Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
46. Kenapa?


__ADS_3

Nessa sedang asyik menonton film sambil menikmati sarapan.


“Kamu tidak mau jalan-jalan melihat laut?” tanya Fikri yang sedang memperhatikan Nessa. Ia sudah menghabiskan sarapannya sedangkan istrinya masih belum menghabiskan sarapannya. Dari tadi Nessa makan sambil menonton film.


Nessa menoleh ke Fikri.


“Nessa mau jalan-jalan ke laut, tapi jalannya masih aneh. Nanti ditertawakan sama karyawan Aa,” jawab Nessa.


“Siapa yang berani menertawakan kamu? Kamu pemilik hotel ini, mana berani mereka menertawakan kamu,” tanya Fikri.


“Tetap saja Nessa malu,” jawab Nessa.


“Ya sudah kalau mau di kamar saja,” kata Fikri mengalah. Istrinya tidak bisa dipaksa.


Fikri melihat jam yang berada di dinding kamarnya.


“Sudah jam sembilan. Aa kerja dulu,” pamit Fikri.


“Iya,” jawab Nessa.


Nessa mengantar suaminya sampai pintu kamar. Ia mencium tangan suaminya. Kemudian Fikri mengecup kening dan dan mulut istrinya.


“Kalau ada apa-apa telepon Aa,” kata Fikri.


“Iya, A,” jawab Nessa.


“Assalamualaikum,” ucap Fikri sebelum keluar dari kamar.


“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.


Fikri pun keluar dari kamar menuju ke kantornya. Tinggal lah Nessa sendirian di kamar, menikmati kesendiriannya sambil menonton film.


Sudah dua minggu mereka berada di Bali. Selama dua minggu  dimanfaatkan oleh Fikri bekerja di hotelnya. Tentu saja bukan hanya menghabiskan waktu bekerja di hotel, tapi sebagian waktunya ia pakai untuk mengajak istrinya berjalan-jalan di Bali.


Setelah dua minggu mereka berada di Bali kemudian mereka berangkat ke Singapura. Setelah mendarat di Singapura tempat yang pertama kali mereka datangi adalah makam orang tua angkat Fikri. Nessa membelikan bunga yang cantik untuk hiasan di makam Mr dan Mrs. Lee. Makam itu masing terawat dengan baik.


Setelah  dari makam orang tua mereka, Fikri dan Nessa menuju ke rumah mereka. Nessa memandangi rumah peninggalan mertuanya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di rumah ini.


“Ayo, kita masuk,” kata Fikri.


Nessa dan Fikri masuk ke dalam rumah mereka.


“Assalamualaikum,” ucap Nessa ketika membuka pintu rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab bibi dari dapur.


Bibi menghampiri Nessa dan Fikri.


“Nyonya sudah datang,” kata bibi.


“Apa kabar, Bi?” tanya Nessa.


“Baik, Nyonya,” jawab bibi.


Tercium bau masakan dari dapur.


“Bibi masak apa?” tanya Nessa.


“Masak makanan kesukaan Nyonya,” jawab Bibi.


“Memang bibi tau kesukaan saya apa?’ tanya Nessa.


“Tau dong. Bakso dan mie ayam,” jawab bibi.


“Bibi bisa saja,” kata Nessa.


Dulu kalau Nessa ingin makan baso dan mie ayam, Nessa selalu meminta  bibi yang membuatkan. Karena di Singapura tidak bisa makan sembarangan.


“Mau makan sekarang, Nya? Bibi siapkan dulu,” kata Bibi.


“Iya, Bi,” jawab Nessa.


Bibi kembali ke dapur.

__ADS_1


“Nes, Aa ke kantor dulu. Aa ada rapat,” pamit Fikri.


“Aa tidak makan dulu?” tanya Nessa.


“Makan di kantor saja. Aa sudah kesiangan,” jawab Fikri.


“Hati-hati di jalan, ya,” kata Nessa.


Nessa mencium punggung tangan Fikri. Seperti biasa Fikri mengecup kening dan mulut istrinya.


“Assalamualaikum,” ucap Fikri.


“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.


Fikri pun keluar dari rumah menuju ke mobil yang terparkir di halaman rumah. Nessa menunggu sampai mobil suaminya pergi. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah.


***


Tak terasa sudah sebulan Fikri dan Nessa menikah. Sekarang mereka sedang berada di Bandung. Untuk sementara waktu mereka tinggal di rumah orang tua Fikri karena mereka belum memiliki rumah di Bandung,


Pagi ini Nessa hanya berbaring di tempat tidur karena kepalanya sangat sakit sekali. Ia bahkan tidak bisa sarapan di meja makan. Terpaksa pembantu membawakan sarapannya ke dalam kamar.


“Diminum obatnya, biar sakit kepalanya berkurang,” kata Fikri yang sedang memakai dasi.


“iya, A,” jawab Nessa.


Namun Nessa tidak memakan obat sakit kepala, karena ia harus memastikan sesuatu. Nessa mengambil agendanya dari dalam tas. Ketika ia membaca agendanya kecurigaannya terbukti. Nessa melirik ke arah suaminya yang sedang memakai suit.


