Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
37. Pulang Ke Indonesia


__ADS_3

“Bapak curang, saya tidak boleh dekat-dekat laki-laki lain. Tapi Bapak di sini bisa senang-senang dengan wanita lain,” protes Nessa.


“Siapa bilang saya di sini senang-senang? Saya di sini kerja demi masa depan kita,” jawab Fikri.


“Iya deh, yang lagi bekerja,” kata Nessa mengalah.


Fikri menyodorkan tangannya. Namun bukannya Nessa mencium punggung tangan Fikri tapi malah memukul telapak tangan Fikri.


“Bukan mahram. Tidak boleh!” kata Nessa.


Namun bukannya Fikri marah, ia malah tersenyum melihat Nessa. Fikri memandangi wajah kekasihnya dengan sepuasnya, karena besok ia tidak bisa melihat wajah kekasihnya dalam waktu yang lama. Entah berapa lama, Fikripun tidak tau.


Setelah puas berbicara dengan kekasihnya, Fikri menghampiri orang tua Nessa.


“Om Tante. Fikri titip Nessa,” kata Fikri.


“Jangan khawatir. Nanti Om yang antar Nessa ke Bandung,” jawab Papah.


“Satu lagi, Om. Kalau ada yang melamar Nessa jangan diterima ya, Om! Kalau Fikri sudah pulang ke Indonesia, Fikri akan secepatnya melamar Nessa,” kata Fikri.


Mendengar perkataan Fikri membuat Papah tertawa.


“Iya, tidak akan Om terima,” jawab Papah sambil tersenyum.


“Kalau ada laki-laki yang mendekati Nessa tolong diusir, Om,” kata Fikri lagi.


“Iya, nanti Om usir kalau ada laki-laki yang mendekati Nessa,” jawab Papah.


“Terima kasih, Om,” ucap Fikri.


Fikri mencium punggung tangan orang tua Nessa.


“Fikri, kami berangkat dulu,” pamit Papah.


Nessa dan orang tuanya masuk ke bandara keberangkatan. Nessa melambaikan tangannya ke Fikri. Fikri membalas lambaian tangan Nessa. Fikri memandangi kekasihnya yang mulai menjauh. Setelah Nessa tidak terlihat lagi, kemudian ia pun pergi meninggalkan bandara.


Selama di dalam pesawat Nessa hanya memandangi keluar jendela. Mamah melihat putrinya seperti sedang melamun.


“Kamu kenapa?” tanya Mamah.


Nessa menoleh ke Mamah.


“Nessa tidak kenapa-kenapa,” jawab Nessa.


“Kangen, ya? Masa baru ketemu setengah jam lalu sudah kangen lagi,” kata Mamah.


Nessa hanya tersenyum menanggapi perkataan Mamah. Mungkin mulai besok hari-harinya akan terasa sepi tanpa ada celotehan dan keusilan Fikri.


Tak terasa mereka sudah sampai di Jakarta. Mereka pulang dengan menggunakan taksi konvensional karena tidak ada yang menjemput mereka. Adik-adik Nessa sedang kerja dan kuliah.


Lama juga perjalanan dari bandara menuju ke rumah Nessa, karena jalanannya macet. Nessa mengirim pesan ke Fikri.


Nessa :

__ADS_1


[Pak, saya sudah sampai di Jakarta.]


Nessa mengirim pesan, namun belum dibaca oleh Fikri.


Mungkin dia sedang sibuk, kata Nessa di dalam hati.


Nessa memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menoleh keluar jendela. Ia memandangi jalan di Jakarta yang ramai dan padat. Lama juga ia berada di Singapura sehingga ia merasa asing dengan suasana di Jakarta.


Nessa kembali mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia melihat pesan yang ia kirim ke Fikri, masih juga belum dibaca. Nessa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Akhirnya mereka sampai di rumah mereka yang berada di daerah Pancoran. Lebih tepatnya di jalan Perdatam. Nessa memandangi rumah orang tuanya. Sudah lama ia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Semenjak ia bekerja di Bandung ia tidak pernah pulang ke Jakarta.


Papah memencet bel rumah. Assalamualaikum, begitulah bunyi bel rumahnya.


Seorang wanita separuh baya membukakan pintu pagar.


“Assalamualaikum,” ucap Papah.


“Waalaikumsalam,” jawab Bibi.


“Bapak dan Ibu sudah pulang,” kata Bibi.


Papah dan Mamah masuk ke dalam halaman. Nessa mengikuti dari belakang.


“Eh, ada Non Nessa,” kata Bibi.


