
Fikri dan Nessa masuk ke dalam rumah Pak Irwan. Rumahnya cukup luas. Bahkan terlalu besar untuk pasangan yang baru menikah seperti Fikri dan Nessa. Sandi mengajak Fikri keliling rumah orang tuanya. Mereka memasuki ruangan satu persatu. Rumah itu memiliki banyak kamar. Semuanya berada di lantai satu, karena rumah itu hanya memiliki tingkat di belakang rumah. Itupun hanya untuk menjemur pakaian dan kamar pembantu.
“Bagaimana?” tanya Fikri kepada Nessa dengan berbisik.
“Bolehlah,” jawab Nessa dengan berbisik pula.
“Kita tidak perlu renovasi secara besar-besaran. Cukup merenovasi yang sudah rusak,” bisik Nessa.
“Jadi bagaimana? Mau deal sekarang atau minta waktu?” tanya Fikri dengan berbisik.
“Minta waktu beberapa hari untuk berpikir,” jawab Nessa dengan berbisik juga.
“Oke,” kata Fikri.
Fikri menghampiri Sandi.
“Pak Sandi. Bisakah kami meminta waktu beberapa hari untuk berpikir?” tanya Fikri.
“Silahkan, Pak Fikri. Tapi jangan terlalu lama,” jawab Sandi.
“Terima kasih, Pak Sandi,” ucap Fikri.
Kemudian Fikri dan Nessa pamit untuk pulang.
Selesai melihat rumah Pak Ridwan, Fikri langsung mengecek status rumah Pak Irwan di Badan Pertanahan Nasional. Untung Nessa meminta waktu sehingga ia bisa mencari tahu status rumah itu. Bagaimanapun juga Fikri harus memastikan kalau rumah itu aman untuk di beli.
Setelah Fikri pergi ke kantor, Nessa langsung mulai menghunting barang-barang yang akan ia beli. Nessa memutuskan membelanja secara online. Karena tidak mungkin ia pergi ke pasar Tanah Abang dengan keadaan hamil muda. Nessa memesan barang dari berberapa toko yang ada di Pasar Tanah Abang.
Hari terus berlalu sudah waktunya Fikri dan Nessa untuk mengambil keputusan. Akhirnya Nessa dan Fikri memutuskan untuk membeli rumah Pak Irwan. Fikripun menelepon Sandi.
“Assalamualaikum, Pak Sandi,” ucap Fikri.
“Waalaikumsalam,” jawab Sandi.
“Kami jadi membeli rumah orang tua Pak Sandi,” kata Fikri.
“Alhamdullilah,” ucap Sandi.
“Kami minta semua ahli waris Pak Irwan datang di notaris. Saya ingin akta jual beli ditanda tangani oleh semua ahli waris,” kata Fikri.
“Baik, Pak Fikri. Akan saya pastikan kakak dan adik saya hadir di notaris,” jawab Sandi.
Akhirnya sampailah waktunya penanda tanganan akta jual beli di notaris. Semua ahli waris Pak Irwan hadir di notaris seperti yang Firi inginkan. Dan resmilah sudah rumah itu menjadi milik Fikri dan Nessa. Fikri membalik nama rumah itu menjadi atas nama Nessa. Rumah itu sekarang milik Nessa. Namun rumah itu belum bisa ditempati, karena masih harus direnovasi.
***
Hari terus berlalu, diluar dugaan toko online Nessa laris manis. Nessa merasa kewalahan mengatasinya, sehingga ia perlu menambah pegawai. Nessa memilih anak putus sekolah untuk menjadi pegawai di tokonya.
“Jangan terlalu cape. Kalau kekurangan tenaga tambah lagi karyawannya. Kamu cukup duduk manis sambil memantau mereka bekerja,” pesan Fikri sebelum berangkat kerja.
“Iya. Kemarin sudah tambah pegawai satu,” jawab Nessa.
“Kalau masih kurang tambah pegawai satu lagi,” kata Fikri.
“Jadi tiga dong pegawainya,” ujar Nessa.
“Tidak apa-apa. Yang penting kamu tidak kecapean,” jawab Fikri.
__ADS_1
“Iya, nanti dilihat dulu dari pendapatan. Cukup tidak untuk menggaji tiga pegawai,” ujar Nessa.
“Kalau kekurangan modal Aa tambahkan lagi modalnya,” kata Fikri.
“Tidak usah. Masih banyak sisa modalnya,” jawab Nessa.
Fikri mengambil suit dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.
“A,” panggil Nessa sebelum suaminya keluar dari kamar.
“Kenapa?” tanya Fikri.
“Nessa kangen dengan masakan bibi,” jawab Nessa.
“Loh, bukanya setiap hari kamu makan masakan bibi?” tanya Fikri bingung.
“Maksud Nessa bukan bibi di rumah ini,” jawab Nessa.
“Terus bibi yang mana?” tanya Fikri.
“Bibi di rumah kita yang di Singapura,” jawab Nessa.
“Oh, kamu mau ke Singapura?” tanya Fikri.
