Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
27. Telepon Di Malam Hari.


__ADS_3

Nessa mematikan PC lalu membereskan meja kerjanya. Ia bersiap-siap untuk pulang. Setelah mejanya rapih kembali, Nessa menghampiri ruangan Fikkri dan mengetuk pintunya.


“Masuk,” jawab Fikri dari dalam ruangannya.


Nessa membuka pintu ruang kerja Fikri.


“Ada apa, Nes?” tanya Fikri sambil fokus ke laptopnya.


“Bapak sudah tidak memerlukan apa-apa lagi?” tanya Nessa.


Fikri mengalihkan pandanganya dari laptopnya ke Nessa.


“Memangnya kenapa? Kamu mau apa?” tanya Fikri.


“Saya mau pulang, Pak. Sekarang sudah jam lima sore,” jawab Nessa.


“Ayo, saya antar pulang,” kata Fikri.


“Eh, tidak usah. Saya naik ojek,” kata Nessa.


“Jangan suka membantah. Pokoknya saya antar pulang!” kata Fikri.


Fikri mematikan laptopnya. Lalu dimasukkan ke dalam tas laptop dan dibawa oleh Fikri.


“Biar saya bawakan laoptopnys,” kata Nessa.


Fikri memberikan laptop ke Nessa.


“Nanti malam harus lembur untuk memeriksa laporan hotel di Bali dan perusahaan di Singapura,” kata Fikri ketika mereka berjalan menuju liff. Nesa menekan tombol liff dan pintu liff terbuka. Mereka masuk ke dalam liff.


“Kenapa tidak cari asisten?” tanya Nessa sambil menekan tombol turun.


“Yang satu untuk hotel di Bali dan satu lagi untuk perusahaan di Singapura. Kalau saya kan khusus untuk di perusahaan ini,” kata Nessa.


“Nanti saja, kalau sekarang belum perlu. Kan masih ada kamu. Saya nggak mau kedekatan kita berdua terganggu dengan kehadiran asisten baru” jawab Fikri.


Akhirnya liff sampai juga ke lantai dasar. Nessa dan Fikri keluar dari liff. Pak Eno sudah menunggu mereka di depan lobby. Fikri dan Nessa masuk ke dalam mobil.


“Pak, ke tempat kos Nessa dulu,” kata Fikri kepada Pak Eno.


“Baik, Pak,” jawab Pak Eno. Mobil pun meluncur meninggalkan halaman kantor.


Perjalananan menuju ke tempat kos Nessa cukup lama karena jalanannya macet. Sebetulnya tempat kos Nessa tidak jauh dari kantor, kalau naik ojek hanya lima menit. Namun karena jalanannya macet sehingga ditempuh lima belas menit.


Pak Eno menghentikan mobil di depan tempat kos Nessa.


“Tempat kos kamu khusus perempuan?” tanya Fikri sambil melihat ke arah tempat kos Nessa.


“Iya,” jawab Nessa.


“Ada tidak laki-laki yang menginap?” tanya Fikri.


“Tidak ada. Ibu kosnya galak. Kenapa Bapak tanya begitu?” tanya Nessa curiga.


“Hanya ingin tau saja,” jawab Fikri.

__ADS_1


“Awas kalau coba-coba mau menginap di sini!” ancam Nessa.


“Tidak. Siapa yang mau menginap di sini? Saya kan cuma tanya saja,” kata Fikri.


“Saya takut kalau ada laki-laki yang menginap di sini, tiba-tiba masuk ke kamar kamu,” kata Fikri.


“Laki-laki tidak boleh menginap di sini. Bahkan penjaga kos-kosan juga tidak boleh masuk ke dalam tempat kos,” kata Nessa.


“Baguslah. Berarti aman,” kata Fikri.


“Saya turun ya, Pak. Assalamualaikum,” ucap Nessa.


“Eh, ini belum,” Fikri mengulurkan telapak tangannya agar dicium Nessa.


Nessa memukul telapak tangan Fikri.


“Belum halal, tidak boleh,” jawab Nessa.


Nessa keluar dari mobil Fikri.


“Waalaikumsalam,” jawab Fikri ketika Nessa keluar dari mobil.


Pak Eno tertawa memlihat Fikri yang dipukul tangannya oleh Nessa.


“Yang ini beda ya, Pak?” tanya Pak Eno melalui rear-vision mirror.


“Iya, galak banget. Susah untuk ditaklukkan,” jawab Fikri.


Begitulah kesaehariannya Fikri dan Nessa. Fikri yang selalu berusaha menunjukkan cinta dan kasih sayang sedangkan Nessa tidak percaya dengan rayuan gombal yang dikatakan oleh Fikri.


Nessa sedang tertidur dengan lelap. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung terbangun dari tidurnya.


“Siapa sih yang menggangu malam-malam?” tanya Nessa dengan kesal.


Dengan mata yang mengantuk Nessa mengambil ponsel dari atas nakas. Ia melihat nama Fikri di layar ponselnya.


