidar kini bisa bernafas lega setelah mendengar hakim mengetuk palu. Dia kini sudah resmi bercerai dengan Sora dan statusnya sudah berubah menjadi duda.
Yuki dan Fahri juga bernafas lega lalu memeluk putra mereka bergantian. Dan mengucapkan selamat atas perceraian putranya.
“Duda muda.” Fahri menepuk pundak putranya beberapa kali setelah mereka bertiga beserta pengacara Haidar keluar dari ruang persidangan.
Haidar tersenyum penuh kelegaan, kemudian ia mengucapkan banyak terima kasih kepada pengacaranya yang turut membantu proses perceraiannya. Pengacaranya itu segera berpamitan karena akan mengurus kasus lainnya, begitu pula dengan Haidar dan kedua orang tuanya segera keluar dari gedung putih itu.
“Ma, masalahku sudah selesai. Jadi, sekarang apakah aku boleh berjuang untuk mendapatkan Nana?” tanya Haidar ketika mereka sudah sampai di parkiran.
Yuki tersenyum dan mengangguk pelan. “Iya, tentu saja boleh. Tapi, dekati dia secara perlahan ... Mama tahu caranya agar kamu bisa meluluhkan hati Nana dengan cepat.” Yuki selanjutnya menjelaskan rencananya kepada putranya.
Haidar mengangguk patuh, mengikuti rencana ibunya yang menurutnya bisa berhasil 100 persen.
“Terima kasih, Ma, Pa.” Haidar memeluk kedua orang tuanya bergantian, kemudian ia segera masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Fahri dan Yuki juga melakukan hal yang sama. Mereka segera keluar dari area gedung pengadilan itu menggunakan mobilnya masing-masing.
__ADS_1
*
*
Nana saat ini sedang berada di Galeri Berlian. Dia terlihat sibuk sekali dengan beberapa desain perhiasan yang sedang dia kerjakan di ruangannya, sampai-sampai ia lupa waktu kalau saat ini adalah jam pulang sekolah putrinya.
Tok ... Tok
Ruangannya terketuk dari luar. Nana menoleh sesaat dan mempersilahkan masuk seseorang yang ada di balik pintu tersebut.
Nana segera meletakkan pensilnya seraya beranjak dari duduknya saat mendengar suara Yuki.
“Mama.” Nana segera menghampiri Yuki, menyambut kedatangan wanita paruh baya itu dengan pelukan.
“Kamu tidak menjemput Valen?” tanya Yuki setelah pelukan mereka terurai.
“Astaga!” Nana menepuk jidatnya sendiri dengan kesal, kemudian ia melirik jam yang ada di dalam ruangannya. Waktu sudah menunjukkan jam 11 siang. Ia terlambat 10 menit untuk menjemput putrinya, membuat dirinya menjadi sangat panik.
__ADS_1
“Biar Mama saja yang jemput. Kamu berada di sini sana. Oh, iya, sekalian nanti Mama akan membawa Valen ke rumah. Kamu jangan cemas ya.” Yuki berkata sambil tersenyum tipis saat meminta izin kepada Nana.
Nana bernafas lega mendengarnya.
“Iya, Ma. Maaf, merepotkan.”
“Tidak sama sekali. Valen ‘kan cucu kesayangan Mama dan Papa.” Yuki segera keluar dari sana setelah mendapatkan izin dari Nana.
Sedangkan Nana kembali ke tempat duduknya, dan dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia harus segera menyelesaikan desain perhiasan yang di pesan oleh salah satu pengusaha ternama di kota itu.
Yuki merogoh ponselnya yang ada di dalam tas mewahnya. Ia segera mengirimkan pesan pada Haidar dan mengatakan kepada putranya itu supaya segera menjemput Valen di sekolah. Tidak lupa, ia menyebutkan alamat sekolah Valen kepada Haidar.
“Selamat berjuang Haidar,” gumam Yuki setelah selesai menghubungi putranya, sambil terus berjalan sampai di halaman Galeri, menghampiri suaminya yang menunggu di dalam mobil.
***
Jangan lupa kasih Vote-nya ya udah hari senin nih 💃❤
__ADS_1