“Iya, Nessa sudah lama tidak ke sana,” jawab Nessa.
“Iya, boleh. Kapan kamu mau ke sana?” tanya Fikri.
“Nanti dulu harus tanya dokter. Nanti malam kan waktunya checkup ke dokter,” jawab Nessa.
“Oke. Kita tunggu jawaban dokter,” kata Fikri.
“Kalau sudah lewat trisemester pertama boleh bepergian dengan menggunakan pesawat terbang,” kata dokter.
“Alhamdullilah,” ucap Nessa karena hari ini kehamilannya sudah masuk ke trisemester ke dua.
“Mau jalan-jalan kemana, Bu?” tanya dokter sambil menulis resep.
“Istri saya kangen dengan masakan pembantu di rumah kami yang berada di Singapura,” jawab Fikri.
“Oh, mau jalan-jalan ke Singapura. Tentu saja boleh. Tapi ingat tidak boleh cape!” pesan dokter.
“Baik, Dok,” jawab Nessa.
Sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Kalau kamu ke Singapura bagaimana dengan toko onlinemu? Apa bisa ditinggal?” tanya Fikri sambil fokus menyetir.
“Bisa. Ima sudah mengerti dan sudah tau apa yang harus dilakukan jika ada yang membeli,” jawab Nessa.
“Kamu yakin dia tidak akan salah kirim atau salah memasukkan barang?” tanya Fikri ragu.
“Yakin, A. Dia sudah hafal dengan barangnya,” jawab Nessa.
“Ya sudah, kalau kamu yakin dia bisa mengatasinya,” kata Fikri.
“Lagipula kita kan perginya tidak lama,” ujar Nessa.
__ADS_1
“Apa Aa ada pekerjaan di sana?” tanya Nessa sambil menoleh ke Fikri.
“Seperti biasalah, mumpung ke Singapura Aa mau melihat perusahaan,” jawab Fikri dengan pandangan fokus ke jalan.
“Lama juga tidak apa-apa. Nessa mau sekalian belanja,” kata Nessa.
Fikri menoleh ke Nessa.
“Kamu mau belanja apa?” tanya Fikri.
“Nessa mau belanja untuk menambah koleksi toko,” jawab Nessa.
“Masih kurang?” tanya Fikri kaget.
Setahu Fikri di dalam ruang kerja Nessa sudah penuh dengan barang dagangan. Sekarang mau ditambah lagi. Entah mau taruh dimana barang-barang itu. Sedangkan rumah mereka masih belum selesai di renovasi karena Fikri membuatkan toko sekaligus kantor untuk Nessa.
“Biar tambah banyak isi tokonya,” jawab Nessa.
“Uangnya masih ada, nggak?” tanya Fikri.
“Aa tidak perlu khawatir. Uangnya masih banyak,” jawab Nessa.
Fikri langsung menoleh ke Nessa.
“Masih banyak? Kok bisa?” tanya Fikri tidak percaya. Padahal barang yang Nessa beli cukup banyak, tapi uangnya masih ada sisa.
“Nessa belanjanya kodian. Jadi harganya murah, harga grosir,” jawab Nessa.
“Alhamdullilah kalau masih ada sisa. Jadi Aa tidak perlu menambahkan modal lagi,” kata Fikri.
***
Dua hari kemudian Nessa dan Fikri pergi ke Singapura untuk mengunjungi rumah mereka di sana. Nessa meminta bantuan Ibu Dira untuk mengawasi para pegawainya. Untuk menghindari kesalahan dalam pengiriman barang.
Seperti biasa setelah mendarat di bandara Changi mereka langsung menuju ke makam orang tua angkat Fikri. Sudah berapa bulan mereka tidak ke Singapura sehingga tidak ada yang memberikan bunga di makam orang tua Fikri. Nessa menaruh bunga segar di pot yang berada di dekat batu nisan.
Nessa mengusap perutnya yang mulai membuncit.
“De, ini makam kakek dan nenekmu. Kelak jika kamu sudah dewasa, sering-seringlah mengunjungi makam mereka,” kata Nessa kepada anak yang di dalam kandungannya.
Setelah dari makam mereka langsung menuju ke rumah mereka.
“Assalamualaikum,” ucap Nessa ketika bibi membukakan pintu rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab bibi.
“Bi, apa kabar?” sapa Nessa sambil meyalami bibi.
“Alhamdullilah baik, Nya,” jawab Bibi.
Nessa masuk ke dalam rumah, sedangkan Fikri langsung pergi ke kantor. Tercium bau masakan dari dapur. Nessa berjalan menuju ke dapur.
“Bi, masakannya sudah matang?” tanya Nessa.
“Belum, sebentar lagi,” jawab bibi.
“Saya tunggu di kamar. Saya mau istirahat dulu,” kata Nessa.
__ADS_1
“Silahkan, Nya. Nanti kalau sudah matang, bibi panggilkan,” jawab Bibi.
Nessa berjalan menunju ke kamarnya yang berada di lantai dasar.