“Apa kabar, Bi?” tanya Nessa.


“Alhamdullilah baik, Non,” jawab Bibi.


“Tidak usah, Bi. Kopernya berat,” kata Nessa. Nessa membawa kopernya ke dalam rumah. Ia langsung menuju ke kamarnya.


Nessa membuka pintu kamarnya. Ia mengamati kamarnya, masih belum ada perubahan. Nessa menyimpan kopernya di sudut ruangan. Lalu ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Namun tiba-tiba ia ingat pada sesuatu.


Nessa membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Ia melihat pesan yang ia kirim masih belum dibaca oleh Fikri.


Apa dia sebegitu sibuknya sampai tidak membaca pesanku? tanya Nessa di dalam hati.


“Ah, sudahlah. Mendingan sekarang mandi biar segar,” Nessa mengambil baju dan handuk dari dalam lemari. Lalu keluar kamar menuju ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi Nessa melihat kembali ke ponselnya, belum dibaca dan belum ada jawaban.


“Mendingan sekarang cari yang segar-segar di dalam kulkas,” kata Nessa.


Nessa keluar dari kamarnya menuju ruang makan.


***


Hari terus berlalu, tak terasa sudah hampir seminggu Nessa berada di Jakarta. Lusa ia sudah harus kembali bekerja. Selama ini Nessa masih belum mendapatkan kabar berita dari Fikri.


Apa dia kembali lagi ke mantannya? tanya Nessa di dalam hati.


“Sudahlah, Nessa. Dia belum menjadi suamimu, jadi untuk apa dikhawatirkan? Life must go on. Lupakanlah Fikri, masih banyak lelaki lain di luar sana yang lebih baik dari Fikri,” kata Nessa kepada dirinya sendiri.


Nessa mengambil kopernya dan menyiapkan baju-bajunya yang akan ia bawa ke Bandung.

__ADS_1


Keesokan harinya Nessa pergi ke Bandung diantar oleh orang tuanya. Sepanjang perjalanan Nessa hanya melamun. Mamah memperhatikan anak gadisnya dari rear-vission mirror. Semenjak pulang dari Singapura Nessa lebih banyak diam dan lebih sering menyendiri dalam kamarnya. Dan yang membuat Mamah khawatir, ia tidak pernah mendengar Nessa berbicara dengan Fikri melalui telepon.


Apakah mereka sudah putus? tanya Mamah di dalam hati.


Namun Mamah tidak tega menanyakan langsung kepada Nessa. Biar Nessa menenangkan diri terlebih dahulu.


Sesampai di kota Bandung mereka mampir ke tempat penjual oleh-oleh. Mamah memborong oleh-oleh untuk tetangga, ibu-ibu pengajian dan rekan kerja Papah di kantor. Setelah puas memborong oleh-oleh mereka mampir ke sebuah restaurant untuk makan siang.


Ketika mereka sedang menunggu pesanan datang, tiba-tiba ada seorang pria tampan menghampiri mereka.


“Hai, Nessa,” sapa Doni.


“Oh, hai Pak Doni. Sama siapa ke sini?” tanya Nessa.


“Dengan keluarga,” jawab Doni.


Doni menunjuk ke meja yang penuh orangnya.


“Dengan keluarga besar?” tanya Nessa.


“Ya, begitulah,” jawab Doni.


“Pak Doni, kenalkan ini Mamah dan Papah saya,” kata Nessa.


Doni menyalami orang tua Nessa satu persatu.


“Pak Doni adalah temannya Mas Reza, suaminya Fitri,” kata Nessa.


“Silahkan duduk. Kita gabung di sini,” kata Papah.


“Terima kasih, Om. Saya sedang bersama keluarga saya,” kata Doni.


“Nes, saya kembali ke sana ya. Takut dicariin,” kata Doni.


“Iya,” jawab Nessa.


“Om Tante, saya permisi dulu,” kata Doni.


“Iya, silahkan,” jawab Papah.


Doni kembali ke mejanya.


“Kelihatannya Doni orangnya baik,” kata Papah.


“Iya, saking baiknya membuat Pak Fikri cemburu,” jawab Nessa.


“Fikri kenal dengan Doni?” tanya Papah.


“Kenal karena sering bertemu,” jawab Nessa.


“Apa pekerjaannya?” tanya Papah.


“Pemilik perusahaan, sama seperti Pak Fikri,” jawab Nessa.

__ADS_1


“Wah anak Mamah kenalannya pengusaha semua,” puji Mamah.


“Kebetulan saja kenalan dengan pengusaha,” jawab Nessa.


__ADS_2