Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
36. Mantan


__ADS_3

Malam harinya Fikri mengajak Nessa dan orang tuanya makan malam di sebuah restaurant. Mereka janjian bertemu di restaurant pukul setengah delapan malam. Mereka janji bertemu di restaurant Turki dan Meditranian di Arab street.


Nessa dan orang tuanya masuk ke sebuah restaurant yang dikatakan oleh Fikri. Fikri sudah menunggu mereka di dalam restaurant itu.


“Assalamualaikum,” ucap Nessa ketika mendekati Fikri.


“Waalaikumsalam,” jawab Fikri.


Fikri mencium punngung tangan orang tua Nessa. Orang tua Nessa merasa kagok ketika Fikri mencium tangan mereka, karena Fikri bos anak mereka.


“Silahkan duduk,” kata Fikri.


Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan.


“Om dan Tante suka tidak dengan masakan Turki dan Mediteranian?” tanya Fikri.


“Terus terang Tante belum pernah. Tante taunya hanya kebab saja,” jawab Mamah.


“Nanti Tante coba. Tante pasti akan suka,” kata Fikri.


“Kalau Om yang penting,” Papah belum selesai bicara namun dipotong oleh Fikri.


“Ada nasi,” lanjut Fikri.


“Kamu masih ingat saja,” puji Papah.


"Tentu dong, Om," jawab Fikri.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan daftar menu. Fikri memilihkan menu yang dirasa cocok dengan lidah Mamah Ika dan Papah Dodi. Setelah mencatatat menu, Fikri mengembalikan menu ke pelayan.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Fikri mengajak orang tua Nessa berbincang-bincang.


“Bagaimana selama perjalanan? Baik-baik saja, kan? Tidak ada kendala?” tanya Fikri.


“Alhamdullilah semuanya lancar tidak ada kendala atau hal-hal yang menakutkan,” jawab Papah.


“Alhamdullilah jika semuanya lancar,” ucap Fikri.


“Fikri minta maaf karena sudah menyusahkan Om dan Tante untuk menjemput Nessa. Mestinya Fikri yang mengantar Nessa pulang. Namun banyak yang harus Fikri kerjakan, apalagi harus memenuhi penggilan dari pengadilan. Jadi Fikri terpaksa meminta Om dan Tante yang menjemput Nessa, karena Fikri takut mereka akan melukai Nessa,” kata Fikri.


“Fikri tidak usah khawatir, ini memang sudah menjadi tanggung jawab Om dan Tante untuk menjaga Nessa,” jawab Papah.


“Lalu bagaimana dengan Fikri, apa Fikri di sini sendirian?” tanya Papah.


“Tidak, Om. Di sini Fikri punya ribuan karyawan yang membantu Fikri. Hanya saja setelah mulai ada panggilan dari pengadilan, mulailah ada teror-teror kecil yang menggangu kenyamanan kami semua. Para karyawanpun mulai merasa terganggu ketika sedang bekerja,” jawab Fikri.


“Jadi Fikri menyewa bodyguard-bodyguard untuk segala gangguan terror?” tanya Papah.


“Iya, Om,” jawab Fikri.


Tak lama kemudian pesanan merekapun datang.

__ADS_1


“Ayo Om Tante, kita makan dulu. Mumpung masih panas,” kata Fikri.


Merekapun menikmati hidangan yang di sediakan. Setelah selesai makan malam, mereka berjalan-jalan di Arab Street menikmati suasana malam di Singapura. Para bodyguard berjalan sambil memperhatikan di sekeliling mereka.


Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil fikri.


“Fikri,” panggil seseorang.


Fikri menoleh ke arah suara. Seorang perempuan cantik dengan pakaian yang elegant mendekati Fikri.


“Hai, Fikri. Apa kabar?” sapa perempuan itu sambil mengulurkan tangan kepada Fikri.


“Alhamdullilah, baik,” jawab Fikri sambil menjabat tangan perempuan itu. Perempuan itu mendekati Fikri hendak cipika cipiki dengan Fikri. Namun Fikri menghindar dan menjauhkan diri dari perempuan itu.


“Kamu sekarang sudah berubah,” kata perempuan itu.


“Raina, kenalkan ini Nessa. Dia calon istri saya,” kata Fikri kepada perempuan itu.


Papah dan Mamah kaget mendengarkan perkataan Fikri. Nessa pernah diperkenalkan ke orang tua Fikri hanya sebagai kekasih Fikri bukan calon istri. Nessa menjabat tangan Raina.


“Dan ini Mamah dan Papah Nessa,” kata Fikri.