“Ada apa malam-malam begini menelepon? Ganggu orang tidur saja,” kata Nessa.


Nessa menjawab telepon dari Fikri. Kalau tidak ia jawab pasti ponselnya tidak akan berhenti berdering.


“Assalamualaikum,” ucap Nessa menjawab panggilan Fikri.


“Waalaikumsalam. Nes, kamu siap-siap. Kita pergi ke Singapura sekarang juga!” ujar Fikri seperti tergesah-gesah.


“Hah? Tidak salah, Pak? Sekarang jam berapa?” tanya Nessa.


Rasa kantuknya tiba-tiba hilang mendengar perkataan Fikri.


“Jam sepuluh malam. Ayah tiba-tiba pingsan di kamar mandi. Sampai sekarang belum sadarkan diri,” jawab Fikri.


“Cari tiket pesawat kemana malam-malam begini? Belum tentu bisa dapat tiket,” tanya Nessa kebingungan.


“Saya minta tolong ke Kang Prima untuk mencarikan pesawat yang disewakan. Pokoknya sekarang kamu siap-siap. Begitu pesawatnya dapat, saya langsung jemput kamu,” jawab Fikri.


“Baik, Pak. Saya akan segera bersiap-siap,” jawab Nessa.

__ADS_1


“Assalamualaikum,” ucap Fikri.


“Waalaikumsalam,” jawab Nessa.


Nessa langsung bangun dari tempat tidur dan menyiapkan semua pakaian dan barang yang akan ia bawa.


Empat puluh lima menit kemudian, Fikri menelepon Nessa kembali.


“Assalamualaikum,” ucap Nessa.


“Waalaikumsalam. Saya sudah berada di depan tempat kos kamu,” kata Fikri.


“Baik, Pak. saya akan segera keluar,” kata Nessa.


Nessa membawa kopernya keluar dari kamarnya. Sebelum ia menemui Fikri ia pamit dulu ke penjaga di tempat kosnya karena mendadak ia harus berangkat ke Singapura. Setelah pamitan dengan penjaga, Nessa langsung menghampiri mobil Fikri yang sudah menunggu di depan tempat kosnya. Seorang supir keluar dari mobil Fikri, namun supir itu bukan Pak Eno. Nessa memberikan kopernya kepada supir untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Sedangkan ia masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil sudah ada Fikri yang sudah menunggunya. Nessa duduk di sebelah Fikri. Kemudian supir masuk kembali ke dalam mobil.


“Langsung ke bandara, Pak,” kata Fikri.


“Baik, Pak,” jawab supir. Mobil pun meluncur meninggalkan tempat kos Nessa.


Sesampai di bandara mobil berhenti di depan terminal keberangkatan VIP. Fikri dan Nessa turun dari mobil dan membawa koper mereka. Di depan terminal keberangkatan VIP sudah ada Prima yang sedang menunggu mereka. Fikri menyalami Prima lalu mereka saling berpelukan.


“Terima kasih, Kang. Akang sudah mau membantu Fikri,” ucap Fikri.


“Semoga perjalanannya lancar sampai tujuan,” ucap Prima.


“Aamin,” jawab Fikri.


“Cepat masuk, pesawatnya sudah siap,” kata Prima.


“Titip Papah, Kang,” kata Fikri.


“Iya, kamu tenang saja,” jawab Prima.


Fikri dan Nessa masuk ke ruang VIP, seorang pramugari menyambut mereka. Merekapun langsung masuk ke dalam pesawat terbang.


Nessa menoleh ke Fikri. Laki-laki itu memandang ke luar jendela. Ia terlihat begitu bersedih. Sangat berbeda dari biasanya yang selalu saja mengodanya


“Apa Bapak baik-baik saja?” tanya Nessa.


“Aku takut ada apa-apa dengan Ayah,” jawab Fikri sambil memandang ke jendela yang gelap gulita.


Nessa memegang tangan Fikri.


“Semoga semuanya baIk-baik saja,” kata Nessa.


“Aamiin. Terima kasih,” jawab Fikri.


Pukul dua dini hari waktu Singapura pesawat yang ditumpangi Fikri mendarat. Fikri dan Nessa keluar melalui bandara kedatangan VIP. Mereka dijemput oleh supir relasi Pak Taufik. Fikri tidak menyuruh Pak Sam untuk menjemput mereka. Karena Fikri menugaskan Pak Sam untuk menunggu di rumah sakit sampai ia datang.


Fikri dan Nessa langsung menuju ke ME hospital. Mobil yang ditumpangi Fikri dan Nessa berhenti di depan lobby rumah sakit. Supir mengeluarkan koper Fikri dan Nessa dari dalam bagasi.


“Terima kasih, Pak,” ucap Fikri sebelum supir itu pergi. Supir menjawab dengan anggukan kepala.


Fikri dan Nessa berjalan masuk ke dalam rumah sakit sambil mendorong koper mereka. Mereka langsung menuju ke ruang ICU tempat Mr. Lee dirawat.

__ADS_1


__ADS_2