
Fikri mengantarkan Nessa sampai ke depan tempat kos Nessa. Ketika Nessa turun dari mobil ia melihat mobil yang digunakan Anggoro masih terparkir di seberang tempat kos. Nessa masuk ke dalam kos, tiba-tiba Anggoro memanggilnya.
“Nessa.”
Nessa menoleh.
“Kamu darimana larut malam baru pulang?” tanya Anggoro.
“Menemani bos makan malam dengan klien,” jawab Nessa.
“Kok makan malam sampai tengah malam?” tanya Anggoro curiga.
“Terserah gue. Yang jelas gue kerja dan pekerjaan gue halal. Nggak kayak lu, kerjanya pacaran di hotel sama cewek pake duit dan mobil gue,” kata Nessa.
“Pergi lu dari sini! Sebelum gue teriakin maling,” kata Nessa.
Nessa langsung masuk ke dalam kos. Anggoro masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat kos Nessa.
***
Waktu terus berlalu tak terasa sudah waktunya kencan butanya dengan Boyke. Tadi malam mamahnya mengirim alamat tempat Nessa akan bertemu dengan Boyke. Nessa bangun dari tempat tidur dengan tidak semangat. Ia harus bersiap-siap karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Nessa mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi. Pukul sebelas siang Nessa sudah siap untuk berangkat. Dia mengambil ponselnya untuk memesan ojek online. Padahal tadi malam mamahnya berpesan untuk naik taksi online, jangan naik ojek online.
Bodo amat, lebih baik naik ojek online daripada naik taksi online. Irit uang. Lagi pula Mamah nggak tau, kata Nessa di dalam hati.
Nessa langgsung memesan ojek online. Lima menit kemudian ojek yang dipesannya sudah berada di depan kosnya. Nessa keluar dari kamar kos menuju ke depan kosnya. Seorang pengemudi ojek sudah menunggu di depan kosnya. Namun ketika ia mendekati pengemudi ojek, Nessa seperti pernah melihat supir ojek.
“Kamu?” tanya Nessa.
“Selamat siang, Bu Nessa. Ibu tenang saja, kali ini helmnya sudah saya cuci bersih. Sekarang helmnya wangi,” kata supir ojek sambil memberikan helm kepada Nessa.
Nessa mengambil helm itu. Benar saja, tercium wangi sampo dari helm itu. Nessa memakai helm itu, lalu naik ke atas motor. Pengemudi ojek pun menjalankan motornya.
Pengemudi ojek menghentikan motornya di depan sebuah café mewah. Nessa memberikan helm lalu memberi uang sebesar lima puluh ribu ke pengemudi ojek.
“Ambil saja kembaliannya buat nambah-nambah beli helm,” kata Nessa.
“Terima kasih, Bu Nessa. Sering-sering saja saya dapat penumpang seperti Ibu Nessa. Biar saya bisa ganti motor baru,” kata pengemudi ojek.
“Asalkan motor barunya buat cari uang. Bukan dipakai buat maincewek,” kata Nessa.
“Nauzubillah min dzalik. Saya tidak berani seperti itu, Bu. Saya takut akan dosa,” kata pengemudi ojek.
“Baguslah kalau takut akan dosa. Sudah ya, saya ditunggu saudara saya,” Nessa meninggalkan pengemudi ojek. Ia masuk ke dalam restaurant.
Nessa mengedarkan pandangannya mencari Boyke.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya seorang pelayan restaurant.
“Saya mencari tamu bernama Boyke,” kata Nessa.
“Sebentar, saya check dulu di daftar tamu,” kata pelayan itu.
__ADS_1
Pelayan itu pergi menuju ke meja kasir, tak lama kemudian ia pun kembali.
“Mari Bu, saya antar ke meja Pak Boyke,” kata pelayan itu.
Nessa mengikuti pelayan itu. Pelayan itu membawanya ke meja yang agak ke pojok. Di mana di meja itu ditempati oleh seorang pria berpostur tinggi dan berwajah tampan.
“Ini meja Pak Boyke,” kata pelayan itu.
“Terima kasih,” jawab Nessa.
Ketika melihat Nessa, pria itu langsung berdiri.
“Nessa?” tanya pria itu.
“Boyke?” Nessa balik bertanya.
“Apa kabar?” Boyke mengajak salam ala orang Sunda.
“Alhamdullilah, baik,” jawab Nessa.
“Silahkan duduk, Nes,” kata Boyke. Nessa duduk di kursi di depan Boyke.
“Sudah lama, kita tidak pernah bertemu,” kata Boyke.
