Sekretarisku Perawan Tua

Sekretarisku Perawan Tua
16. Syal


__ADS_3

Fikri memasuki ruang cctv. Semua orang yang berada di ruang cctv kaget keika Fikri masuk ke dalam ruangan dengan tiba-tiba.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya petugas cctv.


“Saya minta rekaman cctv sekitar kamar llima kosong lima menuju ke tangga darurat dan semua cctv pintu keluar tangga darurat,” kata Fikri kepada petugas ruang cctv yang bernama Karno.


Karno membantu mencarikan cctv yang diminta Fikri. Akhirnya mereka menemukan rekaman cctv yang diminta oleh Fikri. Namun di rekaman yang keluar dari tangga darurat orang itu sudah tidak memakai topi dan penutup wajah. Bahkan gaya pakaiannya sudah berubah agar tidak terlihat seperti orang yang sama. Namun warna bajunya tetap sama.


“Itu jalan menuju ke mana?” tanya Fikri kepada Karno.


“Jalan menuju ke loker karyawan,” jawab Karno.


“Kamu tau nama dia?” Fikri menunjuk ke gambar orang yang ia curigai.


“Kurang jelas, Pak. Tapi sepertinya orang itu bernama Ajie,” jawab Karno.


“Oke, terima kasih,” ucap Fikri.


Fikri dan Nessa keluar dari ruang cctv menuju ke tempat locker sekaligus tempat ganti baju bagi para karyawan.


Kedatangan Fikri yang tiba-tiba membuat semua orang yang berada di ruang locker terkejut. Apalagi sebentar lagi waktunya penggantian shift karyawan. Sebelum tersangka lepas, mereka harus memeriksa locker mereka sekarang juga.


“Saya sedang mencari sebuah syal dengan merek ini,” Fikri memberikan tangkap layar sebuah video cctv. Di tangkap layar itu memperlihatkan wajah seseotrang yang di tutup menggunakan topi dan setengah wajahnya di tutup oleh syal. Namun naas merek dari syal itu terlihat oleh kamera.


“Tapi syal seperti itu banyak yang punya, Pak. Karena harganya murah,” sahut salah seorang pegawai.


“Tidak apa-apa, saya hanya ingin tahu,” jawab Fikri.


Tiba-tiba seorang karyawan keluar dari kamar mandi dan ikut bergabung dengan temannya yang lain. Wangi sabun itu menusuk ke indera penciuman Nessa.


“Kamu baru mandi?” tanya Nessa kepada karyawan itu.


“Iya, Bu,” jawab karyawan itu.


“Ngapain kamu mandi malam-malam?” tanya Nessa curiga. Padahal seluruh ruangan di hotel ini ber AC.


“Gerah, Bu. Udaranya panas,” jawab pegawai itu.


“Oh, begitu ya? Sekarang bisa tolong buka locker kamu,” kata Nessa.


Karyawan itu kaget mendengarnya.


“Untuk apa, Bu?” tanya karyawan itu seolah-olah keberatan.


“Saya mau mencari sesuatu,” jawab Nessa.


Akhirnya karyawan itu membuka loker miliknya. Ketika ia sedang membuka kunci lokernya Nessa melihat syal yang nenggantung di saku celana karyawan itu. Nessa memberi tanda ke Fikri dan menunjuk ke saku celana orang itu.


“Itu syal punya kamu?” tanya Fikri kepada karyawan itu.

__ADS_1


“Iiiya, Pak,” jawab karyawan itu dengan gugup.


Fikri membuka ponselnya dan memperlihatkan gambar tangkap layar kepada orang itu.


“Ini kamu, bukan?” tanya Fikri.


Orang itu menelan ludah ketika melihat gambar yang diperlihatkan oleh Fikri. Nessa langsung menarik syal dari saku orang itu. Dan langsung melebarkan syal itu. Label syal yang ada di ponsel Fikri dan syal milik karyawan itu sama.


Wajah karyawan tersebut langsung pucat.


“Nama kamu Ajie, kan?” tanya Fikri.


“Bbbetul, Pak,” jawab Ajie gugup.


Semua orang yang berada di ruangan itu diam. Mereka tidak berani berbicara apa-apa.


“Siapa yang menyuruh kamu untuk masuk ke kamar asisten saya?” tanya Fikri dengan tajam.


“Bbbukan siapa-aiapa, Pak,” jawab Ajie.


“Baiklah, sekarang kamu saya pecat. Dan saya pastikan kamu tidak akan bisa bekerja dimanapun juga,” kata Fikri.


