
Nana membuka pintu apartemennya. Ia menatap seorang pria memakai jaket hijau berdiri di balik pintu tersebut.
“Malam, Kak. Dari Food-Go mengantarkan pesanan,” ucap pria tersebut.
“Saya tidak pesan apa-apa,” tolak Nana seraya menatap goodie bag yang berlogo restoran terkenal yang di serahkan kepadanya.
“Saya tidak tahu, Kak. Tugas saya hanya mengantarkan makanan sesuai dengan orderan,” jawab pria tersebut, lalu menyerahkan goodie bag itu kepada Nana.
“Tidak, saya tidak mau menerimanya. Karena saya tidak merasa memesan, atau makanan ini buat Mas dan keluarga di rumah,” ucap Nana kepada pria tersebut.
“Jangan Kak, ini terlalu mahal. Dan sudah di bayar.”
“Tidak apa-apa. Ambil saja, Mas,” jawab Nana sambil tersenyum ramah.
“Serius, Kak?”
“Iya, rejeki buat, Mas nya,” jawab Nana.
“Terima kasih banyak, Kak.” Pria tersebut mengucapkan banyak terima kasih, lalu segera pergi dari sana dengan hati yang riang gembira.
Nana segera menutup pintu apartemennya dengan rapat. “Aneh sekali, kenapa ada yang memesan makanan atas namaku? Apakah di sini ada yang bernama Nana selain aku? Sepertinya tidak ada,” gumam Nana sambil berjalan menuju meja kerjanya.
__ADS_1
*
*
Haidar tersenyum sambil menatap ponselnya kalau makanan yang dia pesan untuk Nana sudah di terima.
Akan tetapi senyumannya itu mengendur ketika mendapatkan Whatsaap dari kurir yang mengantarkan pesanan itu.
“Terima kasih, makanannya, Kak. Semoga rejeki kakak lancar dan sehat selalu, amin.”
Haidar yang sudah senang kini menjadi lemas, karena Nana tidak mau menerima kiriman makanan darinya.
Jelas Nana tidak akan menerimanya karena wanita itu pasti merasa curiga karena tiba-tiba ada yang mengirim paket makanan atas wanita itu sendiri.
Haidar terus merutuki dirinya sendiri dengan perasaan kesal luar biasa.
*
*
Pagi hari menjelang siang, Haidar sudah bersiap menuju pengadilan agama. Dia bangun kesiangan karena tadi malam tidak bisa tidur karena memikirkan Nana. Pria tampan itu membuka pintu apartemennya, akan tetapi ia segera menutup pintunya kembali saat melihat Nana dan Valen kelur dari apartemen mereka. Ya, Haidar membeli apartemen baru yang bersebelahan dengan Nana.
__ADS_1
“Bunda, sebenarnya aku malas berangkat sekolah,” rengek Valen kepada ibunya.
Nana menghentikan langkahnya sembari menatap putrinya yang terlihat sangat cantik pada pagi hari itu. “Valen ‘kan anak pintar,” ucap Nana.
“Iya, tapi Bunda, aku masih di ejek oleh guru karena tidak punya ayah,” jawab Valen dengan lirih.
DEG!
Jantung Haidar terasa mencelos saat mendengar pembicaraan ibu dan anak itu, kemudian ia mengintip Valen dan Nana yang kebetulan berdiri di depan unit apartemennya. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya. Betapa kejamnya dia selama ini karena sudah membuat anak dan wanita yang di cintainya itu menderita.
“Sayang. Sabar dulu ya, Bunda sedang mencari sekolah terbaik untuk Valen yang cantik ini,” jawab Nana pada putrinya.
Valen mengangguk patuh, meski hati kecil itu sangat bersedih.
“Ayo! Bunda akan mengantarkanmu ke sekolah!” Nana berjongkok di depan putrinya.
Seketika itu senyuman Valen langsung mengembang, saat melihat punggung ibunya yang ada di depannya, tidak membutuhkan waktu lama ia langsung memeluk punggung itu. Sudah lama dia tidak di gendong belakang oleh ibunya.
“Ya ampun, kamu berat sekali sayang.” Nana tertawa pelan sambil berdiri dengan susah payah. Valen hanya tertawa cekikikan sambil menciumi pipi ibunya dengan gemas.
Haidar rasanya ingin menyapa ibu dan anak itu, akan tetapi ini bukan waktu yang tepat, ia harus segera menyelesaikan masalahnya lebih dulu.
__ADS_1
***
Jangan lupa dukungannya yak ❤💋💃