“Terakhir kita bertemu sebelum Mang Yusup pindah ke Jakarta. Waktu itu kalau tidak salah kamu masih SD, ya?” kata Boyke.
“Iya, Kang Boyke masih ingat saja,” jawab Nessa.
Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberika buku menu.
“Langsung pesan saja, Nes. Kamu pasti sudah lapar,” kata Boyke.
Nessapun memesan makan. Sambil menunggu pesanannya datang mereka berbincang-bincang saling mengenal satu dengan yang lain, Akhirnya pesanan merekapun datang. Merekapun menyantap hidangannya.
Ketika Nessa sedang asyik memakan steaknya tiba-tiba ada seotang pria berdiri di samping meja mereka.
“Hai, sayang,” sapa pria itu sambil tersenyum.
Nessa menoleh ke samping. Fkri sedang berdiri di samping mejanya sambil tersenyum manis.
“Pak Fikri,” kata Nessa.
“Sayang, kamu ke sini kok tidak bilang-bilang aku?” tanya Fikri dengan tatapan mesra.
Boyke menatap Nessa seolah meminta jawaban apa maksud Fikri.
Nyebelin, nih orang. Nggak bisa lihat orang senang. Awas aja kalau dia berani mengganggu, kata Nessa di dalam hati.
“Kang Boyke, ini Pak Fikri atasan Nessa di kantor,” Nessa memperkenalkan Fikri kepada Boyke.
Boyke mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
“Pak Fikri mau apa ke sini?” tanya Nessa.
Fikri melihat steak yang dimakan oleh Nessa.
“Sayang, kamu makan steak? Steaknya dimasak dengan matang, tidak? Kata dokter kamu tidak boleh makan daging setengah matang. Kamu kan sedang hamil, tidak baik untuk janin,” kata Fikri.
Boyke langsung kaget mendengar perkataan Fikri.
“Nessa tidak hamil, Kang. Pak Fikri memang senang mengganggu Nessa,” kata Nessa membela diri.
Cukup! Kalau diterusin tambah menjadi, kata Nessa di dalam hati.
“Permisi dulu, Kang,” kata Nessa.
Nessa menarik tangan Fikri dan membawa Fikri menjauh dari meja Boyke.
“Pak, tolong jangan ganggu saya! Apalagi bicara yang tidak-tidak. Dia itu kerabat saya. Apa yang Pak Fikri katakan nanti bisa sampai ke telinga Mamah saya,” kata Nessa.
“Oh, jadi kamu lagi kencan dengan kerabat kamu?” tanya Fikri.
“Iya, Pak. Dan Bapak sudah menjelek-jelekan saya di depan kerabat saya,” kata Nessa.
“Oke. Kalau begitu saya tidak akan mengganggu kamu lagi,” kata Fikri.
Nessa kembali ke mejanya. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba. “Sayang, nanti malam aku ke tempat kos kamu, ya,” sahut Fikri.
Nessa berbalik dan melotot ke Fikri. Fikri tertawa melihat Nessa marah. Untung restaurant itu belum begitu ramai, jadi kejadian itu tidak menari perhatian orang banyak.
Nessa kembali ke mejanya.
“Maaf ya, Kang. Atasan Nessa memang nyebelin,” kata Nessa.
“Tidak apa-apa, kok. Saya memakluminya,” kata Boyke. Mereka melanjutkan makannya.
“Akang belum punya nomor teleponmu. Boleh Akang minta nomor teleponmu?” tanya Boyke ketika setelah selesai makan.
“Tentu saja,” jawab Nessa.
Boyke memberikan ponselnya kepada Nessa, lalu Nessa mengetik nomor ponselnya di ponsel Boyke. Nessa mengembalikan ponsel Boyke. Boyke menyimpan nomor Nessa di ponselnya. Tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon masuk.
“Itu missed call dari Akang,” kata Boyke. Nessa menyimpan nomor itu di ponselnya.
Setelah Boyke membayar makannya. Mereka pun pulang. Namun ketika melewati meja Fikri dan teman-temannya, tiba-tiba Fikri berkata, “Dah sayang. Sampai ketemu nanti malam, ya. Jangan lupa dandan yang cantik.”
Nessa menutup telinganya lalu cepat-cepat keluar dari restaurant itu. Fikri tertawa melihat Nessa. Boyke hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Fikri. Bagi Boyke percuma saja melawan Fikri, hanya menimbulkan keributan di restaurant. Lebih baik hindari saja orang seperti Fikri.
.
.
Maaf, saya tidak bisa double up karena saya harus up 2 novel on going.
__ADS_1