Aku harus punya buktinya dulu, kata Nessa di dalam hati.


Fikri mendekati Nessa.


“Aa berangkat dulu. Kalau ada apa-apa telepon Aa,” kata Fikri.


“Iya, A,” jawab Nessa.


Nesaa mencium punggung tangan suaminya lalu Fikri mengecup kening dan mulut Nessa.


“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.


Nessa beranjak dari tempat tidur hendak mengantar suaminya.


“Kamu tidak usah mengantar Aa. Kamu istirahat saja di tempat tidur,” kata Fikri.


Nessa tidak jadi beranjak dari tempat tidur. Kemudian Fikri keluar dari kamar mereka.


Lama sudah Nessa berdiam diri di dalam kamar, setelah yakin suaminya sudah pergi Nessa pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia keluar dari kamar. Ketika ia turun ke lantai bawah rumah nampak sepi. Sepertinya Ibu Dira sedang di dalam kamar. Nessa berjalan menuju ke dapur.


Di dapur para pembantu sedang sibuk masak dan bekerja.


“Bi,” panggil Nessa.


Bibi yang sedang mencuci piring menoleh ke Nessa.


“Iya, Non. Non Nessa perlu apa?” tanya bibi.


“Ada yang bisa disuruh ke apotik?” tanya Nessa.


“Ada, Non. Tunggu sebentar Bibi panggilkan dulu orangnya,” jawab Bibi.


Tak lama kemudian bibi datang bersama seorang pembantu yang masih muda.


“Ini Ima. Non bisa menyuruh dia ke apotik,” kata bibi.


“Ima, tolong belikan ini,” Nessa membetikan sebuah catatan kepada Ima.


“Berikan catatannya ke petugas apotik,” kata Nessa.


“Ini uang untuk membeli obat dan ongkos ojek,” Nessa memberikan tiga lembar uang seratus ribu rupiah.


“Baik, Non,” jawab Ima.


“Nanti antarkan obatnya ke kamar saya,” kata Nessa.

__ADS_1


“Baik, Non,” jawab Ima.


Ima pun pergi keluar rumah. Nessa kembali ke kamarnya.


Tiga puluh menit kemudian Ima datang dengan membawa obat yang Nessa pesan.


“Non, ini obat dan kembalianya,” kata Ima sambil memberikan kantong plastik dan uang kepada Nessa.


“Teima kasih, Ima,” ucap Nessa.


Kemudian Nessa memberikan uang sebesar tiga puluh ribu kepada Ima.


“Ini untuk kamu beli baso,” kata Nessa.


“Terima kasih, Non,” ucap Ima.


Kemudian Ima pergi meninggalkan kamar Nesa.


***


Fikri sedang membaca dokumen yang harus ditanda tanganinya. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi sebuah pesan masuk di ponselnya. Fikri mengambil ponselnya yang berada di atas meja kemudian membaca isi pesan.


Nessa mengirim sebuah foto. Dibawah foto itu tertulis : Assalamualaikum, Papah.


Fikri mengerut keningnya.


Ini foto apa? tanya Fikri di dalam hati.


Kemudian Fikri membesarkan foto itu. Lalu berpikir sejenak.


Apa ini testpack? tanya Fikri di dalam hati.


Fikri belum pernah melihat testpack. Kemudian ia mencari di internet gambar testpack, setelah itu ia membaca keterangannya. Dan ia baru tau kalau istrinya sedang hamil.


Cepat-cepat ia menelepon istrinya.


“Assalamualaikum,” ucap Nessa ketika menjawab telepon dari Fikri.


“Waalaikumsalam,” jawab Fikri.


“Nes, bener kamu hamil?” tanya Fikri.


“Hasil testpack ada garis dua, berarti positif, ” jawab Nessa.


“Alhamudillilah,” ucap Fikri.


Lalu ia langsung sujud syukur.


“Aa,” panggil Nessa karena tidak terdengar suara suaminya.


Fikri bangun dari sujudnya lalu meneruskan pembicaraannya.


“Kita ke dokter sekarang,” kata Fikri.


“Jangan sekarang. Aa kan sedang kerja. Nanti malam saja,” jawab Nessa.


“Kalau malam ada nggak dokternya?” tanya Fikri dengan tidak yakin.


“Ada. Kita ke tempat praktek pribadi Nessa sudah buat janji sama susternya. Nessa dapat alamat dan nomor telepon dokter spesialis obgin dari Fitri,” jawab Nessa.


“Ya sudah kalau mau malam juga tidak apa-apa. Yang penting kamu harus ke dokter,” kata Fikri.


“Sudah, ya. Nessa mau menyuruh Ima beli empek-empek,” kata Nessa.


“Hah, Ima siapa?” tanya Fikri bingung.


“Itu loh pembantu baru mamah,” jawab Nessa.


“Oh, pantesan Aa baru dengar namanya,” kata Fikri.


“Sudah ya, A. Assalamualaikum,” ucap Nessa lalu mengakhiri pembicaraanya.


“Waalaikumsalam,” jawab Fikri.

__ADS_1


__ADS_2