
Boyke mengantar Nessa sampai ke tempat kos Nessa. Mobil Boyke berhenti di depan tempat kos Nessa.
“Terima kasih sudah mengantar Nessa,” ucap Nessa.
“Sama-sama, Nes,” jawab Boyke.
“Maaf kalau acara makan siang berantakan gara-gara ulah bos Nessa,” ucap Nessa.
“Tidak apa-apa, Nes. Lain kali kita bisa makan siang bersama lagi. Atau mungkin makan malam,” kata Boyke.
“Tapi tidak bisa minggu-minggu ini, Akang sedang sibuk seminar,” kata Boyke.
“Iya, tidak apa-apa,” jawab Nessa sambil membuka seat belt.
“Nessa turun ya, Kang. Assalamualaikum,” ucap Nessa. Nessa turun dari mobil Boyke.
“Waalaikumsalam,” jawab Boyke.
Nessa melambaikan tangannya ke Boyke. Mobil Boyke meninggalkan tempat kos Nessa.
***
Fikri berjalan menuju ke ruangannya. Ia melihat Nessa sedang sibuk dengan PC sehingga tidak menyambut ke datangan bosnya. Fikri mendekati Nessa.
“Bagaimana kencanmu, kemarin? Berhasil, tidak?” tanya Fikri.
Nessa melirik ke arah Fikri.
“Berhasil atau tidaknya, bukan urusan Bapak,” jawab Nessa dengan datar.
“Kelihatannya tidak berhasil. Sebab muka kamu tidak berseri-seri,” kata Fikri.
“Terus saya harus bagaimana? Senyum-senyum sendiri? Atau harus tertawa sendiri?” tanya Nessa dengan kesal.
“Ya seperti gadis-gadis yang lain. Wajahnya terlihat bahagia setelah kencan dengan kekasihnya,” jawab Fikri.
“Bagaimana mau bahagia? Acara kencannya diganggu sama orang yang tidak jelas,” jawab Nessa dengan kesal.
“Oh, jadi saya merusak acara kencanmu? Ya, sudah saya minta maaf,” kata Fikri.
Fikri mengulurkan tangannya dan mengajak Nessa untuk bersalaman.
Nessa memandangi tangan Fikri.
“Janji tidak akan mengulangi lagi?” tanya Nessa.
“Heehmm,” jawab Fikri.
Akhirnya Nessa menyalami Fikri.
“Jangan marah,” kata Fikri.
“Hari ini jadwal saya apa saja?” tanya Fikri.
Nessa membacakan satu persatu jadwal Fikri.
“Oke,” Fikripun masuk ke dalam ruangannya.
***
Jum’at malam Fitri sahabat Nessa menelepon. Fitri adalah sahabat Nessa sewaktu di SMA. Fitri kuliah di management sedangkan Nessa di administrasi perkantoran.
“Nes, besok aku ikut suamiku ke Bandung. Kita ketemuan, yuk,” kata Fitri.
“Nanti aku kenalkan dengan teman suamiku. Ganteng loh, Nes. Lagi pula tajir. Dan yang paling penting masih bujangan,” kata Fitri.
“Mana ada bujangan yang mau denganku,” kata Nessa.
“Pasti ada, lah. Tidak semua cowok bujangan seperti mantan pacarmu itu. Sudah pengangguran, numpang hidup. Eh, ditambahin nyeleweng lagi,” kata Fitri.
“Dia sudah aku buang ke tong sampah, Fit,” kata Nessa.
“Bagus! Memang harus begitu, biar tidak menjadi kebiasaan,” kata Fitri.
__ADS_1
“Bisa kan kita ketemuan, besok?” tanya Fitri.
“Kalau perlu aku jemput ke tempat kos. Kamu kirim lokasinya saja,” kata Fitri.
“Tidak usah dijemput. Aku bisa jalan sendiri. Kasihan suami kamu disuruh jemput ke sini,” kata Nessa.
“Tida apa-apa. Biar aku tau tempat kosmu,” kata Fitri.
“Jangan! Tempat kosku jelek, kalau dibandingkan dengan rumahmu,” kata Nessa.
“Tidak usah merendah begitu. Rumahku kan pemberian dari mertua,” kata Fitri.
“Walaupun pemberian mertua, harus disyukuri. Tidak semua orang punya mertua baik seperti mertuamu,” kata Nessa.
“Iya, Nes. Alhamdullilah. Semoga kamu juga bisa mendapatkan mertua yang baik seperti mertuaku,” kata Fitri.
“Aamiin. Tapi anaknya juga harus baik. Percuma punya mertua baik tapi anaknya tukang main perempuan,” kata Nessa.
“Nauzubillah min dzalik, jangan sampai aku dapat suami seperti itu,” ucap Nessa yang sadar kalau ia tidak boleh bicara seperti itu.
“Makanya kalau ngomong dijaga. Ucapan itu doa,” kata Fitri.
“Iya,” jawab Nessa.
Nessa istigfar berkali-kali.
***
Keesokan harinya pukul setengah sepuluh pagi Fitri mengirim lokasi tempat ia berada ke ponsel Nessa. Tak lama kemudian terdengar suara dering ponselnya.
“Assalamualaikum,” ucap Nessa.
“Waalaikumsalam,” jawab Fitri.
