Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
42. Di Rumah Nessa


__ADS_3

Pukul enam pagi Fikri keluar dari kamarnya. Sebagai tamu alangkah tidak sopan jika dia hanya berdiam diri saja di dalam kamar. Ternyata di ruang keluarga nampak sepi tidak ada orang. Namun terdengar suara di luar rumah dan di dapur.


Mungkin mereka lagi sibuk bekerja, kata Fikri di dalam hati.


Fikri hendak keluar ke depan rumah, namun pintu ruang tamu masih ditutup. Terpaksa ia keluar melalui garasi. Ketika ia melewati dapur terlihat mamah yang sedang sibuk masak bersama dengan seorang pembantu. Tanpa sengaja mamah menoleh ke arah Fikri.


“Fikri sudah bangun?” tanya mamah.


“Mau minum apa?” tanya mamah sambil sibuk mengaduk-aduk nasi goreng.


“Nanti saja, Tante,” jawab Fikri.


“Tante suruh Nessa buatkan minum, ya,” kata mamah.


“Bi, Nessa kemana?” tanya mamah.


“Sedang kasih makan kelinci, Bu,” jawab bibi.


“Fikri, Nessa ada taman belakang. Sedang mengurus kelincinya,” kata mamah.


“Jalannya lewat pintu kaca di ruang tengah,” kata mamah.


“Iya, Tante,” jawab Fikri.


Fikri ke ruang tengah lalu keluar melalui pintu kaca. Di teras belakang ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Nessa. Ternyata Nessa sedang berada di banguan kecil yang berada di taman belakang. Nessa sedang mengelus-elus kelincinya. Fikri menghampiri Nessa.


“Hai,” sapa Fikri.


Nessa mengangkat wajahnya.


“Aa sudah bangun?” tanya Nessa.


“Kalau masih cape, tidur lagi saja,” kata Nessa.


“Sudah tidak ngantuk lagi,” jawab Fikri.


“Kamu senang kelinci?” tanya Fikri.


“Iya, karena lucu dan imut-imut menggemaskan,” kata Nessa.


Nessa menutup pintu kandang kelinci. Di dalam kadang terdapat banyak kelinci yang masih kecil-kecil.


“Ayo, saya buatkan minum,” Nessa pun berdiri.


Mereka berjalan kembali ke rumah utama.


“Om kemana? Kok tidak kelihatan?” tanya Fikri ketika masuk ke dalam rumah.


“Paling juga di depan. Lagi jadi mandor cuci mobil,” jawab Nessa.


“Siapa yang mencucikan mobilnya?” tanya Fikri.


“Dafa yang mencucukan mobil papah,” jawab Nessa.


“Mau lihat?” tanya Nessa.

__ADS_1


“Boleh,” jawab Fikri.


“Sebentar, cuci tangan dulu. Bekas pegang kelinci,” kata Nessa.


Nessa mencuci tangan di dapur.


“Ayo,” ajak Nessa.


Mereka masuk ke garasi. Di dalam garasi sudah kosong, tidak ada mobil. Mobil-mobil sudah di keluarkan dari garasi karena hendak dicuci. Di depan rumah nampak mobil papah dan mobil Ikhasan yang sudah mengkilap. Tapi masih saja terdengar suara air yang keluar dari selang.


“Yang bener sikat bannya. Sikat sampai bersih!” terdengar suara papah yang menyuruh anak-anak laki-lakinya.


Ketika mereka menoleh ke mobil Fikri, terlihat adik-adik Nessa sedang mencuci mobil Fikri. Fikri bengong melihat mobilnya sedang di cuci. Dan kenapa alarm mobilnya tidak berbunyi ketika sedang di cuci? Karena mereka tau bagian mana saja yang tidak boleh disentuh.  Yang bisa menyebabkan alarmnya berbunyi dan si pemilik mobil tentu saja akan bangun.


“Cuci sampai mengkilat, ya!” kata Nessa.


Semua orang menoleh ke Nessa dan Fikri.


“Waduh, Om. Fikri jadi merepatkan Ikhsan dan Dafa,” kata Fikri dengan tidak enak.


“Tidak apa-apa. Biar nanti malam mobilnya sudah mengkilap,” jawab papah.


Tiba-tiba mamah keluar dari garasi.


“Sarapan sudah siap,” kata mamah.


“Sebentar, Mah. Belum selesai mencuci mobil Fikri,” jawab papah.


“Fikri sarapan dulu,” kata mamah.


“Ya sudah. Mamah mau masak lagi untuk makan siang,” mamah masuk ke dalam rumah.


***


Setelah makan siang Fikri pamit untuk ke hotel. Karena sebentar lagi keluarganya datang dari Bandung. Nessa mengantar Fikri sampai depan rumahnya.


“Nanti malam dandan yang cantik, ya!” kata Fikri.


