
“Hai!” Haidar menyapa Nana dengan penuh kecanggungan. Bahkan pria tersebut terlihat tersenyum lebar seolah tidak mempunyai salah sama sekali.
Nana diam tidak menjawab sapaan Haidar. “Valen mau buah manggis? Kamu ‘kan belum pernah makan manggis,” ucap Nana mengabaikan Haidar yang duduk berseberangan dengannya.
“Mau Bunda,” jawab Valen dengan cepat. Dia memeluk ibunya lagi dengan erat ketika melihat raut wajah Nana terlihat sedih. “Ehm, Valen juga mau buah jeruk dan apel!” Valen berseru dengan riang, agar ibunya tidak sedih lagi.
“Oke, Bunda ambilkan ya.” Nana segera meraih tiga buah yang diinginkan putrinya dari kantong belanjaan.
Menyadari situasi di ruang makan itu sangat canggung dan terasa panas. Yuki berinisiatif untuk mengambil alih Valen dari pangkuan Nana.
“Valen, makan buahnya sama Oma saja yuk! Sambil lihat Opa yang sedang bercocok tanam di kebun belakang. Di sana juga ada kolam ikan hias loh,” ajak Yuki lalu dengan gerakan cepat menggendong cucunya dan segera membawa Valen ke belakang, tanpa memberikan kesempatan untuk Nana yang ingin protes.
Haidar tersenyum di dalam hati. Ia harus berterima kasih kepadan ibunya karena sudah di berikan kesempatan berdua dengan Nana.
__ADS_1
Mulai dari mana ya? Kini Haidar malah bingung sendiri, saat berdua saja di ruang makan dengan Nana.
Nana merasa jengah, dadanya terasa sesak dan sakit hati saat berhadapan dengan Haidar. Ia ingin beranjak dari duduknya tapi Haidar mecegahnya.
“Tunggu, Na!” seru Haidar.
“Apa?!” jawab Nana dengan datar dan dingin.
“Aku ...”
“Terima kasih sudah memaafkan aku.” Haidar berkata pelan.
“Memaafkan memang sangat mudah bagiku. Tapi, luka yang kamu torehkan di dalam dadaku tidak akan bisa sembuh dan hilang bersama kata maaf itu!” Nana berkata pelan tapi penuh penekanan.
__ADS_1
“Aku tahu. Kesalahanku sangat besar dan fatal. Maafkan pria pengecut ini,” ucap Haidar seraya menatap Nana dengan dalam.
“Kau bukan hanya pengecut, tapi kau adalah pria yang paling menyebalkan dan menjijikkan di dunia ini!” balas Nana dengan menggebu-gebu, kedua matanya memanas dan terlihat memerah karena menahan emosi dan air mata.
Haidar membiarkan Nana meluapkan semua amarah kepadanya. Bukan hanya itu saja, melainkan yang di katakan Nana semua benar, kalau dia ini adalah seorang pria pengecut, menyebalkan dan juga sangat menjijikkan.
“Tapi, saat ini aku berusaha untuk tidak egois dan tidak mengelak dari sebuah kenyataannya. Kenyataan jika kau adalah ayah biologis putriku!” Tangis Nana akhirnya pecah saat mengatakan itu semua. Nana menangis tersedu-sedu hingga dadanya terasa sesak dan tenggorokannya terasa sakit. Sungguh kejam sekali dunia ini kepadanya. Dan kenapa Tuhan juga tidak adil kepadanya.
“Nana ...” Haidar ikut menangis. Sebuah kesalahan di masa mudanya dulu telah menghancurkan hati seorang wanita. Dia sungguh jahat sekali. Rasanya Haidar ingin memutar ulang waktu kembali, tapi sayangnya tidak bisa. Kini yang bisa ia lakukan adalah memperbaiki semua kesalahannya, menjadi ayah yang baik untuk putrinya. Meski dia juga sedang berusaha untuk meluluhkan hati Nana, dia yakin kalau Nana suatu saat nanti akan kembali ke pelukannya.
“Aku mengizinkanmu untuk bertemu dengan Valen, karena dia juga butuh figur seorang ayah. Tapi, aku harap kau tahu batasanmu!” ucap Nana seraya beranjak dari sana seraya mengusap air matanya dengan kasar.
***
__ADS_1
Like ya Like