Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
19. Warisan.


__ADS_3

Mrs. Lee masuk ke dalam kamar.


“Rupanya kamu di sini? Ayo makan dulu. Bibi sudah menyiapkan makan siang untukmu,” kata Mrs. Lee.


“William, anakmu belum makan siang. Kasihan dia pasti lapar,” kata Mrs. Lee.


“Kamu makan dulu. Nanti kita sambung lagi pembicaraannya,” kata Mr. Lee.


“Ayah belum makan,” ujar Fikri.


“Tadi Ayah sudah makan di rumah sakit,” jawab Mr. Lee.


“Baiklah, Fikri makan dulu,” Fikri keluar dari kamar bersama dengan Mrs. Lee menuju ke ruang makan.


Nessa duduk di meja makan, ia sedang menunggu Fikri dan Mrs. Lee.


“Loh kok, belum makan? Makan saja duluan tidak usah menunggu kami,” kata Mrs. Lee melihat Nessa belum menyentuh makanannya.


Ada yang ingin Nessa tanyakan, namun ia tidak tau bagaimana caranya agar tidak menyinggung perasaan Mrs. Lee. Sepertinya Mrs. Lee mengerti keraguan Nessa.


“Tenang saja, semuanya halal kok. Kalau tidak percaya tanya bibi, bibi yang masak,” kata Mrs. Lee.


Mrs. Lee pergi ke dapur dan memanggil bibi. Seorang wanita sekitar berusia empat puluh lima tahun menuju ke ruang makan bersama Mrs. Lee.


“Coba Bibi terangkan ke Nessa. Kalau saya yang bicara dia tidak akan percaya,” kata Mrs. Lee.


“Tuan dan Nyonya sudah tidak makan yang begituan lagi, Non. Tuan dan Nyonya berhenti makan mengandung begituan semenjak Tuan Steve meninggal dunia,” kata Bibi.


Mendengar perkataan Bibi, Nessa menjadi lega.


“Jadi Non tidak usah khawatir,” kata Bibi.


“Ya, Bi,” jawab Nessa.


“Sudah tidak ragu lagi, kan? Ayo, sekarang makan,” kata Mrs. Lee.


Fikri dan Nessa pun makan. Sedangkan Mrs. Lee tidak ikut makan, ia hanya menemani Fikri dan Nessa makan.


Setelah selesai makan Fikri kembali ke kamar Mr. Lee. Namun ketika Fikri masuk ia melihat Mr. Lee sedang tidur. Fikri tidak ingin mengganggu tidur Mr. Lee. Ia memyelimuti tubuh ayah angkatnya lalu keluar dari kamar itu.


Sore harinya mereka berkumpul bersama di ruang keluarga. Mrs. Lee membawa buah-buahan dari dapur untuk di kupas. Ia akan mengupas buah sambil mendengarkan pembicaraan suami dan anaknya. Nessa mendekati Mrs. Lee.


“Biar Nessa yang mengupas buahnya,” kata Nessa.


“Boleh,” Mrs. Lee memberikan buah dan pisau kepada Nessa.


Nessa mengupas buah-buahan sambil mendengarkan percakapan keluarga itu.

__ADS_1


“Apa Fikri masih suka mengganggu kencanmu?” tanya Mrs. Lee kepada Nessa.


Fikri menoleh ketika mendengar pertanyaan Mrs. Lee.


“Kamu mengadu kepada ibuku, ya?” tanya Fikri.


“Iya,” jawab Nessa sambil mengupas buah pir.


“Bu, dia bukan kencan. Tapi reuni keluarga. Masa kencan sama kerabat sendiri?” sahut Fikri.


“Tidak apa-apa. Selama agama kalian tidak melarang,” jawab Mrs. Lee.


“Di agama kami tidak dilarang. Karena kerabat jauh. Tapi sialnya pria itu sudah memiliki istri,” kata Fikri.


Mrs. Lee menoleh ke Nessa.


“Oh, ya? Kamu tau darimana kalau pria itu memiliki?” tanya Mrs. Lee.


Nessa menceritakan apa yang terjadi di Bali kepada Mrs. Lee.


“Sabar, ya. Mungkin dia bukan jodohmu,” kata Mrs. Lee.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Mrs. Lee.


Sambil mengusap punggung Nessa.


“Kamu masih muda. Masih punya banyak waktu untuk mencari calon suami,” kata Mrs. Lee.


“Iya, Mrs. Lee,” jawab Nessa.


“Fikri, ada hal penting yang Ayah ingin bicarakan  denganmu,” kata Mr. Lee.


“Hal penting apa, Yah?” tanya Fikri.


Nessa merasa ini adalah pembicaraan internal keluarga, sebagai orang luar ia tidak berhak untuk mendengar.


“Saya permisi ke dapur dulu,” kata Nessa.


“Tidak usah pergi. Tetaplah di sini. Ada yang harus kamu ketahui,” kata Mr. Lee kepada Nessa.


