Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
55. Melahirkan.


__ADS_3

Nessa dan mamah berjalan keluar dari dapur.


“Kamu sudah mandi, belum?” tanya mamah.


“Belum,” jawab Nessa.


“Sekarang kamu mandi terus sarapan. Setelah itu kita ke rumah sakit,” kata mamah.


“Iya, Mah,” jawab Nessa,


Kemudian Nessa dan mamah menuju ke kamar masing-masing.


Setelah selesai sarapan mereka pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Nessa terus saja merintih sambil beristigfar karena perutnya terasa mules sekali.


“Sabar ya, sayang. Sebentar lagi sampai,” kata mamah sambil mengusap-usap perut Nessa.


Fikri menoleh ke belakang.


“Sakit sekali?” tanya Fikri kepada Nessa.


“Iya, A,” jawab Nessas ambil menahan sakit perut yang amat sangat.


“Pak Sam, lebih cepat lagi jalannya!” kata Fikri kepada Pak Sam.


“Iya, Tuan,” jawab Pak Sam.


“Sudah Fikri, jangan terlalu kencang. Nanti berbahaya,” sahut mamah.


Fikri berpikir benar apa kata mertuanya jika mereka ngebut bukan hanya Nessa yang masuk rumah sakit tapi mereka semua bisa masuk rumah sakit.


“Mah, celana Nessa basah. Tapi Nessa nggak pipis,” kata Nessa.


Mamah mengangkat gaun Nessa, Ia melihat air yang mengalir di kaki Nessa.


“Astagfirullahaladzim. Ini air ketuban,” kata mamah.


Fikri langsung menengok ke belakang.


“Air ketuban? Jadi bagaimana, Mah?” tanya Fikri dengan cemas.


“Entah merebas atau pecah air ketubannya. Tapi kalau dilihat volume air yang keluar sepertinya merembas,” jawab mamah.


“Bayinya dalam keadaan bahaya, Mah?” tanya Fikri.


“Mudah-mudahan bayi dalam keadaan baik-bayi saja,” jawab mamah.


“Sudah kamu jangan cemas. Biar Pak Sam menyetir dengan tenang,” kata mamah.


Akhirnya sampailah mereka di rumah sakit. Fikri memapah istrinya menuju ke ruang bersalin. Nessa menolak untuk naik kursi roda, karena ia masih sanggup berjalan walaupun kontraksi terjadi beberapa menit sekali.


Sesampai di ruang bersalin mereka langsung ditangani oleh para perawat. Mamah menunggu di luar. Fikri yang menemani Nessa di ruang bersalin. Tak lama kemudian dokter kandungan yang menangani Nessa datang dan persalinanpun dimulai.


Beberapa menit kemudian lahirlah anak Fikri dan Nessa, seorang bayi laki-laki.


“Alahamdullilahirobbil alamin,” ucap Nessa dan Fikri ketika melihat bayi mereka lahir dengan selamat.


Suster menmberikan bayi kepada Fikri. Fikri menggendong bayinya. Ia terharu bercampur bahagia ketika menggendong bayinya. Kemudian ia mengadzani bayinya, setelah itu ia mengembalikan bayi kepada suster untuk dibersihkan dan diperiksa kesehatannya.


Fikri mendekati istrinya lalu mengecup kening istrinya.

__ADS_1


“Terima kasih, sayang. Kamu sudah bersusah payah melahirkan anak kita,” ucap Fikri.


Mendengar Nessa sudah melahirkan Pak Taufik dan Ibu Dira langsung terbang ke Singapura. Papah dan Dafa juga langsung pergi ke Singapura. Ikhsan tidak ikut karena harus bekerja.


Sekarang mereka sedang berkumpul di rumah sakit menjenguk Nessa. Mereka sedang berada di kamar inap Nessa.


“Nes, siapa nama bayinya?” tanya Ibu Dira sambil menggendong cucunya.


“Namanya Rifki Setiawan Fikri,” jawab Nessa.


“Rifki,” Ibu Dira memanggil cucunya sambil mencium-cium pipi cucunya.


Setelah Nessa pulang dari rumah sakit dan semua orang kembali ke Indonesia, giliran Ima dan Prima datang ke Singapura. Karena Ima harus berbelanja untuk keperluan toko.


“Kalian kapan kembali ke Indonesia?” tanya Prima ketika sedang makan malam di rumah Fikri.


“Nanti kalau bayi sudah berusia tiga bulan,” jawab Fikri.


“Lama amat,” ujar Prima.


“Memangnya Akang mau apa?” tanya Fikri kepada Prima.