Ajie langsung berlutut di depan Fikri sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Ampun jangan pecat saya, saya hanya disuruh. Lagipula saya tidak mengambil apapun di kamar asisten Bapak. Karena tidak ada apa-apa di dalam kamarnya,” kata Ajie.


“Siapa yang menyuruh kamu?” tanya Fikri sekali lagi.


“Kalau saya tidak punya wewenang di sini, kenapa dia takut berkas itu jatuh ke tangan saya?” tanya Fikri.


Ajie hanya diam.


“Dengarkan semua! Saya minta kalian tidak memberitahu teman kalian tentang kejadian ini. Saya tidak ingin ada yang tau selain kalian. Terutama Pak Robin. Sampai saya bisa menemukan bukti untuk saya serahkan ke pihak yang berwajib. Mengerti?!” kata Fikri.


“Mengerti, Pak,” jawab semua yang ada di ruangan itu.


“Dan kamu, kamu saya maafkan. Tapi jangan mengulangi lagi perbuatan seperti itu!” kata Fikri kepada Ajie.


“Terima kasih, Pak,” ucap Ajie sampai menyembah-nyembah Fikri.


“Sekarang kalian boleh bubar!” kata Fikri.


Fikri dan Nessa keluar dari kamar ganti dan kembali ke kamar mereka.


“Ide kamu cemerlang juga,” puji Fikri ketika di dalam kamar.


Nessa naik ke atas kursi untuk mengambil permen karet yang menempel pada kamera cctv.


“Mau ngapain, kamu?” tanya Fikri melihat Nessa naik ke atas kursi sambil berusaha menggampai permen karet yang menempel namun tidak sampai.

__ADS_1


“Mau ambil permen karet,” jawab Nessa.


“Kamu turun, saya yang ambilkan,” kata Fikri.


Nessa turun dari kursi. Gantian Fikri yang naik ke atas kursi.


“Tolong pegang kursinya,” kata Fikri.


Nessa memegang kursi agar Fikri tidak jatuh. Fikri berdiri di pinggiran kursi sehingga bisa berdiri lebih tinggi lagi. Dan Fikri bisa mengambil permen karet yang menempel pada kamera cctv.


“Alhamdullilah, akhirnya bisa,” ucap Nessa.


Fikri turun dari kursi dan membuang permen karet ke tempat sampah.


“Sekarang kamu tidur! Besok kita lanjutkan kerjanya,” kata Fikri.


“Baik, Pak,” jawab Nessa.


Fikri meninggalkan kamar Nessa lalu menelepon Pak Warino. Ia meminta dikirim beberapa orang staf untuk memeriksa berkas-berkas hotel. Sedangkan tugas Fikri dan Nessa terus menyelidiki pegawai-pegawai hotel yang telah membuat kecurangan.


***


Fikri dan Nessa berjalan menuju ke dining room untuk sarapan pagi. Ketika hendak masuk ke ruangan dining room mereka bertemu dengan Boyke dan istrinya bernama Hanna.


“Nessa, kenalkan ini istriku Hanna,” kata Boyke.


Nessa menyalami Hanna.


“Sudah hamil berapa bulan, Teh?” tanya Nessa.


“Empat bulan,” jawab Hanna.


Mereka bersama-sama mengambil makanan yang sudah disediakan di dining room. Mereka duduk satu meja.


“Tadi malam ada kejadian apa? Kenapa kalian terburu-buru?” tanya Boyke di sela-sela sarapan mereka.


“Oh, itu petugas housekeeping yang disuruh mengantarkan laundry milik Pak Fikri salah masuk kamar. Dia masuk ke kamar Nessa,” jawab Nessa berbohong. Ia tidak ingin keributan tadi malam mengganggu kenyamanan tamu hotel.


“Loh, kok bisa?” tanya Boyke.


“Kami tukaran kamar. Lupa kasih tau ke petugas housekeeping,” jawab Nessa.


“Lalu darimana kalian tau kalau ada petugas housekeeping masuk ke kamar Nessa?” tanya Boyke curiga.


“Dari cctv. Nessa lupa memberitahu kalau Pak Fikri adalah anak angkat pemilik hotel ini,” jawab Nessa.


“Oh, anak angkat Mr. Lee,” kata Boyke.


“Akang kenal dengan Mr. Lee?” tanya Nessa.

__ADS_1


“Tidak. Hanya saja semua orang tau kalau hotel ini milik Mr. Lee pengusaha dari Singapura,” jawab Boyke.


__ADS_2