Nessa tidak jadi pergi ke dapur.


“Fikri, Ayah dan Ibu akan mewariskan semua harta yang kami miliki kepadamu,” kata Mr. Lee.


Fikri dan Nessa kaget mendengarnya.


“Kenapa diwariskan semuanya ke Fikri? Bukankah saudara Ayah dan Ibu masih ada? Mereka lebih berhak daripada Fikri,” kata Fikri.

__ADS_1


“Memang bener saudara kami masih ada, tapi mereka hanya bisa berfoya-foya dan menghabiskan uang. Mereka tidak mau bekerja sama sekali,” kata Mr. Lee.


Fikri diam mendengar perkataan Mr. Lee. Ia jadi ingat kepada dirinya sendiri, ketika sering membuat ulah di kantor. Para sekretarisnya berusaha untuk mengingatkan jadwal kerjanya, namun ia selalu saja berusaha untuk kabur dan menghindar dari pekerjaan rutin.


“Kalau Ayah memberikan perusahaan kepada mereka, bisa hancur usaha Ayah. Yang selama ini Ayah dan Ibumu bangun dengan susah payah,” kata Mr. Lee.


“Ayah bisa saja menjual perusahaan Ayah, agar tidak menjadi beban untuk Ayah. Tapi bagaimana dengan nasib para karyawan? Mereka sudah lama bekerja di perusahaan selama puluhan tahun. Mereka punya keluarga yang harus mereka biayai. Bagaimana dengan anak-anak mereka? Siapa yang akan membiayai sekolah anak-anak mereka? Pesangon tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka,” kata Mr. Lee.


Fikri hanya diam mendengar perkataan Mr. Lee. Ia juga sering menyebabkan para sekretarisnya dipecat oleh Papahnya, karena ulahnya.


“Jika ayah wariskan kepadamu, kamu masih bisa melanjutkan semua usaha Ayah. Itu terbukti dari cara kamu menjalankan perusahaanmu. Kamu mau bekerja keras demi memajukan perusahaanmu,” kata Mr. Lee.


“Itu pukan perusahaanku, tapi itu perusahaan Papah,” jawab Fikri.


“Iya, sama saja. Nanti juga perusahaan Papahmu akan menjadi milikmu. Sama seperti perusahaan Ayah nanti juga akan menjadi milikmu,” kata Mr. Lee.


“Mengapa Ayah begitu percaya kepada Fikri?” tanya Fikri.


“Karena Ayah melihat kejujuran dan ketulusan di wajahmu,” jawab Mr. Lee.


“Masih ingat sewaktu kamu mendapatkan proyek membangun hotel Ayah d Bali?” tanya Mr. Lee.


“Waktu itu kamu masih sangat muda, masih kuliah. Tutur katamu sopan, kamu bersikap santun kepada kami. Kamu tidak memberi janji yang muluk-muluk. Kamu hanya memberi janji yang dapat kamu tepati. Walaupun kami tahu kamu masih berlindung dibalik punggung Ayahmu, tapi kamu berusaha untuk bekerja dengan professional. Waktu itu kami menilaimu sebagai anak muda yang pekerja keras,” kata Mr. Lee.


“Bagaimana seandainya Fikri sama seperti saudara-saudara Ayah? Fikri hanya menghambur-hamburkan uang Ayah dan membuat perusahaan Ayah menjadi bangkrut?” tanya Fikri.


“Ayah tidak yakin kamu akan melakukan hal itu. Kamu pasti tidak tega menelantarkan karyawanmu begitu saja,” kata Mr. Lee.


“Ayah tau tidak Nessa sekretaris Fikri yang keberapa?” tanya Fikri.


“Ayah tau. Nessa sekretarismu yang keeee,” Mr. Lee tidak melanjutkan perkataannya.


“Lilian, Nessa sekretarias Fikri yang ke berapa?” tanya Mr. Lee kepada Mrs. Lee.


“Yang ketujuh belas,” jawab Mrs. Lee.


Mendengar jawaban Mrs. Lee, Fikri langsung kaget.


“Kok Ibu tau?” tanya Fikri tidak percaya.


“Kami menyelidikimu terlebih dahulu. Sebelum memasukkanmu menjadi ahli waris kami,” jawab Mrs. Lee.


“Tapi tetap menjadikan Fikri sebagai ahli waris?” tanya Fikri.


“Kamu itu sedang mencari perhatian orang tuamu, makanya kamu bersikap seperti itu. Tapi usahamu baik-baik saja tidak ada masalah. Perusahaan Papahmu tidak kamu buat bangkrut,” kata Mrs. Lee.


Fikri menghela nafas. Percuma saja berusaha untuk meyakinkan orang tuanya angkatnya agar tidak mengalihkan kekayaan mereka kepadanya.

__ADS_1


“Ayah percaya kamu pasti bisa menjalaninya,” kata Mr. Lee.


__ADS_2