“Akang mau menikah dengan Ima. Tapi kata Ima tunggu sampai Nessa pulang,” jawab Prima.


“Alhamdullilah, akhirnya Akang mau menikah juga,” ucap Nessa.


“Iya, Nes. Akang ingin ada yang menemani Akang,” jawab Prima.


“Bagaimana dengan kamu, Ma? Apa kamu sudah siap menjadi istri Akang Prima?” tanya Nessa kepada Ima.


“Insyaallah, Teh. Ima siap,” jawab Ima.


Ima langsung menoleh ke Prima.


“Jangan didengar, Ma! Fikri memang suka ngomporin,” kata Prima.


“Fikri, jangan begitu! Akang sudah cape ngebujuk Ima,” sahut Prima kepada Fikri.


“Biar dia nggak kaget kalau sudah jadi istri Akang,” jawab Fikri.


“Ima,” kata Nessa sambil memegang tangan Ima.


“Dengarkan Teteh. Memang begitu di dunia kerja. Tidak bisa dipungkiri jika suami kita akan sering bertemu perempuan –perempuan cantik. Tapi kita harus tetap memberikan kepercayaan kepada mereka. Sambil kita berdoa agar mereka tidak menyeleweng dan tetap setia dengan kita,” lanjut Nessa.


“Tapi kalau sudah dikasih kepercayaan dan selalu di doakan masih nyeleweng juga, nyunyutnya kasih cengek dan balsam biar kepedesan,” ujar Nessa.


“Nyunyut itu apa, Teh?” tanya Ima dengan polos.


“Itu loh, masa kamu tidak tau?” jawab Nessa.


“Nessa, dia masih polos,” sahut Prima.


“Tidak diajarin yang tidak-tidak kan sama Akang?” tanya Nessa.


“Tidaklah,” jawab Prima.


“Akang mana berani ngajarin yang tidak-tidak ke Ima. Dia takut sama kopi buatan bibi,” bisik Fikri.


“Memang kenapa?” tanya Nessa dengan berbisik.

__ADS_1


“Takut kopinya dikasih sianida,” bisik Fikri.


***


Empat tahun kemudian.


Dua orang anak kecil sedang bermain-main di makam. Mereka sedang asyik mencabuti rumput yang tumbuh di tanah. Sedangkan orang tua mereka sedang mencabuti tanaman liar yang tumbuh di makam.


“Mama, inyi makam ciapa?” tanya gadis kecil yang berusia dua tahun.


Ia sedang jongkok di sebelah mamahnya. Ia adalah Syifa Neri Fikri, putri dari Fikri dan Nessa.


“Makam nenek dan kakek,” sahut anak laki-laki yang berusia empat tahun. Ia adalah Rifki Setiawan Fikri. Putra sulung pasangan Fikri dan Nessa.


“Kok makamnya becal?” tanya Syifa melihat gundukan tanah yang begitu tinggi.


“Ada nene dan kakenya, nga?” tanya Syifa.


Syfa berdiri dan mengetuk batu nisan Mrs. Lee.


“Tok tok tok. Acalamualaicum,” ujar Syifa.


“Syifa, Nenek dan kakek sudah tidak ada. Jasad merekapun sudah hancur,” sahut Rifki.


Rifki sudah mengerti karena sering diajak oleh orang tuanya untuk mengunjungi makam kakek dan neneknya. Dan ia juga sering melakukan hal yang sama seperti Syifa. Namun Fikri dan Nessa tidak bosan-bosannnya menerangkan kepada Rifki.


Fikri mendekati Nessa.


“Sudah selesai, Mah?” tanya Fikri kepada Nesa.


“Sudah, Pah,” jawab Nessa.


Fikri membantu Nessa berdiri karena perutnya besar. Nessa sedang hamil lima bulan. Merekapun berjalan meninggalkan makam.


“Mamah gendong,” ujar Syifa sambil mengangkat ke dua tangannya.


Mendengar Syifa meminta digendong Fikri pun berbalik.


“Teteh digendong sama Papah saja, ya. Di perut Mamah kan ada ade bayi,” kata Fikri.


Syifa mengangguk, lalu Fikri menggendong Syifa. Mereka berjalan menuju ke mobil mereka.


.


The End


.


.


Kepada semua pembaca novel Sekretarisku Perawan Tua, Deche ucapkan banyak-banyak terima kasih atas perhatian dan dukungannya.


Tanpa dukungan dari pembaca novel ini tidak berarti apa-apa.


Sekali lagi Terima kasih pada semuanya. Semoga Allah membalas semua kebaikan para pembaca novel ini.


Sampai bertemu di novel Deche yang lain.


Bye bye

__ADS_1


__ADS_2