“Nggak ah, saya mau pakai daster aja,” jawab Nessa.


“Iiihhh, jangan. Kamu pakai daster cukup di depan saya saja,” kata Fikri.


Nessa mengerut keningnya mendengar perkataan Fikri. Ia melihat ke daster yang sedang ia gunakan.


“Kenapa?” tanya Nessa bingung.


“Kamu cantik kalau pakai daster. Bawaannya jadi pengen meluk aja,” jawab Fikri.


“Wah, berarti kalau di depan Aa tidak boleh pakai daster. Bisa gawat,” kata Nessa.


“Jangan, dong!” protes Fikri.


“Pakai dasternya nanti saja kalau sudah menikah,” kata Nessa.


“Yah,” kata Fikri kecewa.

__ADS_1


“Sudah sana pergi! Nanti Om dan Tante keburu sampai ke hotel,” kata Nessa.


“Iya. Ini juga mau jalan,” jawab Fikri.


“Aa pergi dulu, sayang. Sampai ketemu nanti malam. Assalamualaikum,” ucap Fikri.


“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.


Fikri mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah Nessa. Ketika mobil hendak berjalan Fikri melambaikan tangan ke Nessa. Nesa membalas lambaian tangan Fikri. Akhirnya mobil Fikri meluncur meninggalkan rumah Nessa.


Sore harinya rumah Nessa ramai oleh petugas yang sedang memasang tenda di halaman depan rumah Nessa. Mamah lagi sibuk mengatur tata letak meja untuk menyimpan makanan. Dan mengatur kursi-kursi diletakkan. Mamah hanya dibantu oleh kedua pembantunya dan petugas tenda. Sedangkan Nessa dilarang membantu sama sekali. Nessa di suruh beristirahat di kamar. Agar nanti malam Nessa kelihatan fresh.


Ketika menjelang magrib saudara-saudara Nessa mulai berdatangan ke rumah Nessa. Mereka ingin mengikuti acara lamaran Nessa. Apalagi yang membuat mereka penasaran karena Nessa akan dilamar oleh miliarder dari Singapura.


Sekarang Nessa sedang di rias oleh penata rias yang dipanggil ke rumah oleh mamah. Nessa memperhatikan penampilannya dari kaca  meja rias. Sedangkan di kamarnya penuh dengan sepupuh-sepupuh perempuan yang sedang melihat Nessa dirias.


Terdengar notifikasi pesan masuk di ponselnya. Nessa membacanya pesan tersebut.


Fikri :


[Sayang, sekarang Aa mau berangkat menuju ke rumah kamu. Dandan yang cantik, ya.]


Nessa hanya tersenyum membaca chat dari Fikri.


Pukul tujuh tiga puluh Fikri dan keluarga sampai di rumah Nessa. Semua sepupuh Nessa keluar dari kamar karena ingin melihat calon suami Nessa.


Pak Taufik dan Ibu Dira datang bersama dengan anak, menantu dan cucu-cucunya.


“Selamat datang di rumah kami,” ucap papah ketika menyambut Pak Taufik.


“Terima kasih, Pak Dodi,” jawab Pak Taufik.


Papah dan Pak Taufik bersalaman. Kemudian tuan rumah dan para tamu saling bersalaman satu dengan yang lain. Seperti biasa Fikri langsung mencium punggung tangan papah dan mamah.


“Silahkan duduk,” papah mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Setelah semua tamu duduk, merekapun saling memperkenalkan keluarga mereka masing-masing. Selesai memperkenalkan diri, mulailah Pak Taufik mengutarakan niat kedatangannya.


“Kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar putri Bapak yang bernama Nessa untuk anak kami yang bernama Fikri,” kata Pak Taufik.


“Biar anak kami Nessa yang akan menjawab sendiri lamaran Fikri,” jawab papah.


Papah menoleh ke belakang, mencari seseorang untuk disuruh memanggil Nessa.


“Chika,” papah memanggil teman dekat Ikhsan.


“Iya, Om,” jawab Chika.


“Tolong panggilkan Nessa,” kata papah.


“Baik, Om,” jawab Chika.


Chika pun naik ke tangga menuju ke kamar Nessa. Fikri memandangi tangga rumah Nessa menunggu bidadarinya turun dari tangga. Tak lama kemudian Chika turun dari lantai atas bersama dengan Nessa. Fikri memandangi bidadarinya yang sudah sampai di lantai dasar.


Masya Allah, cantik sekali dia, puji Fikri di dalam hati.

__ADS_1


Fikri dibuat tidak mengenali ketika melihat Nessa. Nessa tidak pernah menggunakan make up secara berlebihan jika pergi ke kantor atau ke acara lain. Namun kali ini ia di dandani oleh seorang professional, membuat Fikri benar-benar tidak mengenali dengan wajah kekasihnya.


__ADS_2