“Hallo Om Tante,” sapa Raina sambil menganggukan kepala kepada Mamah dan Papah.


“Kamu bukan hanya berubah, selera kamu juga berubah,” kata Raina.


“Iya, dong. Kan berubah untuk menuju kebaikan,” jawab Fikri.


“Mari Om, Tante, Nessa. Saya pamit dulu,” kata Raina kepada Nessa dan orang tuanya.


“Dah Fikri, sampai berjumpa lagi,” Raina melambaikan tangannya kepada Fikri.


Raina meninggalkan Fikri.


“Siapa tuh, Pak? Mantan?” tanya Nessa sambil berbisik ketika mereka berjalan menyusuri Arab street. Papah dan Mamah berjalan di belakang mereka.


“Mantan yang sudah dibuang,” jawab Fikri sambil berjalan di sebelah Nessa.


Nessa menoleh ke Fikri


“Hmm, masa?” tanya Nessa tidak percaya.


“Memangnya dia sampah?” tanya Nessa sekali lagi.


“Eh, nggak percaya. Nanti kalau ketemu dia lagi, tanya aja sendiri,” jawab Fikri dengan tenang.


“Berharap banget ketemu dia lagi, ya?” tanya Nessa.


“Nggak, sayang. Kan sudah ada kamu,” jawab Fikri tangannya merangkul bahu Nessa. Namun Nessa cepat-cepat menghindar.


“Jaga jarak,” kata Nessa sambil merentangkan tangan kirinya agar Fikri tidak mendekatinya.

__ADS_1


“Yah, sayang. Ini kan malam terakhir kita berdua. Besok kamu pulang ke Indonesia,” kata Fikri dengan kecewa.


“Sssttt. Nanti Mamah dan Papah mendengar,” bisik Nessa sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir, agar Fikri diam.


“Biarkan saja. Kan mereka sudah tau kita calon suami istri,” bisik Fikri sambil melirik ke arah orang tua Nessa.


Orang tua Nessa sedang memperhatikan tingkah Fikri dan Nessa dari belakang.


“Pah, apa Mamah tidak salah dengar dengan apa yang dikatakan Fikri?” bisik Mamah sambil memperhatikan Nessa dan Fikri.


“Yang mana?” tanya Papah.


“Yang memperkenalkan Nessa sebagai calon istrinya,” jawab Mamah sambil berbisik.


“Mungkin Fikri bercanda, agar perempuan itu tidak mendekati dirinya,” kata Papah.


“Tapi kelihatannya Fikri mengatakan dengan serius. Mamah kirain selama ini Fikri hanya bercanda ketika mengatakan Nessa menjadi kekasihnya. Mamah tidak mengira kalau ternyata Fikri serius sama Nessa,” bisik Mamah.


“Tuh lihat saja tingkah mereka berdua seperti sepasang kekasih,” bisik Mamah.


“Biarkan saja, Mah. Fikri kan masih bujangan, jadi wajar kalau dia mendekati anak kita,” kata Papah.


“Jadi Papah setuju kalau Nessa menikah sama Fikri?” tanya Mamah.


“Kalau memang jodoh Nessa mau diapakan lagi? Masa mesti Papah larang?” tanya Papah.


“Sudah ah, tidak usah dipikirkan. Kita doakan saja mudah-mudahan anak kita diberikan jodoh yang terbaik,” ucap Papah.


“Aamiin ya robbal alamin,” ucap Mamah.


Mamah dan Papah berjalan mengikuti dua insan sedang berbicara.


***


Keesokan harinya Nessa dan kedua orang tuanya pulang ke Indonesia. Mereka naik pesawat jam satu siang waktu Singapura. Fikri mengantarkan mereka ke bandara. Papah dan Mamah memberikan kesempatan kepada Nessa dan Fikri untuk berbicara berdua.


“Kalau sudah sampai telepon saya, ya! Kamu liburan dulu di Jakarta selama seminggu, setelah itu baru kembali ke Bandung,” kata Fikri.


“Baik, Pak,” jawab Nessa.


“Kalau berangkat kemana-mana cari tukang ojek yang bisa dipercaya. Jangan naik ojek sembarangan!” kata Fikri.


“Kalau naik taksi online, boleh?” tanya Nessa.


“Tidak boleh! Bolehnya naik taksi konvensional,” jawab Fikri.


“Tidak boleh pergi dengan laki-laki lain!” kata Fikri.


“Supir ojek dan supir taksi kebanyakan laki-laki,” kata Nessa.


“Kecuali supir taksi dan supir ojek,” ralat Fikri.

__ADS_1


__ADS_2