“Nes, sudah aku kirim lokasinya. Jangan sampai tidak datang, ya! Kalau tidak datang nanti aku musuhi,” kata Fitri.
“Waduh ancamannya mengerikan,” kata Nessa.
“Ya sudah. Aku mandi dulu, ya. Terus bersiap-siap,” kata Nessa.
“Iya,” jawab Nessa.
Jam sepuluh, Nessa siap untu pergi. Ia memesan ojek online. Ketika ia keluar dari tempat kosnya, pengemudi ojek sudah menunggu di depan rumahnya.
“Selamat pagi, Ibu Nessa,” sapa pengemudi ojek.
“Kamu lagi,” kata Nessa.
Nessa bingung dari sekian banyak pengemudi ojek online, kenapa harus pengemudi itu terus yang datang.
“Hari ini saya tidak akan memberi kamu tip,” kata Nessa.
“Tidak apa-apa Ibu Nessa. Saya baru saja dapat tip dari pelanggan saya,” jawab pengemudi ojek online.
Pengemudi ojek online memberikan helmnya kepada Nessa.
“Kelihatannya helm kamu masih baru,” kata Nessa memperhatikan helm itu.
“Iya, Bu Nessa. Saya dikasih dari penumpang saya. Kebetulan dia pemilik toko helm. Ia memberikan helm baru namun ada cacat,” jawab pengemudi ojek online.
“Ternyata rejeki kamu banyak juga. Walaupun helmnya ada cacat yang penting masih bisa dipakai,” kata Nessa yang masih memperhatikan helm yang diberikan pengemudi ojek online. Terdapat goresan hitam panjang di helm itu.
“Iya, Bu. Alhamdullilah,” jawab pengemudi ojek.
“Syukurlah,” kata Nessa.
Nessa menggunakan helm lalu naik ke atas motor. Pengemudi ojek melajukan motornya meninggalkan tempat kos Nessa.
Motor ojek online yang ditumpangi Nessa berhenti di depan sebuah coffee shop. Nessa turun dari motor lalu memberikan helm dan uang sebesar tiga puluh ribu rupiah.
“Ambil saja kembaliannya,” kata Nessa.
“Alhamdullilah. Terima kasih Ibu Nessa,” ucap pengemudi ojek online.
__ADS_1
Nessa masuk ke dalam coffee shop. Ia mengedarkan pandangannya mencari Fitri. Tiba-tiba ada yang berteriak,” Nessa!”
Seorang wanita seumuran dengannya berlari menghampirinya.
“Fitri,” Nessa dan Fitri langsung berpelukan.
“Aku kangen sama kamu,” kata Fitri.
“Aku juga,” jawab Nessa.
Fitri melepas pelukannya dan memperhatikan tubuh Nessa.
“Kamu sekarang agak kurusan,” kata Fitri.
“Maklumlah, namanya juga anak kos. Makannya harus irit,” jawab Nessa sambil nyengir.
“Kamu anak kos yang banyak uangnya,” sahut Fitri.
“Ayo aku kenalkan dengan teman suamiku,” Fitri menarik tangan Nessa.
Fitri mendekati dua orang pria yang sedang berbincang-bincang.
“Mas, Nessa sudah datang,” kata Fitri kepada suaminya. Suami Fitri pun berdiri.
“Apa kabarnya, Nes?’ Reza menyalami Nessa.
“Baik, Mas,” jawab Nessa.
“Don, kenalkan ini Nessa teman istri saya,” kata Reza kepada pria yang duduk di depannya.
Nessa menoleh ke pria itu. Sepertinya ia mengenali pris tersebut.
“Pak Doni?” tanya Nessa.
“Nessa?” tanya Doni. Doni pun berdiri.
“Apa kabar, Nes?” Doni mengulurkan tangan ke Nessa.
Nessa menyambut dan menyalami tangan Doni.
“Alhamdullilah, baik,” jawab Nessa.
Reza dan Fitri memperhatikan keduanya.
“Mas Doni kenal sama Nessa?” tanya Fitri.
“Iya. Tidak sengaja saya bertemu dengan Nessa,” jawab Doni.
“Rez, ingat tidak waktu kita janjian ketemu di hotel Sentiana?” tanya Doni.
“Ingat,” jawab Reza.
“Nessa ini, perempuan yang aku ceritakan itu,” kata Doni.
“Oh, jadi dia yang punya bos pelit?” tanya Reza.
“Iya,” jawab Doni.
Fitri menoleh ke Nessa.
“Wah, Nes. Ada yang tidak kamu ceritakan ke aku,” kata Fitri.
“Pokoknya kamu hutang cerita ke aku,” kata Fitri.
“Sudah lewat, Fit. Lagipula ceritanya malu-maluin,” jawab Nessa.
“Pak Doni, jangan cerita ke Fitri! Malu-maluin aja,” kata Nessa.
“Mas Reza tau ceritanya?” tanya Fitri ke suaminya.
“Tau,” jawab Reza.
“Nanti malam ceritain, ya. Nanti aku pijitin, deh,” rayu Fitri.
__ADS_1
“Heh heh heh, ingat ini tempat umum. Dilarang rayu suami di tempat umum,” ujar Nessa.
“Biarin. Makanya cepat cari suami, biar nggak iri,” jawab Fitri.