
Haidar menyuapi putrinya dengan telaten. Pria tersebut memperhatikan Valen yang sedang memakan sandwich.
"Selain suka sandwich, Valen suka apa lagi?" tanya Haidar pada putrinya.
Kedua mata Valen melirik ke atas, menatap plafon apartemennya, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk di dekat dagunya.
"Aku suka apa saja, tapi lebih suka makanan western," jawab Valen dengan suara cadelnya.
"Sama dong dengan Ayah. Ayah juga suka makanan western." Haidar menjawab dengan antusias.
"Woah, benarkah?" Kedua bola mata itu membulat lucu, seperti mata anak kucing yang menggemaskan.
Haidar mengangguk seraya mengusap pucuk kepala putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian, ia menyuapi putrinya dengan potongan sandwich. Valen menerima suapan ayahnya dengan sangat antusias.
Gadis kecil itu kini mulai menerima kehadiran Haidar. Sudah tidak sedingin seperti hari kemarin. Haidar sangat senang dengan perubahan sikap putrinya yang cepat menerimanya. Semoga ini awal yang baik untuk menakhlukkan hati Nana, batin Haidar.
"Ayah, apakah hari ini bisa mengantarkan aku ke sekolah dengan Bunda?" tanya Valen dengan suara cadelnya.
Haidar menatap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebenarnya pagi ini dirinya ada meeting penting, akan tetapi demi putrinya, ia akan menunda meetingnya itu.
"Tentu saja bisa, Sayang. Mau berangkat sekarang?" tanya Haidarb dengan lembut.
"Tunggu habiskan sarapannya dulu. Ayah, bisa tolong panggilkan Bunda di kamarnya?" jawab Valen sekaligus meminta Haidar untuk memanggil ibunya di dalam kamar.
"Oke." Haidar segera beranjak dari duduknya. Tidak perlu bertanya lagi di mana letak kamar Nana, karena ia sudah hafal semua ruangan yang ada di dalam apartemen tersebut. Karena apartemen itu adalah milik Fahri--ayahnya.
__ADS_1
*
*
Nana sedang bersiap di dalam kamarnya, saat ini ia sedang memoleskan bedak tipis di wajah cantiknya.
Tok ... Tok ...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Nana pikir itu adalah Valen, jadi ia berseru mempersilahkan masuk orang di balik pintu tersebut.
"Sebentar lagi, Sayang. Bunda sedang bersiap," ucap Nana ketika mendengar suara pintu terbuka.
Haidar memasuki kamar tersebut dengan langkah pelan. Ia memperhatikan setiap sudut kamar tersebut, lalu pandangannya teralihkan pada sosok wanita cantik yang sedang mematut diri di depan cermin.
Aroma setrobery menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Haidar saat Nana menyemprotkan parfom ke setiap titik nadinya. Aromanya masih sama seperti dulu, dan aroma ini sangat di rindukan Haidar.
DEG!
Seketika itu jantung Nana berdebar tidak karuan karena melihat bayangan Haidar di belakangnya. Untuk sesaat Nana terpaku, kemudian ia menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya dirinya saat bayangan yang ia lihat di pantulan cermin ternyata nyata.
"Kau!" Nana menujuk Haidar dengan sisir yang ia pegang, kedua matanya melotot lebar ke arah pria tersebut. Dari sorot matanya nampak jelas kalau Nana sangat membenci Haidar.
"Apa? Aku 'kan sudah mengetuk pintu sebelumnya, dan kau yang menyuruhku masuk," jawab Haidar dengan santainya.
Nana memejamkan kedua matanya sesaat seraya mengetatkan rahangnya. Kesal, emosi dan benci bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Tapi, dia harus menahan semua yang ia rasakan saat ini, demi putri kesayangannya yang membutuhkan figure seorang ayah.
__ADS_1
"Sekarang kau keluar dari kamar ku!" usir Nana dengan nada jengkel.
"Kalau aku tidak mau?" Haidar membalas perkataan Nana dengan pelan dan santai.
Nana menjadi semakin kesal, wanita cantik itu mengepalkan kedua tangannya di udara. Lalu segera keluar dari kamarnya sambil menenteng tasnya.
Haidar tersenyum tipis kemudian mengikuti langkah Nana dari belakang.
*
*
"Bunda dan Ayah sudah siap?" tanya Valen kepada kedua orang tuanya yang sudah berada di ruang makan.
"Sudah. Ayo ... Kita berangkat," ajak Nana pada putrinya.
"Yeiii! Setelah ini ibu guru dan teman-temanku akan melihat Ayahnya Valen, dan mereka tidak akan mengataiku anak haram lagi," seru Valen dengan riang.
Nana memalingkan wajahnya dan menahan air matanya saat mendengar perkataan putrinya yang begitu menusuk hatinya. Berbeda dengan Haidar yang saat ini menahan amarah, dan penyesalan yang begitu besar di dalam dada.
Di dunia ini tidak ada yang namanya anak haram. Semua anak yang terlahir di dunia ini dalam keadaan suci dan bersih, meski terlahir tanpa ikatan pernikahan atau alasan yang lainnya.
Haidar mengepalkan kedua tangannya dengan erat, hatinya bagai di tikam ribuan jarum, sakit rasanya sangat sakit hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas.
***
__ADS_1
Jangan lupa like-nya ya bestie❤❤💋